,
Friday, 11 April 2014
Tuesday, 8 April 2014
,
JAVANICA adalah sebuah proyek atau bisa dibilang mimpi besar komunitas Gamananta dalam bidang jurnalisme. Karena itu, Gamananta meluncurkan sebuah e-mag atau majalah online berformat .pdf yang dengan tema khusus terkait traveling. Gamananta melakukan soft launching pada 20 Februari 2014 lalu melalui grup facebook komunitas.
Nama JAVANICA diambil dari bahasa latin yang biasa menjadi penamaan ilmiah suatu flora atau fauna, seperti Anaphalis javanica yang merujuk edelweiss Jawa dan biasa disebut bunga abadi. Ada juga Bos javanicus yang merujuk banteng jawa. Jadi, JAVANICA adalah konotasi keindahan, kuat, luas sudut pandangnya, dan indah berarti merujuk pada negeri kita tercinta, Indonesia.
Tim redaksi JAVANICA merupakan majalah komunitas namun peruntukannya untuk semua kalangan yang mencintai traveling. Karena merupakan bagian dari Gamananta, maka JAVANICA berada dalam lindungan dan tanggung jawab pengurus inti Gamananta. Personil inti JAVANICA terdiri dari enam orang, yang menempati tugas dan tanggung jawab masing-masing sebagai berikut:
- Rifqy Faiza Rahman - Editor in Chief
- Mohammad Lutfi Hidayat - Text Editor
- Figur Kautsar - Text Editor
- Jeanni Kusuma Nur Anggraeni - Photographer
- Frida Ayundha Putry - Graphic Designer
- Anggraeni Ayu Saputri - Marketing and Communication
Tim redaksi JAVANICA menerima kritik dan saran, juga artikel tentang traveling dari pembaca, silakan dialamatkan ke email tim redaksi di javanica.gamananta@gmail.com. Untuk media publikasi, tidak hanya menggunakan media grup facebook komunitas Gamananta. Tetapi juga dipublikasikan melalui fan page di Javanica E-Magazine dan twitter di @JavanicaEmag.
Friday, 28 February 2014
,
Atas dasar itulah, Gamananta menggandeng Kelompok Studi Biologi (KSB) dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Brawijaya (FMIPA UB), Malang, untuk menggelar pelatihan konservasi. Acara sederhana tersebut digelar di King Coffee, Joyogrand, Malang.
Secara bergantian, Fahmi, Hadi, Dwi, dan Ken dari KSB FMIPA UB memaparkan prinsip-prinsip dasar konservasi. Mereka juga berbagi pengalaman kegiatan-kegiatan yang pernah dilakukan terkait dengan konservasi. Anggota Gamananta yang mengikuti acara tersebut menyimak dengan antusias.
"Keep Calm and Conserve Nature" adalah semangat yang dibagi oleh KSB FMIPA UB selain "harmonization". KSB FMIPA UB menegaskan bahwa harmonisasi antar sesama makhluk hidup harus diperhatikan karena merupakan tujuan utama dari pelaksanaan konservasi.
Setelah pemaparan yang cukup jelas, diadakan sesi tanya jawab dari anggota komunitas kepada pemateri. Di penghujung acara, dilakukan penyerahan sertifikat sebagai ucapan terima kasih dari komunitas Gamananta kepada KSB FMIPA UB dan acara ditutup dengan foto bersama.
Gamananta Community
Tuesday, 25 February 2014
,
Setelah rapat hingga esok pagi harinya Gamananta mengumpulkan donasi dan bantuan logistik untuk dikirimkan ke Kediri. Bantuan logistik yang berhasil dikumpulkan berupa air mineral, mi instan, beras, popok bayi, peralatan bersih-bersih, susu bayi, dan makanan ringan.
