Showing posts with label basecamp panderman. Show all posts
Showing posts with label basecamp panderman. Show all posts

Saturday, 21 February 2015

,

Sebagai pengobat kerinduan terhadap olahraga pendakian gunung, Gamananta mengadakan pendakian bersama ke Pegunungan Putri Tidur. Sebelumnya, Gamananta pertama kali mendaki ke sana pada 7-9 November 2013 yang digawangi oleh Busthomy, Rifqy dan Angky. Cerita perjalanannya bisa dibaca DI SINI.

Kunjungan kedua Gamananta ke alam Pegunungan Putri Tidur berlangsung pada tanggal 11-12 Januari 2014. Durasi yang cukup singkat mengharuskan tim memulai pendakian sejak pagi pada hari pertama. Adapun anggota tim pendakian terdiri dari Rifqy, Mas Kurniawan, Rizky, Mustofa, Figur, Zaki, Anggrek, Lia, Zahro dan Numa.

11 Januari 2014
Hari pertama perjalanan, dimulai dengan belanja bahan konsumsi dan sebagian logistik di Pasar Karangploso. Semalam tim menumpang tidur di rumah anggota Gamananta, Uki, untuk mengumpulkan tenaga dan mengemas perlengkapan.

Setelah mendapatkan bahan konsumsi yang diinginkan, tim melajukan motor dengan kencang menuju basecamp Panderman di Toyomarto, Pesanggrahan, Batu. Perjalanan ditempuh selama kurang lebih sekitar 1 jam. Kami sempat mampir di sebuah warung untuk membeli nasi bungkus sebagai bekal sarapan yang dimakan di tengah perjalanan.

 Foto bersama sebelum memulai pendakian

Sekitar pukul 07.30, usai urusan administrasi beres, kami mulai berjalan. Menyusuri jalan yang sama ke arah Panderman, sebelum berbelok arah kanan di pertigaan terakhir yang mana ke kiri menuju Panderman. Sekitar 1,5 jam berjalan, kami berhenti di sebuah tanah datar yang teduh. Kami membuka bekal nasi bungkus untuk dimakan bersama. Tujuannya sebagai isi ulang energi sebelum melanjutkan perjalanan ke Sendang yang masih jauh.

 Pemandangan yang tersaji di awal pendakian

Trek selepas tempat kami istirahat untuk sarapan menanjak cukup panjang. Cukup menguras tenaga sebelum akhirnya kami masuk hutan yang relatif lebat dan alami. Trek di dalam hutan cenderung datar dan panjang.

 Tetap ceria di tengah istirahat

Awan mendung yang bergelayut semenjak memasuki hutan pun akhirnya menurunkan hujan ketika kami keluar hutan.

Trek kembali menanjak ketika memasuki areal Cemoro Kandang.Kami tetap berjalan dan agak ngebut agar tidak kedinginan. Agar sesampainya di Sendang, kami segera mendirikan tenda dan menghangatkan diri.

Akhirnya, setelah sekitar 9 jam berjalan dari basecamp, kami pun tiba di Sendang. Sebuah tempat perkemahan yang melimpah sumber air di tengah-tengah sabana hijau nan luas. Dari sini, puncak sudah terlihat dan hanya berjarak tak sampai sejam perjalanan. Puncak Siti Ingghil yang akan kami gapai esok pagi.

Agenda selanjutnya jelas, mendirikan tenda dan menyiapkan menu makan malam. Di Sendang, kami tidak sendirian. Ada juga rombongan pendaki dari kampus UIN Malang yang naik dari jalur Gadingkulon, Dau, Malang.

Ketika malam tiba, angin berembus semakin dingin. Memaksa kami mempercepat makan dan istirahat. Memulihkann tenaga setelah diguyur hujan selama perjalanan. Sebagian anggota tim, termasuk saya yang berada di tenda cowok memilih bermain kartu sejenak sebelum terlelap.

