Sunday, 22 September 2013

,

Rencana pendakian Gamananta ke Gunung Rinjani sudah dirancang sejak tahun 2012, semenjak Gamananta berdiri. Dirancang jauh-jauh hari agar anggota Gamananta yang ingin ikut serta dapat mempersiapkan diri. Jelang satu bulan keberangkatan, peserta awal adalah 14 orang. Semakin mendekati hari-H, peserta semakin mengerucut menjadi 8 orang, hingga akhirnya peserta yang masih bertahan sejumlah 4 orang. Satu orang terakhir bahkan membatalkan pada hari keberangkatan, 10 September 2013. Hehehe.

10 September 2013
Malang – Banyuwangi – Ketapang 
Tak terasa, hari ini tiba. Dari tujuh tiket kereta api, hanya tiga yang berfungsi, sisanya batal. Namun karena tidak ada pembatalan ke pihak stasiun, jadinya pasti kursi kami bertiga longgar di kereta nanti. Keempat anggota ekspedisi kali ini adalah:

Rifqy Faiza Rahman (Leader – Trip Planner – Documentation)
Muhammad Choirul Anam (Logistic – Documentation)
Teguh Rachmat Prianto (Trip Writer – Logistic)
Kama Yuda Feby Pratama (Logistic – Documentation)

Dari keempatnya, tiga teratas berangkat bersama-sama dari Malang. Sedangkan yang terakhir alias si Pepy sudah menunggu di Banyuwangi, karena rumahnya memang di sana. Siang itu, pukul 11.00, kami sudah berkumpul di gazebo pusat Universitas Brawijaya, Malang, untuk repacking. Kami bertiga ditemani dan bakal diantar teman-teman Gamananta yang turut serta siang itu, antara lain Rizky, Lita, Mustofa, Zaki, Fahri, Ike, Fitrah, Muchlis, Lutfi, dan Sukma. Beberapa konsumsi yang tahan lama kami bawa dari Malang, sementara bahan-bahan sayuran dan bumbu kami beli di Lombok nantinya sebelum pendakian.

Dilepas teman-teman Gamananta sebelum berangkat ke stasiun


Seusai solat, pukul 13.00 kami berangkat menuju stasiun Malang bersepeda motor. Karena lapar, kami menyempatkan makan siang sesampainya di stasiun. Di dalam peron stasiun, kami berpamitan kepada teman-teman Gamananta dan memohon doa restu agar perjalanan kali ini sukses dan selamat. Tepat pukul 14.45 WIB, kereta api Tawang Alun tujuan Banyuwangi mulai berjalan meninggalkan stasiun Malang.

Perjalanan kereta ini akan melewati beberapa stasiun, Singosari, Lawang, Bangil, Pasuruan, Probolinggo, Tanggul, Rambipuji, Jember, Garahan, Kalibaru, Genteng, Kalisetail, Karangasem, dan terakhir Banyuwangi Baru. Kami tiba di stasiun Banyuwangi Baru sekitar pukul 22.30. Di stasiun, sudah menunggu tiga orang pendaki yang gabung dengan kami ke Rinjani, mereka adalah Mas Iqbal (Pekalongan), Mas Dwi (Purworejo), dan Mas Rahmat (Jakarta). Mereka bertiga naik kereta Sri Tanjung dari Yogyakarta. Ditambah Pepy yang sudah menunggu di masjid depan pelabuhan Ketapang, jadilah kami bertujuh siap mengarungi Rinjani.

11 September 2013
Gilimanuk - Padang Bai – Lembar - Senaru
Seusai solat di masjid, kami segera naik ke kapal Ferry menuju Gilimanuk. Penyeberangan selama kurang lebih satu jam kami manfaatkan untuk makan malam. Sekitar pukul 02.00 WITA kami tiba di pelabuhan Gilimanuk. Setelah melewati pemeriksaan KTP, kami segera naik bus bomel dengan tujuan langsung ke Padang Bai. Bus baru berangkat sekitar pukul 03.00 WITA. Perjalanan ke Padang Bai memakan waktu sekitar 5 jam. Kami baru bisa benar-benar terlelap kala bus sudah mulai berjalan.