Esoknya, 15 Februari 2014, dengan dua mobil, Gamananta berangkat pukul 08.30 WIB menuju Kediri. Karena jalur Pujon kabarnya masih ditutup, tim memutar melalui Mojosari. Setelah singgah sebentar di SMAN 1 Kesamben untuk mengambil uang donasi dan dibelanjakan logistik tambahan, tim langsung meluncur ke Kediri. Memasuki Kota Pare, sisa-sisa abu vulkanik yang memadat karena hujan masih berserakan. Tim berencana menuju posko utama di Simpang Lima Gumul untuk memperoleh informasi terkait peta pengungsian dan penyebaran bantuan logistik.
Meninggalkan posko utama Gumul
Dari hasil pantauan tim, tim memutuskan untuk mengirimkan logistik langsung ke Kecamatan Ngancar, kawasan paling dekat dengan Gunung Kelud dalam radius kurang dari 10 km. Di kantor kecamatan, juga terdapat relawan dari Surabaya yang sigap membantu mengangkut logistik dari mobil kami ke gudang logistik.
Aktivitas pengangkutan tikar ke truk
Esoknya, setelah membantu mengangkut tikar ke dalam truk dalam gudang di posko utama Gumul, tim harus kembali ke Malang karena hari Senin kebanyakan anggota sudah memulai kuliah. Tim memilih pulang lewat jalur Kandangan-Pujon agar dapat mengetahui langsung kondisi di sana pasca erupsi Kelud.
Kondisi Simpang Lima Gumul
Sampai saat ini, masih diberlakukan masa tanggap darurat hingga 12 Maret 2014 untuk pemulihan kawasan-kawasan terdampak erupsi Gunung Kelud. Turunnya status dari Awas ke Siaga turut membantu mempercepat pemulihan pasca erupsi, utamanya yang terdampak paling parah di Kabupaten Malang, meliputi Pujon, Kasembon, dan Ngantang.
Foto:Dokumentasi Gamananta
Friday, 24 January 2014
,
Instruktur pelatihan kali ini adalah Slamet, anggota dari Gerpala yang juga melatih mountaineering di Lembah Kera. Peserta dalam pelatihan ini cukup banyak, antara lain Rizky, Ike, Mas Kurniawan, Azza, Irwan, Eko, Sofia, Norma, Roni, Citra, Caca, Siti, Jauhar, Anggrek, Siwi, dan Rifqy yang menyusul di pagi hari kedua karena usai menghadiri even XL Future Leaders di Unair pada 18 Januari 2014, bersamaan dengan even ini.
Sarapan bersama sebelum kegiatan susur sungai
Selama pelatihan, sempat diguyur hujan karena bulan Januari masih merupakan puncaknya musim penghujan. Namun, pada hari kedua (hari terakhir) pelatihan cuaca cukup cerah sehingga mendukung latihan susur sungai DAS Brantas untuk simulasi pencarian korban yang diwujudkan dalam bentuk bulatan balon berisi air berbalut kresek.
Hari sebelumnya juga peserta dilatih cara bertahan hidup (survival), seperti mengenal tanaman untuk asupan darurat, membuat bivak darurat dari ponco (jas hujan), hingga membuat api unggun (perapian). Peserta antusias mengikuti seluruh rangkaian acara hingga akhir. Puncak dari sederet pelatihan yang digelar Gamananta akan berakhir dalam pelatihan akhir yang masih dalam tahap rencana melihat pertimbangan lokasi dan waktu yang tepat. Semoga segera terlaksana.
Thursday, 23 January 2014
,
Beberapa hari sebelum acara, terdapat pemberitahuan dari panitia yang menginformasikan bahwa Gamananta lolos seleksi dan diperkenankan mengisis booth gratis. Sebuah kesempatan yang tidak akan dilewatkan Gamananta untuk memperluas jaringan dan menyebarkan promosi komunitas.
Dalam even yang berlangsung di Airlangga Convention Centre (ACC), Universitas Airlangga, Surabaya ini, juga dilangsungkan lomba antar OSIS SMA se-Jawa Timur. Di tengah perhelatan terdapat talkshow yang mengundang Hasnul Suhaimi (CEO XL Axiata) dan Asep Khambali (Founder Komunitas Historia Indonesia). Walikota Surabaya Tri Rismaharini yang turut diundang berhalangan hadir dalam talkshow tersebut.