12 Januari 2014
Sekitar pukul 04.30, saya terbangun dan mulai membangunkan teman-teman untuk bersiap. Bersiap salat Subuh dan bergegas ke puncak. Karena ketika keluar tenda, cahaya matahari sudah mulai muncul.

Perjalanan ke puncak tidaklah lama. Hanya memakan waktu sekitar 30-45 menit berjalan normal tapi stabil tanpa banyak berhenti. Dengan trek yang sangat menanjak dan lumayan bikin lutut linu. Namun kelelahan yang dirasa terbayar lunas ketika kami tiba di puncak Siti Ingghil, puncak tertinggi Pegunungan Putri Tidur dengan angka 2.868 mdpl.

 Matahari terbit dari balik Pegunungan Tengger

Selain kami, juga terdapat pendaki yang naik dari Sirahkencong, Blitar. Kami menjadi saksi di mana matahari terbit dengan indah dari balik Pegunungan Tengger. Sesekali asap mengepul dari kawah Jonggring Saloka di puncak Mahameru.

Ditambah lagi pemandangan Gunung Arjuno dan Welirang yang disatukan dengan Gunung Kembar I dan II. Dan pesona pegunungan kawasan Ngantang, serta Gunung Kelud yang diselimuti kabut tipis.

 Mengibarkan bendera merah putih di puncak


Dengan pemandangan spektakuler demikian, tak heran jika di anatra kami seperti tak ingin kehilangan momen dengan banyak berfoto. Di semua sudut, tak ada yang tak indah. Kami sangat puas setelah menyambut pagi dari puncak.

Puas di puncak, kami segera turun dan kembali ke tenda. Menyiapkan sarapan sederhana dan berkemas. Sekitar pukul 11.00, kami mulai meninggalkan kawasan Sendang.

 Foto bersama sebelum perjalanan pulang

Ritme perjalanan kami lebih cepat dibandingkan saat berangkat. Tujuannya agar tidak terlalu sore setibanya di basecamp kembali. Meskipun hujan sempat mengguyur, tak menyurutkan kami berjalan cepat. Bahkan ketika sempat berjalan di atas genangan air semata kaki di dalam hutan sekalipun.

Hasilnya, setelah hampir 6 jam berjalan, kami tiba di basecamp lagi. Tanpa banyak membuang waktu, kami segera mengambil motor dan memilih salat Asar di masjid setempat. Langit sudah gelap ketika kami tiba di kos masing-masing, setelah sempat mampir makan malam bersama di sebuah rumah makan. Sebagai pelampiasan setelah terkuras fisik dan mental di tengah hutan Pegunungan Putri Tidur.

Foto dan tulisan oleh: Rifqy Faiza Rahman

Sunday, 10 November 2013

,

Hari kedua, terik matahari mulai menyeringai. Kami memanfaatkan air tersisa untuk masak minuman panas disertai roti tawar dengan susu coklat untuk sarapan ringan pagi ini. Beberapa menit kemudian, melintas beberapa orang pendaki yang sedang turun gunung. Menurut info yang diberikan, ternyata sumber mata air Sendang  sudah dekat. Kami pun bergegas repacking kemudian melanjutkan perjalanan mulai pukul 09.00. Setelah menelusuri tanjakan dan melipir punggungan, terlihat sebuah padang sabana di hadapan kami. Di tengah sabana tersebut terlihat sebuah gubuk kecil terbuat dari kayu dan atap seng yang sudah karatan. Di gubuk tersebut terdapat seorang pria berambut keriting sedang berdiri dan menyalami kami bertiga setibanya di sana. Di samping gubuk tersebut terdapat sebuah mata air atau Telogo Cahyo yang mana penduduk Gunung Kawi menyebutnya begitu. Kami lega luar biasa setelah menjumpai mata air segar yang mengucur cukup deras.



