Saturday, 21 February 2015

,

Selain program sosial, program Heritage juga menjadi prioritas Gamananta di tahun 2015. Karena heritage memiliki makna yang sangat luas, Gamananta mempersempit fokus agar bisa dijalankan. Fokus heritage yang akan dikerjakan adalah mengenai kuliner khas dan bangunan bersejarah (cagar budaya) Malang.
,

Program sosial merupakan salah satu program prioritas komunitas Gamananta pada tahun 2015 ini. Yang menjadi fokus adalah bidang pendidikan. Belajar dari pengalaman pada pertengahan 2014 lalu, Gamananta sepakat untuk melanjutkan aksi di bidang pendidikan. Sasarannya masih tetap, yaitu para siswa-siswi Madrasah Ibtidaiyah (MI) Al Ihsaan, Lawang, Kabupaten Malang.

Setelah tahun lalu pernah berkesempatan menggelar kelas motivasi dalam satu hari, dan menjadi bagian kepanitiaan dalam Hari Lahir (Harlah) Yayasan Al Ihsaan, Gamananta akan menambah beberapa kegiatan. Antara lain sebagai berikut:
  1. Pelatihan vertikultur sederhana, dengan penanggung jawab saudara Fahriansyah N. Affandi. Gamananta ingin mengajarkan para siswa-siswi MI Al Ihsaan tentang cara berkebun sederhana, salah satu teknik yang cukup mudah yaitu vertikultur.
  2. Peringatan hari-hari nasional. Dalam sebagian perayaan hari nasional, Gamananta ingin memperingatinya bersama para siswa-siswi MI Al Ihsaan.
  3. Darmawisata Sejarah, dengan penanggung jawab saudari Anita Wijayanti. Gamananta berniat mengajak beberapa perwakilan dari para siswa-siswi MI Al Ihsaan untuk berdarmawisata sejarah. Tujuannya antara lain Candi Singhasari agar mereka dapat belajar sejarah kejayaan Malang di masa lampau.
  4. Menggalakkan kembali ekstrakulikuler, antara lain seperti tari maupun pramuka. Salah satu ekstrakulikuler akan digawangi oleh Ahmad Fakhruddin Busthomy.
  5. Kelas profesi dan konseling, dengan penanggung jawab Citra C. Aprilia. Dalam kegiatan kelas profesi, akan diadakan pelatihan singkat bagi para anggota sebelum menjadi pengajar siswa-siswi MI Al Ihsaan. Sedangkan kegiatan konseling ditujukan kepada para siswa-siswi kelas 6 agar mereka diharapkan untuk tetap semangat belajar menghadapi Ujian Nasional (Unas) dan melanjutkan ke jenjang sekolah menengah.
Untuk keberlangsungan program sosial di bidang pendidikan ini, Gamananta tentu juga mengharapkan uluran angan dan tangan, hingga moral dan materi agar bisa berjalan lancar. Baik bagi anggota maupun non anggota yang memiliki kepedulian di dunia pendidikan anak, maka silakan segera menghubungi pengurus dan tim melalui komentar di bawah ini, atau kontak di media sosial yang dimiliki Gamananta (Facebook Group, Facebook Fan Page, Twitter). Kami tunggu kontribusinya! #AyoBudal!
,

Trip bertajuk “Jelajah Pesisir Pacitan” ini merupakan trip penutup di bulan Maret 2014, satu tahun lalu. Sebuah perjalanan mengunjungi kampung halaman salah seorang pendiri Gamananta, Rifqy Faiza Rahman. Trip ini juga merupakan prakarsanya. Adapun perjalanan yang berlangsung selama tanggal 28-31 Maret 2014 tersebut mengunjungi beberapa destinasi pantai indah di Pacitan, antara lain Pantai Soge di Jalan Lintas Selatan (JLS), Pantai Watu Karung, Pantai Srau, Pantai Banyu Tibo, Pantai Buyutan, dan Pantai Klayar.

Perjalanan dimulai pada tanggal 28 Maret 2014, di mana kami berkumpul di meeting point yang telah ditentukan, yaitu depan koperasi mahasiswa UB. Peserta kali ini berjumlah 15 orang, yaitu Rifqy (driver), Caca (driver), Rizky, Nufus, Anam, Mustofa, Muchlis (menyusul langsung ke Pacitan dari Cianjur), Fitrah (menyusul langsung ke Pacitan dari Sidoarjo), Siwi, Jeanni, Lita R., Anggrek, Uki, Fendi dan Yeni.

Sekitar pukul 21.30, kami dua mobil ini berangkat meninggalkan kampus. Rute awal yang dilalui adalah melalui kota Batu, Pujon, Ngantang, Kasembon, Kandangan, dan tembus ke jalan utama Jombang. Lalu lintas ternyata cukup padat, karena jelang tanggal merah. Sempat terjadi insiden kecil di daerah Perak, Jombang, ketika mobil yang disopiri Caca dituduh menabrak bagian belakang mobil Espass milik warga Surabaya. Saat itu memang sedang merayap melewati rel kereta api Perak. Padahal dari pandangan kami yang disopiri Rifqy, mobil Espass tersebut mundur sedikit karena sopir telat menginjak gas. Beruntung, insiden tersebut tidak berlanjut terlalu jauh dan kami sepakat untuk damai.

Lalu lintas yang cukup padat ini berlanjut hingga jalan raya Nganjuk. Memasuki Madiun, jalur relatif lancar dan sepi hingga melewati Ponorogo. Selepas Subuh, kami sudah memasuki Kabupaten Pacitan dan istirahat solat Subuh di sebuah masjid di depan kantor kecamatan Tegalombo, Pacitan. Dari sini, kota Pacitan masih sekitar 30 km lagi.

Sekitar 1,5 jam kemudian, kami tiba di kota Pacitan dan singgah sebentar di Pasar Minulyo, timur terminal Pacitan. Di sini kami belanja kebutuhan konsumsi untuk bekal camping di pantai. Dari Pasar Minulyo, kami kembali istirahat untuk sarapan di Arjowinangun.