Selama eksibisi, Gamananta membawa bekal brosur, sticker, dan dua stand x-banner sebagai peralatan promosi, juga memutar video-video perjalanan yang lalu. Meskipun tidak mendapatkan predikat sebagai booth terfavorit, Gamananta cukup berhasil menarik minat pengunjung eksibisi untuk bergabung dengan Gamananta. Pengunjung tertarik dengan visi Gamananta sebagai komunitas traveling yang mengusung semangat dan budaya konservasi dalam setiap perjalanannya. Mereka juga tertarik dengan sejumlah agenda besar di tahun 2014 ini, salah satunya backpacking ke Pulau Komodo dan Gunung Kelimutu.
XL Future Leaders Festival 2014 adalah even ketiga yang diikuti Gamananta sebagai media promosi komunitas setelah Kompas Kampus UB dan Malang Communities Club bulan Mei 2013 lalu.
Sunday, 29 December 2013
,
Dari 16 peserta, dua di antaranya mundur karena baru tahu kalau MCHT ini digelar dengan cara berjalan kaki. Ya, kami berjalan kaki dari kampus (meeting point) sampai ke tujuan terakhir. Ada sekitar 20 tujuan yang akan kami kunjungi. Hujan yang turun dari pagi semakin membuat perjalanan akan terasa jauh dan berat. Namun, kami tetap bertekad kuat. Itulah mengapa setiap peserta sangat dianjurkan membawa payung atau jas hujan.
Sekitar 09.30, kami mulai berjalan dari kampus. Keluar menuju jalan Veteran melewati depan Mal Malang Town Square (Matos) dan MX yang dulunya adalah hutan dan rawa. Cukup banyak dekorasi yang lucu dan menarik sehingga membuat kami berhenti sejenak untuk foto bersama.
Foto asyik di depan MX dan Matos
Perjalanan terasa menyenangkan karena diiringi dengan canda dan tawa tiada henti. Hingga kami tiba di tujuan pertama kami, yaitu Gereja Santa Maria Bunda Charmel dan Monumen Pahlawan TRIP. Mas Rifqy selaku guide menjelaskan secara singkat keberadaan kedua tetenger itu. Ada kejadian unik ketika sekelompok polisi jaga melihat kostum jas hujan hijau terang yang dipakai Lutfi, mungkin dikira salah seorang anggotanya, hehehe.
Foto berlatar Gereja Santa Maria Bunda Charmel
“Wah, Ranger stabillo”, celoteh peserta MCHT yang melihat Rifqy dan Luthfi jalan bersama menggunakan jas hujan orange dan hijau. Mereka memang terlihat seperti polisi dan pemadam kebarakaran yang jalan bersama.
Tujuan selanjutnya adalah Museum Brawijaya. Kami singgah agak lama disini, selain karena hujan juga karena kami ingin lebih puas melihat-lihat peninggalan sejarah yang ada di museum. Ada beberapa peninggalan sejarah yang menarik perhatian kami seperti mobil salah seorang jenderal Kodam, koleksi mata uang jaman dulu, potret perjuangan gerilya Jenderal Sudirman, dan perbandingan foto-foto kota Malang ketika sebelum perang dan sesudah perang. Di Museum itu juga kita bisa melihat beberapa daerah kekuasaan militer negeri ini.
Berfoto di depan Museum Brawijaya sebelum melanjutkan perjalanan
Setelah hujan reda, kami melanjutkan perjalanan menuju sebrang museum, yaitu Monumen Melati Kadet Suropati. Monumen yang dibuat para alumni Kadet Suropati untuk mengenang jasa dan perjuangan mereka. Perpustakaan Umum Kota Malang kami lewati saja dan langsung menuju Stadion Gajayana yang legendaris sebagai stadion tertua yang dibangun di Indonesia sebelum Gelora Bung Karno di Jakarta dan Gelora 10 Nopember di Surabaya. Di luar stadion ini kami sempatkan makan siang karena cuaca dingin membuat kami lapar.