Sumber air di Sendang (Telogo Cahyo)


Setelah bercengkerama dengan orang tersebut yang bernama Pak Ngatemin atau lebih dikenal Pak Brek, terkuaklah kesimpangsiuran selama ini. Ternyata Gunung Butak yang kami tuju sudah terlewati. Tiga jam berjalan kaki dari Sendang. Gunung Butak yang selama ini dianggap sebagai puncak tertinggi di kawasan Pegunungan Putri Tidur, bagi beliau justru merupakan puncak terendah yang lokasinya di bawah Gunung Kawi dan tidak dapat dijadikan camp. Ternyata kami sedang berada di Gunung Siti Ingghil yang puncaknya tertinggi dari 11 gunung yang ada di kawasan Pegunungan Putri Tidur ini menurut beliau. Kesimpulan kami, Gunung Siti Ingghil inilah yang mungkin dimaksud Gunung Butak oleh pendaki selama ini. Ah, setiap daerah mungkin memiliki persepsi berbeda, tidak usah saling membenarkan. Begitu kata Pak Brek.



Saya di tengah-tengah sabana

Setelah mendirikan camp, kami masak untuk makan pagi sekaligus makan siang. Air yang melimpah membuat kami tidak perlu khawatir memasak dalam jumlah banyak dan mengenyangkan. Sisa waktu jelang sore kami isi dengan mengobrol santai bersama Pak Brek yang sejak Rabu mendekam di tengah gunung ini, ditemani salah seorang sahabatnya dari Bogor, Pak Hasan. Terlepas dari niat mereka berdua di sini, kami berlima terlibat percakapan yang hangat layaknya saudara tanpa pandang usia.


Menuju Puncak
Seusai nyenyak tidur siang, kami kembali melangkah pada pukul 15.30 menuju puncak Siti Ingghil. Kami ingin mencoba jalur agar esok saat ke puncak lagi tidak kebingungan. Sempat salah jalur, kami kembali ke jalur yang benar setelah diarahkan oleh Pak Brek. Sabana dan edelweiss berganti hutan cantigi dan pinus yang tumbuh tinggi dan rapat. Perjalanan benar-benar mendaki ini memakan waktu tempuh 30 menit, lalu tibalah kami di pertigaan mendekati puncak. Kami mengambil arah ke kiri, menemui sebuah gundukan batu. Ada bendera Indonesia dan sebuah plakat: Puncak 2.868 mdpl, PA. JAYAMERU MLG. Sebuah PA yang berasal dari kampus UNTAG Surabaya.



Plakat penanda puncak
 Mas Angky meloncat di atas lautan awan

Angin berhembus sangat kencang. Sayang sekali, cuaca yang berawan membuat sunset tidak terlihat. Namun lautan awan di sisi barat laut puncak sangat indah. Gunung Arjuno Welirang juga terlihat jelas. Sabana di bawah sana menunjukkan kami benar-benar berada dalam posisi yang tinggi. Puncak yang terlihat tinggi dari Sendang, ternyata cukup singkat untuk ditempuh. Jalur yang cukup terjal mempersingkat waktu tempuh. Satu jam berfoto di sini cukup bagi kami. Pukul 17.00 kami mulai turun ke Sendang. Setibanya di Sendang, kami sempatkan ngobrol ringan lagi bersama dua orang tadi, lalu lanjut mempersiapkan makan malam. Esok pagi, kami akan ke atas lagi menjemput sunrise.


Pak Brek (tengah) dan Pak Hasan (dua dari kiri)


Hari ketiga, kami terbangun pada pukul 03.00. Selagi tubuh masih mulet-mulet, kami mempersiapkan sarapan ringan untuk bekal ke puncak. Sejam kemudian, kami mulai berjalan sekaligus berpamitan dengan Pak Brek dan Pak Hasan, dua orang ini akan turun gunung pagi ini juga. Ketika kami memasuki hutan pinus, Mas Angky mulai terlihat lelah. Mungkin karena faktor oksigen yang tipis saat pagi hari di dataran tinggi. Saya lihat di ufuk timur, fajar mulai menyingsing, bersiap menyapa kami. Tidak ingin melewatkan kesempatan, saya berinisiatif menuntun dan menarik Mas Angky dari atas agar dia lebih cepat. Di tengah hembusan angin kencang dan dingin yang menusuk tulang, kami terus berjuang melawannya.