Ngeksis dulu sebelum menyeberang ke Lembar

Tepat pukul 07.30 kami tiba di Padang Bai. Sebelum menyeberang, kami menyempatkan sarapan ringan di sebuah warung. Seusai sarapan, kami langsung menuju kapal ferry menuju pelabuhan Lembar. Penyeberangan ke sana cukup lama, sekitar 4 jam perjalanan. Hal inilah yang mungkin menyebabkan tarif penyeberangan Padang Bai – Lembar lebih mahal daripada Ketapang – Gilimanuk. Perjalanan yang cukup membosankan ini kami isi dengan tidur, keliling kapal, dan ngobrol-ngobrol dengan para bule.

Anjungan kapal ferry. Nampak di depan Pelabuhan Padang Bai

Terbatasnya jumlah dermaga yang digunakan dan ruwetnya antrian penumpang, membuat kami baru benar-benar menginjakkan kaki di pelabuhan Lembar sekitar pukul 13.30. Di pelabuhan, kami dijemput oleh Pak Hamdan, sopir engkel yang diminta Pak Saat menjemput kami menuju Senaru. Pak Saat adalah contact person yang akan membantu akomodasi kami selama di Senaru. Saya memperoleh kontak beliau dari Mas Fandy, anggota Gamananta yang sudah sebelumnya ikut dalam pendakian ke Gunung Arjuno bulan Maret kemarin dan sudah pernah ke Rinjani.

Perjalanan menuju Senaru memakan waktu hampir 4 jam, melintasi pegunungan Lombok Barat dan pesisir Lombok Utara. Kami memilih menginap di Senaru, meskipun mendaki lewat Sembalun. Alasannya, Pak Saat menawarkan fasilitas tidur gratis, listrik gratis, air dan mandi gratis. Kami hanya perlu membayar biaya makan yang dihargai sekitar Rp 15.000,00 per orang sekali makan dengan menu melimpah dan mengenyangkan. Sungguh tawaran jasa yang sangat meringankan kami. Setibanya di rumah Pak Saat, kami bergantian mandi dan repacking.  Anam, yang kebagian tugas logistik ditemani Pak Saat mencari sewaan tenda dan belanja konsumsi. Malam ini kami istirahat lebih awal karena esok pagi akan dimulai perjuangan yang melelahkan.

Menu makan malam di rumah Pak Saat

12 September 2013
Desa Bawak Nao – Plawangan Sembalun

 Siap berangkat menuju Sembalun

Setelah sarapan, kami berangkat menuju Rinjani Trekking Center (RTC), Sembalun, untuk registrasi perizinan pendakian. Transportasi kali ini adalah pick up. Di tengah perjalanan, kami menyempatkan mampir di Pasar Senaru untuk belanja konsumsi tambahan. Perjalanan ke Sembalun yang naik turun dan berkelak-kelok membuat waktu tempuh terasa lama. Biaya pendakian di Rinjani sangat murah, Rp 2.500,00 dan tidak ribet dengan berbagai persyaratan njlimet. Bandingkan dengan perizinan di Semeru maupun Gede Pangrango, yang rumit dan mahal. Sesuai saran Pak Saat, kami juga menyewa porter selama dua hari untuk menjaga tenda di Plawangan Sembalun ketika kami muncak nanti. Di sana sering terjadi kasus kehilangan peralatan pendakian. Demi keamanan, kami ikuti saran Pak Saat.