Usai sarapan, kami kembali meluncur ke arah JLS, dan berhenti di Pantai Soge. Cukup lama kami berhenti di sini untuk sekadar istirahat dan berfoto ria, lalu melanjutkan perjalanan ke jembatan JLS, sekitar 1 km dari Pantai Soge. Dari JLS, kami putar balik ke arah kota dan meneruskan perjalanan ke Pantai Watu Karung, Kecamatan Pringkuku, sekitar 20 km dari pusat kota Pacitan.

Di atas tebing sisi barat Pantai Watu Karung

Kami tiba di Pantai Watu Karung sekitar pukul 2 siang. Saat itu Pantai Watu Karung relatif sepi, namun terlihat beberapa wisatawan asing yang sedang istirahat seusai berselancar di pantai. Pantai Watu Karung ini terkenal dengan ombaknya yang cocok untuk berselancar.Kontur pantai Watu Karung relatif landai dan pasir putih. Saat itu air laut sedang surut. Kami memilih berfoto di atas bukit sebelah barat dari pantai. Dari sini pemandangan sangat luas meskipun panas menyengat. Gugusan pulau karang di Watu Karung menyebabkan ombak tidak terlalu besar mendekati pesisir, sehingga kegiatan surfing dilakukan di sela-sela karang.

Puas di Pantai Watu Karung, kami kembali putar balik ke jalan awal dan menuju Pantai Srau. Di pertigaan menuju Pantai Srau, kami sementara berpisah. Mobil yang disopiri Caca menuju Pantai Srau terlebih dahulu untuk menentukan lokasi camp, sedangkan mobil yang disopiri Rifqy menuju ke Pasar Punung untuk menjemput Muchlis yang sudah tiba di sana. Dia menuju Pacitan dari Cianjur melalui Solo. Ketika sudah bertemu, kami kembali ke arah Pantai Srau dan menyusul mobil pertama.

Di Pantai Srau ini, kami menginap semalam dengan mendirikan dua buah tenda. Sebagian orang mempersiapkan makan malam dengan menu nasi, sayur sop, dan lauk tempe.

Malam itu, langit Pantai Srau sangat cerah dan penuh bintang. Rifqy dan Muchlis sempat mengabadikan jutaan bintang dalam kamera mereka.

* * *

Suasana pagi di Pantai Srau

Keesokan paginya, di hari ketiga tur, kami bergegas menyambut pagi dari atas karang. Lokasinya terletak di karang sisi barat pantai Srau 1. Di mana, di atasnya berdiri kerangka bangunan yang mangkrak. Kami mencari posisi untuk duduk dan bergaya.

Pagi itu sebenarnya mendung, namun ternyata matahari "mau" muncul dari peraduan. Di tengah-tengah asyik berfoto ria, Rifqy dan Uki menjemput Fitrah yang sudah tiba di terminal Bus Pacitan. Ia datang menyusul menggunakan bus langsung dari Surabaya.

Keceriaan saat memasak

Ketika semuanya sudah berkumpul lengkap, Ima selaku koordinator konsumsi mulai memberikan komando. Ia membagi tugas untuk menyiapkan menu sarapan. Rasanya tentu sangat mengasyikkan saat masak bersama dengan pemandangan lepas pantai dan angin khas pesisir. Semakin nikmat kala menu sarapan sudah siap disantap. Kami makan dengan penuh rasa kebersamaan.

Seusai sarapan, kami segera bersiap-siap. Mengemasi tenda dan perlengkapan pribadi lainnya. Tujuan kami selanjutnya adalah Pantai Banyu Tibo.

Saat perjalanan melintasi Goa Gong, jalan dipenuhi banyak kendaraan alias macet. Hal ini menyebabkan terjadinya antrean kendaraan yang mengular cukup panjang. Maklum, saat itu adalah akhir pekan. Banyak bus pariwisata yang datang demi berkunjung ke Goa Gong. Selepas Goa Gong, jalan kembali lengang.

Di pertigaan Pasar Kalak, kami belok kanan ke arah Widoro. Perjalanan ke Pantai Banyu Tibo ternyata tidak terlalu mudah, karena jalan sangat sempit (hanya muat satu mobil). Sehingga apabila berpapasan harus ada yang mengalah. Kami beruntung mendapatkan tempat parkir untuk dua mobil.

Foto bersama di depan aliran Banyu Tibo

Dinamakan Banyu Tibo karena terdapat aliran banyu (air) tawar yang tibo (jatuh/terjun) ke tepi pantai. Saat akhir pekan banyak pengunjung yang meramaikan pantai. Dan tentu berebut untuk mandi dan berbasah-basahan di bawah guyuran air terjun tersebut.  Banyu Tibo juga dikenal sebagai salah satu pantai yang bagus untuk produksi rumput laut.

Setelah puas berfoto ria, kami keluar dari kawasan Banyu Tibo. Menuju Pantai Buyutan yang tidak terlampau jauh dari Banyu Tibo, karena masih terletak dalam satu desa.

Harus puas berfoto dari atas pantai

Pantai Buyutan ini cukup unik. Karena untuk menuju ke tepi pantai, kita harus berjalan turun cukup curam dari tempat parkir. Sayang, karena keterbatasan waktu dan harus segera ke Pantai Klayar, kami hanya puas berfoto dari tempat parkir.

Hanya sebentar di Buyutan, kami segera meluncur ke pantai tujuan terakhir, yaitu Pantai Klayar. Ternyata di luar dugaan, juga terjadi antrean kendaraan pribadi menuju pantai. Kabarnya, tidak ada tempat parkir yang tersisa di Pantai Klayar saking ramainya. Kami hanya bisa memendam kekecewaan. Sempat terpikir untuk camp di Pantai Buyutan saja, namun diurungkan karena keterbatasan logistik.

Sayang sekali, Pantai Klayar yang menjadi destinasi terakhir dan diidam-idamkan sejak berangkat dari Malang, gagal dicapai. Akhirnya, kami memutuskan untuk kembali ke kota Pacitan dan melewatkan malam di alun-alun kota. Kami pun pulang ke Malang keesokan paginya. Sebagian besar dari kami masih menyimpan harapan semoga di lain waktu dapat kembali lagi ke Pacitan dan bermalam di Pantai Klayar.