Dari stadion, kami beranjak melanjutkan perjalanan menuju Masjid Jamik Kota Malang untuk sekalian solat Duhur. Waktu yang semakin siang membuat kami hanya mendengarkan penjelasan tentang Alun-alun dan Kantor Pos Besar Kota Malang di halaman depan masjid.
Di depan Masjid Jamik Kota Malang usai solat
Usai solat, kami bergerak ke arah utara, melewati Plaza Sarinah yang konon tertua di Malang dan sering dijadikan tempat bersenang-senang Bung Karno saat zaman kolonial. Juga Toko Oen yang menjual es krim legendaris jujukan wisatawan lokal dan asing.
Kami berhenti sejenak di persimpangan Kayutangan, tepatnya di bundaran Monumen Chairil Anwar. Monumen ini dibangun untuk mengenang bahwa syair-syair Chairil Anwar pada masa perang sangat dibutuhkan untuk memompa semangat para pejuang. Di kawasan ini juga terdapat Gereja Hati Kudus Yesus dan kompleks pertokoan kuno Kayutangan. Ada versi berbeda mengenai nama Kayu Tangan ini, entah karena dulunya ada papan kayu berbentuk lima jari atau batang pohon yang berbentuk tangan.
Monumen Chairil Anwar (kiri) dan Jembatan Kahuripan
Dari Kayutangan, kami terus berjalan melewati Jembatan Kahuripan yang dulunya sempat menjadi jalan protokol penghubung Jalan Kahuripan dengan Jalan Semeru. Di perempatan masjid Kahuripan kami bertemu kelompok pendaki asal Bekasi dan Jakarta yang akan mendaki Gunung Semeru. Nampaknya, mereka berbondong-bondong mendaki jelang tutup awal tahun.
Loncat ceria di Tugu Alun-alun Bunder
Setelah dari Jembatan Kahuripan kami menuju ke Tugu Alun-alun Bunder. Kami melepas rasa lelah di tempat ini. Duduk santai di jalan setapak alun-alun, kemudian berfoto bersama. Menikmati suasana cerah sore hari disini sangatlah nyaman. Sungguh lega rasanya hampir mencapai tujuan akhir.
Dari Tugu, kami berjalan ke arah timur sedikit, berputar melewati Stasiun Malang Kota Baru dan Monumen Juang ’45, lalu singgah di halaman Balai Kota Malang.
Di muka Museum Tempo Doeloe
Di balkon lantai dua balai kota ini dulunya pernah berdiri Presiden Soekarno berorasi menyemangati warga kota Malang untuk berjuang mempertahankan kedaulatan republik. Usai berfoto, kami bergegas menuju tujuan terakhir, yaitu Museum Tempo Doeloe dan Resto Ingghil milik budayawan Dwi Cahyono. Sayang, keterbatasan budget membuat kami hanya sanggup melihat dan berfoto dari luar.
Waktu beranjak petang, kami kembali ke kampus dengan angkot biru yang kami sesaki sampai penuh. Hujan sudah lama berhenti, senja menutup gelaran “ritual” konservasi wawasan sejarah ini.
Ditulis oleh: Frida Ayundha Putry
Monday, 16 December 2013
,
Pelatihan yang diikuti sekitar 21 orang ini dilaksanakan di tebing Lembah Kera, Pagak, Kabupaten Malang. Dilatih oleh instruktur dari Gerpala Malang, peserta nampak antusias karena sebagian baru kali ini merasakan serunya panjat tebing. Karena keterbatasan tempat dan waktu, maka latihan hanya fokus pada teknik climbing.
Lembah Kera ini merupakan kawasan wisata lokal yang selain menyediakan fasilitas untuk panjat tebing, juga kerap dijadikan tempat perkemahan yang cukup nyaman bagi sekolah maupun universitas. Di bawahnya terdapat aliran sungai yang akan keruh saat hujan.
Saat pelatihan, instruktur dari Gerpala membuat dua jalur climbing agar peserta dapat menggunakannya secara bergantian dengan tingkat kesulitan yang berbeda. Satu jalur berada pada struktur tebing yang relatif landai, sedangkan satunya cukup curam sehingga sebagian peserta mengalami kesulitan bahkan terlepas dari pegangan batuan.