Start pendakian

Kami start pendakian tidak dari RTC Sembalun, yang masih berjarak 3 jam menuju Pos I. Kami memulai langkah dari Desa Bawak Nao yang memangkas waktu lumayan banyak menuju Pos I. Bersama seorang porter, Pak Muhammad, kami memulai pendakian sekitar pukul 10.00 WITA. Selama perjalanan hingga pertengahan bukit penyesalan, kami disuguhi pemandangan sabana yang luas dan panas. Beruntung cuaca menjadi mendung selepas Pos II. Jarak tempuh dari Desa Bawak Nao ke Pos I hanya 1 jam, Pos I ke Pos II ditempuh selama 30 menit, Pos II – Pos Extra – Pos III ditempuh selama 1 jam. Sumber air bersih ditemui di Pos II dan Pos Extra. Waktu tempuhnya relatif tidak lama, namun yang membuat lelah adalah jalur begitu terbuka, naik turun dan panjang.

 Pos I Pemantauan: Foto bareng pendaki bule asal Slovakia

Pos II Tengengean: Tempat servis makan rombongan bule

Ujian sesungguhnya di Rinjani jalur Sembalun: Bukit Penyesalan

Ujian bagi kami adalah selepas Pos III, langsung dihadapkan jalur menanjak tanpa henti. Inilah Bukit Penyesalan. Ada sekitar 5 hingga 7 bukit yang harus kami lalui sebelum Plawangan Sembalun. Dari Pos Extra ke arah kanan sebenarnya juga ada jalur (Bukit Penderitaan), namun sudah tidak terpakai lagi karena sudah rusak. Di Bukit Penyesalan, setiap selesai berjalan hingga di ujung bukit, maka di depan akan terhampar bukit lain yang lebih tinggi dari sebelumnya. Begitu seterusnya. Bukit yang selama berjalan tertutup kabut, menjadi terbuka saat kami sampai di ujung bukit. Sungguh benar-benar menguji mental dan fisik kami, seolah meminta kami menyerah. Namun, semangat Ji! Ro! Lu! Budal! Gamananta menyertai langkah kaki kami. Setelah merasakan hujan mengguyur di tengah Bukit Penyesalan, 3,5 jam kemudian tibalah kami di sebuah dataran yang menjadi akhir tanjakan bertubi-tubi yang kami hadapi sebelumnya.
 
Kabut tipis di Plawangan Sembalun

  Lautan awan Plawangan Sembalun

 Gigiran jalur menuju puncak dilihat dari Plawangan Sembalun

Waktu sudah menunjukkan pukul 18.00 WITA saat kami menginjakkan kaki di Plawangan Sembalun. Pemandangan dari sini sangat indah. Jalur tipis ke puncak terlihat cukup jelas, lautan awan dan kabut serta semburat oranye tenggelamnya matahari terlihat jelas dari sini. Menjelang gelap kami segera mendirikan tenda. Urusan air diambil alih oleh Pak Muhammad, menjalankan tugas beliau sebagai porter.Setelah masak, makan malam, dan mempersiapkan bekal muncak, kami segera istirahat. Tenda yang kecil untuk kami berempat (rombongan lain membawa tenda sendiri), tidak menyurutkan semangat kami ke puncak. Sebelum tidur, kami sempatkan melihat sekilas kilauan Danau Segara Anak dari atas yang nampak putih terpapar sinar rembulan dengan kabut tipis sesekali membayangi.

13 September 2013
Plawangan Sembalun – Puncak Rinjani
Sekitar pukul 01.30, kami terbangun dan bersiap-siap. Selain persiapan alat tempur untuk mengarungi medan ke puncak, kami juga mempersiapkan bekal seperti roti selai dan jelly. Sayang sekali, Mas Iqbal dan kawan-kawan masih lelah dan kurang fit untuk melanjutkan perjalanan ke puncak. Mereka baru berencana muncak hari ketiga sehingga camp di Plawangan Sembalun semalam lagi. Jadilah kami berempat akan menuntaskan misi Gamananta.