Foto dan tulisan oleh: Rifqy Faiza Rahman 
,

Sebagai pengobat kerinduan terhadap olahraga pendakian gunung, Gamananta mengadakan pendakian bersama ke Pegunungan Putri Tidur. Sebelumnya, Gamananta pertama kali mendaki ke sana pada 7-9 November 2013 yang digawangi oleh Busthomy, Rifqy dan Angky. Cerita perjalanannya bisa dibaca DI SINI.

Kunjungan kedua Gamananta ke alam Pegunungan Putri Tidur berlangsung pada tanggal 11-12 Januari 2014. Durasi yang cukup singkat mengharuskan tim memulai pendakian sejak pagi pada hari pertama. Adapun anggota tim pendakian terdiri dari Rifqy, Mas Kurniawan, Rizky, Mustofa, Figur, Zaki, Anggrek, Lia, Zahro dan Numa.

11 Januari 2014
Hari pertama perjalanan, dimulai dengan belanja bahan konsumsi dan sebagian logistik di Pasar Karangploso. Semalam tim menumpang tidur di rumah anggota Gamananta, Uki, untuk mengumpulkan tenaga dan mengemas perlengkapan.

Setelah mendapatkan bahan konsumsi yang diinginkan, tim melajukan motor dengan kencang menuju basecamp Panderman di Toyomarto, Pesanggrahan, Batu. Perjalanan ditempuh selama kurang lebih sekitar 1 jam. Kami sempat mampir di sebuah warung untuk membeli nasi bungkus sebagai bekal sarapan yang dimakan di tengah perjalanan.

 Foto bersama sebelum memulai pendakian

Sekitar pukul 07.30, usai urusan administrasi beres, kami mulai berjalan. Menyusuri jalan yang sama ke arah Panderman, sebelum berbelok arah kanan di pertigaan terakhir yang mana ke kiri menuju Panderman. Sekitar 1,5 jam berjalan, kami berhenti di sebuah tanah datar yang teduh. Kami membuka bekal nasi bungkus untuk dimakan bersama. Tujuannya sebagai isi ulang energi sebelum melanjutkan perjalanan ke Sendang yang masih jauh.

 Pemandangan yang tersaji di awal pendakian

Trek selepas tempat kami istirahat untuk sarapan menanjak cukup panjang. Cukup menguras tenaga sebelum akhirnya kami masuk hutan yang relatif lebat dan alami. Trek di dalam hutan cenderung datar dan panjang.

 Tetap ceria di tengah istirahat

Awan mendung yang bergelayut semenjak memasuki hutan pun akhirnya menurunkan hujan ketika kami keluar hutan.

Trek kembali menanjak ketika memasuki areal Cemoro Kandang.Kami tetap berjalan dan agak ngebut agar tidak kedinginan. Agar sesampainya di Sendang, kami segera mendirikan tenda dan menghangatkan diri.

Akhirnya, setelah sekitar 9 jam berjalan dari basecamp, kami pun tiba di Sendang. Sebuah tempat perkemahan yang melimpah sumber air di tengah-tengah sabana hijau nan luas. Dari sini, puncak sudah terlihat dan hanya berjarak tak sampai sejam perjalanan. Puncak Siti Ingghil yang akan kami gapai esok pagi.

Agenda selanjutnya jelas, mendirikan tenda dan menyiapkan menu makan malam. Di Sendang, kami tidak sendirian. Ada juga rombongan pendaki dari kampus UIN Malang yang naik dari jalur Gadingkulon, Dau, Malang.

Ketika malam tiba, angin berembus semakin dingin. Memaksa kami mempercepat makan dan istirahat. Memulihkann tenaga setelah diguyur hujan selama perjalanan. Sebagian anggota tim, termasuk saya yang berada di tenda cowok memilih bermain kartu sejenak sebelum terlelap.

12 Januari 2014
Sekitar pukul 04.30, saya terbangun dan mulai membangunkan teman-teman untuk bersiap. Bersiap salat Subuh dan bergegas ke puncak. Karena ketika keluar tenda, cahaya matahari sudah mulai muncul.

Perjalanan ke puncak tidaklah lama. Hanya memakan waktu sekitar 30-45 menit berjalan normal tapi stabil tanpa banyak berhenti. Dengan trek yang sangat menanjak dan lumayan bikin lutut linu. Namun kelelahan yang dirasa terbayar lunas ketika kami tiba di puncak Siti Ingghil, puncak tertinggi Pegunungan Putri Tidur dengan angka 2.868 mdpl.

 Matahari terbit dari balik Pegunungan Tengger

Selain kami, juga terdapat pendaki yang naik dari Sirahkencong, Blitar. Kami menjadi saksi di mana matahari terbit dengan indah dari balik Pegunungan Tengger. Sesekali asap mengepul dari kawah Jonggring Saloka di puncak Mahameru.

Ditambah lagi pemandangan Gunung Arjuno dan Welirang yang disatukan dengan Gunung Kembar I dan II. Dan pesona pegunungan kawasan Ngantang, serta Gunung Kelud yang diselimuti kabut tipis.

 Mengibarkan bendera merah putih di puncak


Dengan pemandangan spektakuler demikian, tak heran jika di anatra kami seperti tak ingin kehilangan momen dengan banyak berfoto. Di semua sudut, tak ada yang tak indah. Kami sangat puas setelah menyambut pagi dari puncak.

Puas di puncak, kami segera turun dan kembali ke tenda. Menyiapkan sarapan sederhana dan berkemas. Sekitar pukul 11.00, kami mulai meninggalkan kawasan Sendang.

 Foto bersama sebelum perjalanan pulang

Ritme perjalanan kami lebih cepat dibandingkan saat berangkat. Tujuannya agar tidak terlalu sore setibanya di basecamp kembali. Meskipun hujan sempat mengguyur, tak menyurutkan kami berjalan cepat. Bahkan ketika sempat berjalan di atas genangan air semata kaki di dalam hutan sekalipun.

Hasilnya, setelah hampir 6 jam berjalan, kami tiba di basecamp lagi. Tanpa banyak membuang waktu, kami segera mengambil motor dan memilih salat Asar di masjid setempat. Langit sudah gelap ketika kami tiba di kos masing-masing, setelah sempat mampir makan malam bersama di sebuah rumah makan. Sebagai pelampiasan setelah terkuras fisik dan mental di tengah hutan Pegunungan Putri Tidur.