Climbing memang membutuhkan fisik yang prima, utamanya kekuatan lengan. Persiapan awal juga tidak boleh diremehkan, karena menyangkut nyawa pemanjat. Selepas Asar, latihan berakhir. Gamananta tentu mendapatkan ilmu yang bermanfaat, setidaknya dapat dijadikan wawasan dasar untuk seni khusus mendaki gunung.
Setelah PPGD dan Mountaineering, pelatihan selanjutnya adalah SAR-Survival yang rencananya akan digelar di Coban Talun, Batu.
Sunday, 1 December 2013
,
Setelah sempat singgah untuk sarapan di sebuah warung di Bululawang, sekitar dua jam perjalanan yang lancar, kami tiba di destinasi pertama, Pantai Bajulmati. Pantai indah dengan garis pantai yang cukup panjang ini memiliki deburan ombak yang besar. Dikatakan Bajulmati karena gugusan pulau karangnya menyerupai buaya yang tak bergerak. Pantai ini berlokasi di Kecamatan Gedangan, Kabupaten Malang.
Berlatar panorama Pantai Bajulmati
Sebelum matahari semakin terik, kami segera bergegas menuju destinasi selanjutnya, yaitu Pantai Ungapan. Pantai yang tak kalah menarik dengan Bajulmati ini juga sudah terkelola oleh Perhutani. Gradasi air laut yang biru adalah yang menarik di pantai yang juga satu garis pantai dengan Bajulmati ini.
Cerah di Pantai Ungapan
Keterbatasan waktu membuat kami tidak berlama-lama di Ungapan. Sebelum melanjutkan perjalanan ke pantai ketiga, kami berhenti sebentar untuk foto bersama di jembatan yang melintang di Jalan Lintas Selatan (JLS). Jembatan dengan arsitektur yang unik, namun sayang aksi vandalisme mengotorinya.
Narsis sejenak di Jembatan JLS
Hanya berjarak sekitar 5 km dari Bajulmati, kami tiba di destinasi ketiga, Pantai Goa China. Kawasan wisata pantai yang terbilang komplet layaknya Balekambang. Sudah terdapat fasilitas camp ground, warung, dan kamar mandi yang cukup banyak. Pantai ini dinamakan Goa China dikarenakan dulunya ada seorang berkebangsaan China yang datang dan bersemedi hingga mati di dalam goa yang ada di pantai tersebut. Gugusan karang hijau memberi warna sendiri di pantai ini. Cukup banyak wisatawan hari ini. Sayang, hujan turun begitu saja yang membuat kami harus berteduh. Suguhan kelapa muda menghibur kami dalam penantian menunggu redanya hujan.
Mendung di Goa China
Setelah reda, perjalanan pun berlanjut ke destinasi terakhir, yaitu Pantai Sendang Biru yang berombak tenang. Sendang biru merupakan pantai yang memiliki arus perputaran ekonomi dan juga uang yang cukup deras yang berasal dari TPI (tempat pelelangan ikan) yang berada tak jauh disebelahnya. Konon, perputaran uang dapat menyentuh angka ratusan juta setiap harinya. Kapal kapal yang berlabuh dari berbagai negara yang merupakan kapal sitaan dapat dilihat di pantai ini. Tak ketinggalan juga kapal para pribumi yang silih berganti berlabuh sambil membawa ikan tangkapannya.
Di seberang Sendang Biru inilah tersimpan berbagai keindahan pemandangan alam yang berada pada kawasan cagar alam Pulau Sempu. Kali ini kami belum berkesempatan ke sana.
Sore yang cerah pun menyambut, kami segera pulang kembali ke Malang dengan membawa ikan tuna segar yang kami beli dari TPI Sendang Biru. Oleh-oleh berupa foto juga tidak tertinggal, membawa banyak kenangan yang menyiratkan berbagai makna dan cerita dalam perjalanan singkat satu hari ini.
Ditulis oleh: Jauhar Syauqi
crew.jpg)

.png)