Beriring doa dan semangat Budal!, kami mulai melangkah menuju puncak pada pukul 03.00 WITA. Kami tidak sendirian, banyak porter yang mendampingi para bule juga berjalan ke puncak lebih awal dari kami. Selangkah bagi bule, dua langkah bagi kami. Hehehehe. Sekitar pukul 04.30, kami sudah melewati batas vegetasi hutan dan terus menanjak. Jalur berganti menjadi pasir yang tidak terlalu padat dan batu-batu cukup besar yang cenderung licin. Awal jalur pasir ini landai, kemudian menanjak tajam yang sepertinya baru berakhir mendekati puncak. Jika dilihat dari batas vegetasi, jalur pasir ini nampak seperti “Letter E”, berkelak kelok.

Sekelebat jingga mulai menyinari pagi di lereng Rinjani

 Ada "3 cm" di Rinjani, hehehe

Ketika matahari akan menunjukkan sinarnya, kami sempatkan solat Subuh di tengah perjalanan, di lereng yang miring. Sungguh pagi itu sangat luar biasa indahnya. Pukul 06.15, matahari dengan bulat sempurna telah terbit menyinari semesta. Jelas sekali dari sini terlihat garis pantai Lombok, tiga Gili yang terkenal itu, Gunung Agung, dan bayangan puncak Rinjani yang “jatuh” di atas hijaunya air Danau Segara Anak. Dari sini juga kami sempat melihat ke bawah, jalur yang kami lalui sebelumnya. Tak menyangka sudah sampai setinggi ini.

Sunrise of Indonesia

 Danau Segara Anak dan bayangan puncak

Namun, perjalanan kami belum berakhir. Puas menikmati sunrise, kami berjalan lagi ke puncak. Saat kami masih tertatih-tatih berjalan ke puncak, nyatanya malah banyak bule yang turun dari puncak. Nampaknya mereka cukup puas hanya dengan melihat sunrise dari atas puncak. Saling sapa menyemangati kami berempat, kami terus berjalan tanpa henti. Akhirnya, saat jarum jam menunjukkan angka 07.30, tibalah kami berempat di puncak tertinggi Nusa Tenggara, gunung berapi tertinggi kedua di Indonesia, Puncak Rinjani 3.726 mdpl.

Gamananta di puncak Rinjani 3.726 mdpl

 Menorehkan nama-nama GAMA'ers di atas puncak Rinjani. Terima kasih teman-teman!

Sujud syukur, peluk haru, dan air mata mewarnai euforia kebanggaan kami di puncak ini. Bukan kebanggaan pribadi, namun lebih kepada rasa bangga kepada negeri ini, Indonesia yang memiliki Rinjani di tanahnya. Di puncak, tidak terlalu banyak pendaki sehingga membuat kami leluasa mengambil foto sebanyak-sebanyaknya. Sungguh kesempatan yang langka dalam seumur hidup kami. Dari sini, pemandangan sekitar dan di bawahnya sangat indah. Cukup lama kami di puncak, hampir satu jam lamanya mengabadikan momen berharga ini. Kawan, Gamananta sudah mengukir jejak kecilnya di tanah ini.

Pemandangan khas dari atap Nusa Tenggara

 Puncak Rinjani 3.726 mdpl

Jalur turun ke Plawangan Sembalun

Puas di puncak, satu jam berselang kami kembali turun. Jalan turun kembali ke Plawangan Sembalun kami tempuh hampir 2,5 jam santai dan sesekali berseluncur, mirip saat turun dari Mahameru. Setibanya di Plawangan Sembalun, kami bergantian repacking dan masak makan siang. Rombongan Mas Iqbal dkk akan menetap di sini semalam lagi karena akan muncak besoknya. Sehingga kami sepakat bertemu di Danau Segara Anak. Sedangkan Pak Muhammad izin pulang ke Sembalun karena memang kesepakatan kami hanya dua hari. Rencananya Mas Iqbal dkk menyewa porter lagi dari Senaru untuk dijemput ke Plawangan Sembalun karena Mas Dwi dalam kondisi kurang fit.