Foto dan tulisan oleh: Rifqy Faiza Rahman

Monday, 12 January 2015

,

Oleh: David D. L.
Foto: David D. L.

Prolog

Keinginan ini muncul tiba-tiba dalam perjalanan menuju Jakarta dari Lombok, Nusa Tenggara Barat. Sepulang dari pendakian Gunung Rinjani pada 20 Agustus 2013. Entah mengapa ada rasa penasaran mendalam untuk mendaki Gunung Kerinci. Padahal rasa lelah belum hilang. Semua karena statusnya sebagai berikut. Yaitu, dengan ketinggian puncaknya sekitar 3.805 meter dari permukaan laut (mdpl), menjadikannya sebagai gunung berapi tertinggi di Indonesia. Di atas Gunung Rinjani (3.726 mdpl) dan Gunung Semeru (3.676 mdpl).

Setelah sukses mendaki Gunung Semeru (yang didaki pada 26 – 30 Juni 2013) dan gunung Rinjani, saya memutuskan untuk wajib mendaki Kerinci pada akhir bulan Desember 2013. Sebab, saat itu adalah waktu libur panjang selama dua minggu, bagi saya yang berprofesi sebagai guru di sebuah SMA swasta di Jakarta. Saya mengajak dua orang bergabung, yaitu Muhammad Ridwan Barchowie (biasa dipanggil Ayie atau Nchek), yang berusia 20 tahun. Merupakan teman di komunitas Seruntul Pencinta Alam. Satu lagi Muhammad Nu'man DL (14 tahun), yang merupakan anak kandung saya.

Sebuah keputusan ekstrim. Mengapa? Pertama, kami bertiga belum pernah ada yang ke Gunung Kerinci. Sehingga info yang kami dapatkan hanya berasal dari internet. Juga dari diskusi kecil via internet dengan pendaki yang sudah pernah ke sana. Kedua, Nu'man, anak saya belum pernah sama sekali mendaki gunung dan punya penyakit asma yang kadang-kadang suka kambuh. Karena asma sangat sensitif dengan suhu dingin dan kelelahan yang sangat.

 Saat latihan fisik ke Gunung Gede 2.958 mdpl

Namun, saya lega karena saat mengajaknya mendaki Gunung Gede pada 15 Oktober 2013, Nu'man berhasil mencapai puncak. Seakan melengkapi hasil jerih payahnya saat melahap latihan fisik yang saya berikan di rumah.

Menuju Kersik Tuo dan Losmen Paiman
Hari Sabtu, tanggal 28 Desember pukul 12.00 WIB, kami bertiga berangkat dari Terminal Bus Rawamangun. Menggunakan bus Family Raya Ceria (FRC) jurusan Jakarta – Padang. Harga tiket per orang adalah Rp 360.000. Kami menggunakan bus karena di samping harga murah, juga untuk menikmati perjalanan darat. Melihat kota-kota di Sumatera yang kami lalui. Kebetulan baru kali ini kami ke Sumatera.

Normalnya hanya ditempuh dua hari, tetapi dalam perjalanan di kota Baturaja bus yang kami tumpangi mogok gara-gara mesin bermasalah. Terpaksa selama satu hari menunggu kedatangan spare part dan perbaikan mesin, karena spare part-nya berada di kota Jambi.

Akhirnya, pada hari Senin, 30 Desember, kami tiba di desa Kersik Tuo, Jambi. Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam, disambut dinginnya udara kaki Gunung Kerinci yang menusuk tulang. Padahal sudah pakai jaket tebal. Begitupun Nu'man dan Ayie merasakan hal yang sama. Saat itu saya berpikir, sekarang saja dinginnya begitu menusuk apalagi di puncak. Ya Allah, mudahkanlah hamba dan tim tiba di puncak dan turun dengan selamat. Begitu doa yang selalu saya ucapkan.

Losmen Paiman


Kami memilih losmen Paiman sesuai rekomendasi dari internet. Kata mereka, selain murah dan bersih, juga makanannya yang enak. Setelah dua kali bertanya pada penduduk setempat, akhirnya kami tiba di losmen  dengan lelah menyengat. Maklum, sudah duduk terus selama tiga hari perjalanan darat.

Saya berfoto dengan latar belakang Gunung Kerinci

Kami disambut ramah oleh ibu pemilik losmen. Si Ibu ternyata adalah anak dari Bapak Paiman selaku pemilik losmen yang sudah meninggal. Kebetulan masih ada satu kamar kosong yang bisa ditempati tiga orang. Alhamdulillah. Ibu mengatakan kami beruntung. Sebab, kamar tersebut sebenarnya sudah di-booking tapi tidak jadi.

Di akhir bulan Desember, losmen Paiman selalu penuh oleh para pendaki. Baik ke puncak Kerinci maupun ke Danau Gunung Tujuh untuk melihat keindahan alamnya. Semuanya untuk merayakan pergantian tahun.

Kami dikenai biaya sewa, termasuk makan dua kali sehari sebesar Rp 30.000 per orang. Kami tak banyak cakap dengan si Ibu, sebab mata dan tubuh sangat lelah. Setelah mandi dan solat, akhirnya kami bertiga tidur nyenyak.

Menunda Pendakian
Harusnya, hari ini, tanggal 31 Desember, mulai pukul 06.00 kami langsung melakukan pendakian Tetapi, urung dilakukan karena masih kelelahan. Mengapa pendakian harus dimulai pada pukul 6 pagi? Sesuai info, pendakian lebih baik dilakukan pukul 6 pagi, karena dibutuhkan waktu sekitar delapan jam mencapai Shelter 2. Sebuah tempat lapangan terbuka, di mana tenda bisa didirikan sebelum summit attack. Shelter 2 mampu menampung kurang lebih 6 tenda dome kapasitas 4 orang.

Mendirikan tenda sebelum Shelter 2 tidak direkomendasikan, karena masih banyak harimau Sumatera berkeliaran. Kebanyakan para pendaki membuka tenda di Shelter 3, sebuah lapangan terbuka yang lebih luas dari Shelter 2. Mampu menampung lebih dari 30 tenda. Dari Shelter 2 ke Shelter 3 butuh waktu sekitar dua jam. Shelter 3 ini adalah shelter aman terakhir dan lebih dekat ke puncak yang hanya butuh waktu tiga jam. Jadi, rencana merayakan pergantian tahun di gunung pun batal.