Alhamdulillah, pukul 04.30, kami semua tiba di puncak Siti Ingghil kembali. Tak lupa kami langsung sujud syukur dan melaksanakan sholat Subuh berjamaah. Waktu yang masih sangat pagi kami nikmati dengan enjoy. Sunrise terlihat sangat indah, terbit di balik punggung Gunung Semeru, gunung tertinggi di pulau Jawa. Indah nan elok, tampak sedap dipandang. Di sebelah timur laut dengan gagahnya rangkaian Gunung Arjuno-Welirang. Di sebelah barat, nampak pegunungan di Ngantang, Wilis dan waduk Selorejo. Pemandangan yang sore kemarin tak jelas terlihat kini begitu cerah. Langit begitu biru. Indah sekali.

 Saya dan puncak Mahameru nun jauh di sana


Mengibarkan Gamananta dan merah putih di pagi dari atas puncak

Betapa bahagianya kami melihat kebesaran Tuhan dari sini, tak lupa kami mengabadikan perjalanan ini dalam memori kamera. Setelah puas, pukul 06.30 kami turun ke camp dan bergegas masak untuk sarapan serta repacking kemudian bergegas turun. Tampak tak terlihat Pak Brek dan Pak Hasan di gubuk mungil dekat Telogo Cahyo.


Bersiap repacking sebelum pulang

Setelah selesai persiapan, pukul 10.00, kami bergegas turun untuk balik ke Kota Malang. Dalam perjalanan turun, kami baru sadar bahwa jalan yang kami lalui sangat terjal, begitu pannjang dan melelahkan hingga lutut dari Angky mulai kambuh lagi dan harus jalan tertatih. Kami cukup lelah karena perjalanan yang sangat jauh, tak jarang kami harus jatuh bangun dan khawatir akan jatuh ke jurang. Ketika Gunung Panderman mulai terlihat, kami berjalan terpisah karena faktor kemampuan fisik yang kami miliki masing-masing. Saya tiba di basecamp pukul 14.15, disusul Mas Angky dan Mas Rifqy selang satu jam kemudian.

Kami tak akan melupakan perjalanan kali ini, sebuah perjalanan yang mengajarkan kami tentang kesabaran, kebesaran hati, ketenangan jiwa, dan yang pasti akan membuat kami menjadi pribadi yang lebih baik dan besar lagi. Peluh, darah dan dahaga untuk Puncak Siti Ingghil telah menghiasai catatan perjalanan kami bersama Gamananta.



Ditulis oleh: Ahmad Fakhrudin Busthomy
Dokumentasi: Rifqy Faiza Rahman
,

Ditulis oleh:
- Ahmad Fakhrudin Bustomy -
Hari pertama, waktu sudah menunjukkan pukul 05.00, saatnya untuk bangun dari tidur, mandi, sholat shubuh, dan bergegas berangkat menuju basecamp Panderman. Sebuah perjalanan yang tidak termasuk dalam agenda perjalanan Gamananta. Berawal dari sebuah celetukan oleh saya untuk mengisi kekosongan setelah ujian tengah semester. Bulan April lalu, Gamananta sudah pernah mencoba melakukan perjalanan ke Gunung Butak melalui jalur Sirahkencong, Blitar, namun perjalanan tersebut gagal dikarenakan kurangnya pengetahuan tentang medan gunung tersebut.

Hingga jelang hari keberangkatan, informasi medan pendakian gunung ini tetap saja minim. Beruntung, kami mengenal seorang anggota KBMR bernama Mas Eko yang sering mendaki ke Butak. Ditambah dengan pengalaman Gamananta yang sudah cukup malang melintang di dunia pendakian gunung, saya, Mas Rifqy dan Mas Angky melakukan pendakian dengan misi utama untuk mengibarkan bendera Gamananta di puncak gunung yang pernah membuat Gamananta penasaran. Sebelum menuju ke basecamp  Panderman, kami sempatkan belanja logistik tambahan di Pasar Merjosari Malang. Setelah selesai belanja, kami melanjutkan perjalanan mengendarai sepeda motor.