Pagi ini, setelah Subuh saya memilih untuk jalan-jalan pagi di kebun teh, yang konon terbesar kedua di dunia itu. Dan melihat keindahan Gunung Kerinci dari jauh.

Kebun teh yang terhampar di seberang pemukiman

Setelah olahraga pagi, saya sempat ngobrol dengan Ibu pemilik losmen. Ternyata Ibu ini keturunan Jawa. Dia bercerita bahwa penduduk Desa Kayu Aro mayoritas keturunan Jawa. Generasi kedua dari hasil migrasi penduduk Jawa ke Jambi pada zaman penjajahan Belanda. Jadi, jangan heran jika bahasa Jawa mendominasi percakapan sehari-hari masyarakat desa Kayu Aro.

 Gunung Kerinci diselimuti kabut

Tak terasa kami ngobrol sampai azan Duhur berkumandang. Saya pamit kembali ke kamar untuk repacking, susun rencana dan istirahat. Tujuannya agar fisik kembali pulih untuk melakukan perjalanan sesungguhnya, menggapai puncak Kerinci nan eksotis. Malam tahun baru pun kami rayakan dalam mimpi.

Perjalanan Sesungguhnya Dimulai
Rabu, 1 Januari 2014. Pada pukul 06.00, dengan menggunakan jasa ojek milik menantu si Ibu, kami bertiga diantar menuju kantor Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) untuk registrasi pendakian.

Sekadar info, dalam pendakian ini kami tidak memakai guide atau porter lokal. Selain menghemat uang, saya memilih mengandalkan insting Ayie saja sebagai seorang pendaki berpengalaman. Walaupun, dia juga belum pernah merasakan aroma Gunung Kerinci. Yang kedua tentu saja Doa kepada Allah SWT, Tuhan penguasa Kerinci.

Kami bertiga di Simpang Tugu Macan

Kami berangkat dengan bismillah, semoga Engkau , ya Allah, sukseskanlah perjalanan ini, mulai pergi dari Jakarta – Desa Kersik Tuo – Puncak Kerinci dan balik lagi ke Jakarta tanpa kekurangan suatu apapun. Amin. Inilah doa yang selalu saya panjatkan dalam salat lima waktu, tahajjud dan duha sebelum berangkat ke Jambi. Siapa yang tidak tahu Kerinci, gunung berapi aktif tertinggi dan paling angker nomor lima di Indonesia. Angker dengan harimaunya maupun dengan badainya yang tidak bisa ditebak. Apalagi, Ibu mengatakan sudah dua hari ini Kerinci diamuk badai kabut.

Pintu Rimba - Pos 3
Setelah satu jam berlalu dari losmen dan mengurus registrasi di TNKS, akhirnya kami tiba di pintu awal pendakian pada pukul 07.00. Pintu ini dikenal dengan nama pintu Rimba.

Sedikit info, tempat istirahat utama di Gunung Kerinci ada dua nama: Pos dan Shelter. Pos hanya digunakan untuk istirahat sementara dan ada bangunannya. Sedangkan fungsi shelter adalah untuk mendirikan tenda dan tidak ada bangunannya.

Di Gunung Kerinci ada tiga pos (Pos 1, 2 dan 3) serta tiga shelter (Shelter 1, 2 dan 3). Urutannya adalah Pintu Rimba, Pos 1, Pos 2, Pos 3, Shelter 1, Shelter 2, Shelter 3, Tugu Yudha dan Puncak Kerinci.

 Bersiap memulai pendakian

Pos 1

Pos 2

Dari Pintu Rimba ke Pos 1, dari Pos 1 ke Pos 2, dari Pos 2 ke Pos 3 rata-rata kami tempuh satu jam. Jadi, lama perjalanan dari Pintu Rimba ke Pos 3 adalah empat jam. Kami tiba di Pos 3 sekitar pukul 11.00 WIB.

 Foto bersama pendaki lain di Pos 3

Di Pos 3, kami bertemu para pendaki campuran, gabungan pendaki lintas Jawa-Sumatera yang bertemu via internet. Saya heran mereka bisa ngecamp di sini, padahal infonya banyak harimau Sumatera masih berkeliaran. Mereka juga bilang agak takut, tetapi dipaksakan. Karena, sedang menunggu teman yang akan menyusul dari Jakarta. Mereka sudah dua malam ngecamp dan tidak terjadi apa-apa. Apakah harimau Sumatera hanya mitos? Ah sudahlah, mungkin Allah sedang melindungi mereka.

Pos 3 - Shelter 1 - Camp
Perjalanan dari Pos 3 ke Shelter 1 paling menguras tenaga. Butuh sekitar 4,5 jam untuk tiba di sana. Treknya sudah mulai curam, kemiringan mendekati 60 derajat, licin, berlumpur, dan sampai memanjat akar. Ditambah lagi hujan turun, menunda perjalanan sekitar 20 menit.

Kami tiba di Shelter 1 pada pukul 15.00. Di sini kami bertemu banyak pendaki yang turun setelah summit. Mereka bilang cuaca di atas ekstrim, terutama kabutnya. Lagi-lagi ada pendaki yang sudah ngecamp dua malam di Shelter 1, namun tidak terjadi apa-apa. Tapi, kami tetap waspada dan tidak boleh sombong.

 Bersama seorang pendaki di Shelter 1

Menurut informasi, perjalanan ke Shelter 2 butuh waktu sekitar 3 jam. Karena kami bertiga merasa masih kuat, akhirnya diputuskan melanjutkan perjalanan. Walaupun, nanti kami akan menghadapi malam. Terabas terus! Semangat!

Tapi, niat tinggal niat. Semangat menurun setelah melihat jalur yang dilalui. Membuat fisik makin terkuras.

Jalurnya yang sempit seperti perjalanan menuju Shelter 1, ditambah hujan seolah menjadi satu paket. Kami bertiga sudah lebih dari tiga kali jatuh terjengkang karena licin dan dalamnya lumpur. Untung saja kami masih belum tergigit pacet. Ayie menjerit, karena dia membawa carrier paling berat berukuran 120 liter.

"Jalurnya lebih berat dari gunung Salak," katanya. Dalam hati saya tertawa, mengapa dari awal tidak mau menggunakan porter. Akhirnya kami memutuskan untuk ngecamp di satu tempat, entah apa namanya. Tempat ini hanya muat untuk satu tenda dome berkapasitas empat orang. Kami tiba pada pukul 17.00 saat itu.

"Camp Darurat"

Tempat ini sempat bikin was-was akan gangguan harimau Sumatera, karena di belakang adalah semak-semak. Tapi ,karena kelelahan yang sangat, akhirnya kekhawatiran itu sedikit demi sedikit terabaikan. Setelah bersih-bersih, makan, dan salat, kami tidur dengan lelap. Sebelumnya, saya memohon kepada Allah semoga tenda ini dijauhi sang raja hutan.

Hari Kamis, tanggal 2 Januari 2014. seharian tidak ada aktivitas pendakian. Kami fokus istirahat untuk memulihkan stamina yang terkuras akibat perjalanan kemarin. Hanya Ayie dan Nu'man yang mencari sumber air, karena persediaan sudah menipis. Setelah pulang, mereka mengatakan sumber air tadah hujan ada di Shelter 2, tapi sumber air melimpah ada di Shelter 3.

Di hari ketiga pendakian, kami hanya Ishoma (Istirahat, salat dan makan) dengan Ayie sebagai kokinya. Lumayan enak juga masakannya.

Summit Attack
Hari Jumat, 3 Januari 2014. Pada pukul 06.00 WIB, kami memulai misi ke puncak. Berbekal daypack berisi makanan ringan, air minum, raincoat, dan ditambah doa kepada Allah, kami berangkat menuju puncak Kerinci.


Memulai Summit Attack

Trek sempit yang harus dilalui menuju Shelter III

Dalam perjalanan ke puncak, hanya ada kami bertiga. Sementara para pendaki lain sudah turun. Timbul kekhawatiran, bagaimana bila nyasar? Tapi saya berusaha yakin, jika Allah bersama kami.

 Shelter III yang terbuka

Kami tiba di Shelter 3 pukul 10.00. Berarti sudah empat jam perjalanan dari tempat camp. Di tempat ini kami bertemu sepasang pendaki kakak beradik yang sudah empat malam berturut-turut di Shelter 3 dan empat kali summit. Salut!

 Puncak tak jauh lagi

Setelah melewati Tugu Yudha dan berjalan selama 3,5 jam dari Shelter 3, akhirnya kami bertiga tiba di Puncak Kerinci. Perjuangan keras kami terbayar sudah.

Saya dan Nu'man di puncak Kerinci 3.805 mdpl

Walaupun tidak melihat sunrise, tapi hati kami puas. Puas karena berhasil menginjakkan kaki di gunung berapi tertinggi di Indonesia. Puas karena kami mendaki tanpa porter. Puas karena selama perjalanan dari Shelter 3 ke puncak, Allah berikan awan sebagai payung dari sengatan matahari. Puas karena badai kabut yang dikhawatirkan tidak terjadi. Puas karena selama pendakian kesehatan selalui menyertai kami. Puas karena kami tidak lupa untuk salat selama perjalanan, walaupun dengan duduk (kontur tanah tidak memungkinkan untuk berdiri). Puas karena anak saya, Nu'man, berhasil mengatasi asma dan pusingnya akibat kelelahan, dingin dan ketinggian. Puas karena tidak bertemu sang raja hutan, harimau Sumatera. Puas karena dari Shelter 3 ke puncak dan sebaliknya, kami tidak tersesat. Padahal banyak jalur-jalur sesat menuju jurang.

 Nu'man dan Ayie (kanan) di puncak Kerinci

Kurang lebih sekitar satu jam kami berada di puncak untuk menikmati keindahan ciptaan-Nya. Setelah berfoto secukupnya, pukul 15.00 kami turun menuju tenda. Kami tiba sekitar pukul 20.00 dan disambut hujan deras. Alhamdulillah.

Turun Gunung
Sabtu, 4 Januari 2014. Raut kepuasan dan ceria menyelimuti wajah kami bertiga di pagi yang cerah. Terbawa bahkan pada saat repacking sebelum kembali ke basecamp.

Tepat pada pukul 07.30, kami mulai bergerak turun. Perjalanan naik dan turun hampir tidak ada bedanya, sama-sama berat. Selama turun, hujan selalu setia menyertai kami. Apakah ini pertanda Gunung Kerinci sedih kami tinggalkan? Entahlah, yang jelas kami sedikit sengsara karena licinnya jalur dan kubangan lumpur yang dalam. Belum lagi pacet sebesar jempol kaki mulai banyak bermunculan. Semakin menambah dramatis batin yang tadinya sempat ceria.

Inilah hasil "bergulat" dengan alam Gunung Kerinci

Setelah berjalan selama tujuh jam, kami bertiga berhasil mencapai pintu Rimba pada pukul 15.00. Selanjutnya, dengan menggunakan jasa ojek petani ladang, kami menuju kantor TNKS untuk melapor selesainya pendakian. Akhirnya kami tiba kembali di Losmen Paiman pukul 14.00.

Pulang ke Jakarta
Kami menginap satu hari lagi di losmen Paiman untuk memulihkan fisik dan belanja suvenir. Sebenarnya hari Minggu ini, 5 Januari, kami berencana ke Danau Gunung Tujuh. Sebuah danau eksotik yang berada di ketinggian di atas 2000 mdpl. Danau ini terletak di sebelah gunung Kerinci dan berjarak satu desa. Kata orang, Danau Gunung Tujuh ibarat penyedapnya, sedangkan Gunung Kerinci diibaratkan sayuran lodeh. Saling melengkapi. Namun, mengingat kondisi fisik dan keterbatasan waktu, akhirnya dibatalkan.