Sekitar pukul 09.00, kami tiba di basecamp Panderman, di sana kami sudah ditunggu oleh Mas Eko yang berkenan mengantar kami hingga persimpangan terakhir jalur trekking, karena akan banyak dijumpai persimpangan. Salah-salah malah nyasar menuju Latar Ombo dan puncak Panderman seperti yang dialami KBMR seminggu sebelumnya. Pegunungan ini jarang sekali didaki oleh umum. Tiga puluh menit kemudian, kaki kami yang ceking mulai melangkah. Obrolan-obrolan ringan menyertai perjalanan yang santai ini, melalui berbagai persimpangan yang dibuat warga untuk mencari rumput. Tak terasa kami sudah sampai di persimpangan jalur, saatnya kami berpisah dan melanjutkan ekspedisi ini bertiga.

 Foto sebelum berpisah di persimpangan. Mas Eko (berdiri)

Istirahat di persimpangan di dalam hutan

Usai istirahat dan berpamitan dengan Mas Eko, kami melanjutkan perjalanan. Kali ini Mas Angky saya minta berada di depan, kami berdua mengikuti irama langkahnya. Jalur naik turun, lalu menjumpai bonus trek cukup panjang. Jalur pendakian di pegunungan ini cukup bervariasi. Selepas trek bonus tersebut, kami harus melangkah menapak tanjakan yang cukup panjang dan vegetasi mulai terbuka kembali. Kala mendapati tanah datar di antara tanjakan, kami sempatkan istirahat untuk makan. Sedari pagi, perut ini belum terisi.

Usai makan perjalanan dilanjutkan. Mendung mulai menyelimuti langit. Tanjakan ini sudah habis, berganti jalan datar di dalam hutan lumut dan tropis nan panjang. Rain coat dan ponco segera kami kenakan ketika rintik hujan mulai terasa mengguyur. Hutan yang panjang ini seolah menampakkan kesuramannya. Berulang kali kami menaiki pohon tumbang. Bahkan bukan hanya merangkak di bawah pohon yang tumbang maupun terbakar, kami juga merayap layaknya tentara latihan. Beban carrier cukup membuat repot pergerakan merayap ini.


Beberapa percabangan jalur tidak terlalu membingungkan kami walau kadang diselimuti perasaan ragu. Namun, petunjuk berupa tali rafia, stringline oranye dan panah plastik di pohon sangat membantu navigasi menuju Cemorokandang. Petang semakin menjelang, namun hutan pinus itu belum semakin dekat. Kelelahan mulai mendera kami. Hari semakin gelap dan hutan pinus ini semakin suram. Di ufuk barat, terlihat senja mulai menyapa, matahari seakan hendak berpamitan kepada kami. Tapi kami masih berada di tengah hutan cemara atau kami menebaknya itu ialah Cemorokandang yang dibilang oleh Mas Eko dan masyarakat sekitar. Kami tetap berjuang, entah sudah berapa liter peluh yang kami teteskan.

Walau tenaga ini masih cukup kuat meneruskan perjalanan, namun hari yang gelap akan riskan menyesatkan kami. Ego harus ditahan. Hikmahnya mungkin agar kami menenangkan pikiran dulu sebelum melanjutkan perjalanan esok pagi. Kami pun mendirikan camp darurat di sebuah tanah datar yang tidaklah luas. Di belakang tenda adalah tumpukan semak-semak yang mudah longsor dan di depan berupa lubang bekas perapian. Air yang tersisa 1,5 liter membuat kami hanya berani memasak mi instan dan jeruk panas. Kami berharap esok pagi masih ada asa meneruskan perjalanan lebih jauh. (Bersambung)

Follow Us @soratemplates