Lima hari sudah kami berada di sini, sebuah pengalaman mengesankan. Keramahan pemilik dan penghuni losmen, makanan Jawa, kopi khas Kayu Aro, memandang kebun teh terbesar di Indonesia, cuaca dingin khas pegunungan, pemandangan gunung Kerinci, pendakian tanpa porter, cuaca bersahabat di puncak Kerinci, dan kekompakan kami bertiga, membuat hati betah berlama-lama di sini. Tetapi, karena tugas kantor telah menanti, dan mulai masuk kerja, keinginan berlama-lama itu harus dipendam sementara waktu. Kami berharap suatu hari nanti bisa kembali ke sini. Tak lain untuk menikmati pesona Danau Gunung Tujuh dan menggapai puncak Kerinci untuk yang kedua kali. Semoga.

(Cerita dan foto perjalanan dibuat oleh Bapak David D. L. selaku anggota komunitas Gamananta. Atas persetujuan beliau, tulisan ini selanjutnya dimuat dalam blog ini dengan diedit seperlunya. Untuk informasi lebih lanjut mengenai transportasi, biaya perjalanan dan semacamnya, dapat menghubungi di akun Facebook David Dl)

Monday, 29 September 2014

,

Tak terasa, komunitas ini sudah menginjak tahun ke-2 dalam aktivitasnya menggerakkan kegiatan traveling berorientasi konservasi. Dalam rangka merayakan ulang tahun komunitas GAMANANTA yang ke-2, ikutilah even seru "CAMPING CERIA: Simple Fun But Valuable", dengan detail even sebagai berikut:

- Peserta: Terbuka untuk umum [Kuota Terbatas!]
- Tanggal: 25-26 Oktober 2014
- Tempat: Pantai Kondang Merak, Kabupaten Malang
- Acara Inti: Mangrove Conservation, "Tasyakuran", OnTheSpot Travel Writing and Photography, Exploring Beach
- Share Cost: Rp 60.000 (Fasilitas: 2x makan, tiket masuk, bibit mangrove, tenda)
- Deadline konfirmasi dan pembayaran: 18 Oktober 2014

More info and last confirmation:
Jauhar Syauqi [ 0857 124 00 989 ]
Rifqy Faiza Rahman [ 0877 598 143 30 ]

Tunggu apa lagi? Ayo bergabung dan rasakan serunya bersama Gamananta! Ji, Ro, Lu, Budal!:)

Wednesday, 17 September 2014

,

Setelah proses lomba selama periode 17 - 31 Agustus 2014, akhirnya program lomba menulis #GamanantaGiveaway: Ceritakan Aksimu di 17 Agustus 2014 telah menemukan dua pemenang utama. Sebelumnya, kami dari pihak panitia dari komunitas Gamananta mohon maaf atas keterlambatan pengumuman lomba ini, yang seyogyanya diumumkan pada tanggal 8 September 2014, harus molor diumumkan hari ini, 17 September 2014. Keterlambatan pengumuman ini disebabkan karena kendala teknis dalam proses kurasi/penilaian artikel lomba.

Setelah melalui proses penilaian, berikut adalah kedua pemenang utama tersebut:

 (Klik gambar untuk memperbesar)

JUARA I - Bodypack Consina Pekkae + Slayer GAMANANTA
Anik Wahyuningsih (@AnikVanJava)
Judul Artikel: "Pendakian Merah Putih"

JUARA II - Buku "Backpacking Makassar dan Sekitarnya + Slayer GAMANANTA
Fitrah Amalia (@Vta_fitrah)

Kami, panitia dari komunitas Gamananta mengucapkan selamat kepada kedua pemenang tersebut dan berterima kasih atas partisipasinya. Untuk pengambilan hadiah, bisa dilakukan mulai tanggal 21 September 2014 pukul 16.00 WIB saat Kopdar Gamananta di Kampus UB. Untuk info lebih lanjut silakan menghubungi Rifqy Faiza Rahman (0877 598 143 30).

Ji! Ro! Lu! Budal!

Wednesday, 13 August 2014

,

IKUTILAH! :)

Semarak Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-69 semakin dekat. Setiap pejalan pasti punya cara sendiri untuk merayakan hari 17 Agustus 2014. Karena itu, kami Komunitas Gamananta menggelar lomba menulis #GamanantaGiveaway bertema “Ceritakan Aksimu di 17 Agustus 2014”. Kami mengajak kalian para pejalan berbagi cerita tentang pengalaman kalian di 17 Agustus 2014 dan dapatkan hadiah menarik!

Adapun Syarat dan Ketentuannya adalah sebagai berikut:

PERIODE LOMBA
Lomba #GamanantaGiveaway dengan tema “Ceritakan Aksimu di 17 Agustus 2014) ini diselenggarakan selama periode yang dimulai pada tanggal 17 Agustus 2014 (pukul 00.00), dan berakhir pada tanggal 31 Agustus 2014 (pukul 23.59)

PESERTA
1. Lomba ini bersifat umum, Warga Negara Indonesia (WNI)
2. Wajib memiliki akun Facebook dan Twitter
3. Wajib follow Twitter @gamananta dan like Facebook Fan Page GAMANANTA

KETENTUAN PENULISAN
1. Tema penulisan adalah “Ceritakan Aksimu di 17 Agustus 2014”
2. Penulisan harus menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
3. Tulisan merupakan karya sendiri, bukan meruapakan saduran atau terjemahan. Tulisan juga belum pernah dipublikasikan di emdia apapun.
4. Cerita tidak mengandung unsur SARA dan pornografi, dan kekerasan.
5. Cerita diketik dan diposting di aplikasi “NOTES” di akun Facebook peserta
6. Panjang tulisan minimal 500 kata, maksimal 2.000 kata.
7. Wajib memasukkan minimal 1 foto dengan resolusi minimal 1280 pixels pada sisi terpanjang (width) dan ditambahkan (attach) pada tulisan.
8. Setiap peserta hanya diperbolehkan mengirimkan 1 (satu) tulisan saja.
9. Di bagian bawah  tulisan, dicantumkan biodata peserta mencakup:
(Nama Lengkap, Nomor HP, Alamat Email, Akun Facebook, Akun Twitter)
10. Setelah biodata, wajib dicantumkan penulisan:
(Tulisan ini dibuat untuk mengikuti lomba #GamanantaGiveaway: Ceritakan Aksimu di 17 Agustus 2014)

KETENTUAN KONFIRMASI TULISAN
Tulisan yang sudah diposting di “NOTES” pada akun Facebook peserta berikut dengan biodatanya, wajib mengirimkan link tulisan tersebut melalui Twitter dengan mention @gamananta dan hashtag #GamanantaGiveaway
-->>    CONTOH: [link tulisan] @gamananta #GamanantaGiveaway

KETENTUAN PEMENANG
1. Lomba menulis #GamanantaGiveaway: “Ceritakan Aksimu di 17 Agustus 2014” akan menentukan dua pemenang, yaitu JUARA I dan JUARA II dengan perincian hadiah sebagai berikut:
JUARA I: 1 buah Bodypack Consina untuk 1 orang pemenang + Scarf Gamananta
JUARA II: 1 buah buku “Backpacking Makassar dan Sekitarnya” karya Nurul Noe untuk 1 orang pemenang + Scarf Gamananta
2, Setelah melalui proses penjurian pada 1-7 September 2014, nama pemenang akan diumumkan pada tanggal 8 September 2014.
3. Bagi yang belum beruntung mendapatkan hadiah, bersama JUARA I dan JUARA II,akan dipilih 5 besar tulisan terbaik untuk dimuat dalam e-mag komunitas Gamananta: JAVANICA edisi khusus Kemerdekaan RI ke-69 periode Oktober-November 2014

KETERANGAN LEBIH LANJUT:
Hubungi email: gamananta@gmail.com

Monday, 14 April 2014

,


Setelah pada tanggal 5 April 2014 Gamananta melakukan penggalangan dana dengan berjualan bunga mawar di kampus, maka hasil penggalangan dana tersebut digunakan untuk keperluan kegiatan pada seminggu berikutnya. Ya, pada hari Sabtu, tanggal 12 April 2014, Gamananta melakukan kegiatan pengabdian masyarakat bidang pendidikan, sasarannya adalah para siswa dan siswi Madrasah Ibtidaiyah (MI) Al Ihsaan, Sumberporong, Kecamatan Lawang.

Atas izin Bapak Hamdah selaku pendiri MI Al Ihsaan, Gamananta diperkenankan untuk menggunakan jam belajar dengan acara yang telah disusun, meliputi kelas motivasi, kebersihan lingkungan, dan menggelar banyak permainan yang menarik.

Hari itu, sebanyak 45 siswa dan siswi MI Al Ihsaan terlihat antusias menerima banyak materi dari Gamananta. Mereka yang menggunakan seragam pramuka dikumpulkan jadi satu di ruang kelas III. Untuk materi pertama berupa kelas motivasi, diisi oleh anggota Gamananta yang berpengalaman di bidang motivasi dan outbond, yaitu Citra Chatami Aprilia selama kurang lebih hampir 1,5 jam. Selama kelas motivasi, Gamananta mengajak mereka agar memiliki cita-cita dan mimpi setinggi langit. Gamananta mengajak mereka percaya bahwa dengan bercita-cita tinggi, akan membuat mereka menjadi semakin semangat belajar menuntaskan pendidikan dasar hingga tinggi. Di tengah keterbatasan fasilitas dan sumber daya manusia dalam madrasah ini, memang benar-benar diperlukan semangat pantang menyerah dengan menjaga cita-cita dan mimpi.

 Pentingnya untuk memiliki mimpi

Kelas motivasi oleh Citra Chatami Aprilia
Salah satu wujud memiliki cita-cita tersebut dituangkan dalam kertas kecil yang berisikan cita-cita para siswa dan siswi kemudian ditempelkan dalam sebuah "pohon impian" agar mereka selalu mengingat cita-cita mereka. Harapannya adalah agar mereka tetap semangat belajar di tengah keterbatasan.

Selanjutnya, anggota Gamananta yang lain, Nufus Rosidy memberikan materi tentang kebersihan lingkungan. Dengan semangat dari hadis Nabi yang menyebutkan bahwa "kebersihan ialah sebagian dari iman", mereka diajak untuk berjanji agar tidak membuang sampah sembarangan dan berjanji untuk selalu membuang sampah pada tempat sampah yang telah disediakan. Lewat Nufus Rosidy pula, ia sempat memberikan materi dasar Bahasa Inggris yang digelar di ruang kelas IV. Ternyata, para siswa dan siswi cukup antusias belajar materi dasar perkenalan dan sapaan seperti good morning, afternoon, evening, dan night. 

 Kelas Bahasa Inggris oleh Nufus Rosidy

Setelah materi di dalam kelas, para siswa dan siswi diajak keluar kelas, bermain di lapangan dekat sekolah. Meskipun cukup panas, mereka tetap bersemangat untuk bermain dengan ceria. Usai permainan di lapangan, para siswa dan siswi diberikan konsumsi berupa buah pisang dan susu kemasan. Selang beberapa menit setelah istirahat, mereka diajak bermain kembali di halaman RA Al Ihsaan yang berada di seberang MI Al Ihsaan, menyatu dengan masjid Yayasan Al Ihsaan.

Permainan di lapangan

Ceria bermain di halaman RA Al Ihsaan

Sayang sekali, kebersamaan ini harus diakhiri dulu ketika waktu Duhur telah tiba. Gamananta dengan berat hati menutup acara ini saat kebersamaan dengan siswa dan siswi justru semakin erat. Usai Duhur, mereka akan melanjutkan kegiatan rutin setiap Sabtu dalam dua minggu sekali, yaitu khataman Al Qur'an. MI Al Ihsaan memang memiliki program unggulan, salah satunya adalah adanya program tahfidz Qur'an, mereka ingin mencetak bibit-bibit penghafal Al Qur'an.

Kegiatan di MI Al Ihsaan ini direncanakan tidak berhenti sekali saja. Tetapi, Gamananta berharap tetap berkelanjutan dalam satu bulan sekali ke depan. Gamananta berharap dukungan anggota demi kelancaran kegiatan pengabdian di bidang pendidikan ini. Baik dukungan berupa moril maupun materil, karena Gamananta berkeyakinan bahwa pendidikan mereka tidak hanya tanggung jawab pemerintah saja, tetapi juga menjadi tanggung jawab moral semua yang peduli. Video tentang kegiatan ini dapat dilihat di YouTube.

Follow Us @soratemplates