Perjalanan menuju Segara Anak

Setelah repacking dan solat, pukul 15.00 kami mulai berjalan turun menuju Danau Segara Anak. Treknya hampir mirip dengan jalur Pet Bocor – Kokopan di Gunung Arjuno jalur Tretes, berbatu dan berputar-putar. Sesekali ada bonus trek, lalu turun curam lagi. Jalur yang turun naik, berkelak-kelok cukup melelahkan. Terdapat dua buah jembatan penghubung jalur yang melintasi sungai kering. Kabut mulai turun kala hari mulai gelap.Setelah 2,5 jam berjalan, kami tiba di areal camp Danau Segara Anak. Sesuai saran Pak Muhammad kami memilih camp di tepi danau dan menghadap Gunung Barujari. Kemudian, kami berbagi tugas. Anam dan Teguh mendirikan tenda dan mempersiapkan makan malam, saya dan Pepy mengambil air yang lokasinya berdekatan dengan sumber air panas atau Aik Kalak nama setempatnya.  Menu mi rebus dan sayur plus kopi panas cukup membuat kenyang perut kami untuk mengantarkan kami terlelap dalam tidur kami malam ini. Lega rasanya sudah menggapai puncak.

14 September 2013
Bergembira ria di Danau Segara Anak
Suatu pagi di Danau Segara Anak. Sangat indah. Permukaan air danau nampak tenang. Walaupun tidak bisa diminum, air danau ini masih bisa dipakai untuk mencuci peralatan masak maupun berenang. Bahkan, saat malam atau Subuh pun air danau tidak terlalu dingin dan cenderung hangat. Mungkin karena ada kandungan belerang di dalamnya. Seharian ini, aktivitas kami adalah masak, makan, bermain kartu, mancing, foto-foto. Pokoknya aktivitas bebas sekaligus recovery fisik untuk perjalanan pulang esok pagi yang tak kalah melelahkan.

Danau Segara Anak di pagi hari dan Gunung Barujari

Foto keluarga di Danau Segara Anak. Kabut mulai datang kala siang

Serupa dengan di Plawangan Sembalun, di sini juga banyak dijumpai kera-kera yang cukup agresif. Jadi, pastikan kawan-kawan mengamankan bahan makanan maupun logistik lainnya tetap di dalam tenda. Sampah secuil apapun yang berserakan pasti dipungut mereka, apalagi sampah yang mencolok utamanya berupa makanan. Tengah hari, rombongan Mas Iqbal dkk telah tiba di Segara Anak. Menjelang gelap, saya dan Anam kebagian tugas lagi mengambil air untuk bekal hari ini dan besok. Malam ini, kami sepakat menghabiskan sisa konsumsi yang ada sebagai makanan hari ini dan bekal besok pagi sebelum pulang untuk meringankan beban.

Sumber air tawar, sekitar 500 meter dari Segara Anak, sejalur dengan Aik Kalak

Inilah hari ketiga kami di Rinjani. Malam terakhir di Rinjani.

15 September 2013
Danau Segara Anak – Plawangan Senaru – Desa Senaru
Kami mulai bangun sekitar pukul 04.00 WITA. Sementara Anam dan Pepy pergi berendam air panas, saya dan Teguh mempersiapkan sarapan dan bekal perjalanan pulang. Saya sendiri ikut menikmati air panas saat mereka berdua kembali ke tenda. Sumber air panasnya sangat enak buat berendam (saya hanya mencuci kaki). Jika musim penghujan tiba, debit Aik Kalak akan melimpah dan deras.

Aliran sumber air panas Aik Kalak

Setelah sarapan dan repacking, kami mulai start menuju Plawangan Senaru sekitar pukul 07.30. Rombongan Mas Iqbal sudah berjalan duluan setengah jam yang lalu. Perjalanan menuju ke Plawangan Senaru tidaklah mudah. Setelah jalur landai dan datar di pinggiran danau, memasuki hutan jalur mulai menanjak terus menerus. Ditambah pasir berdebu, membuat kami sibuk menutup mulut kami agar tidak masuk ke dalam pernafasan. Dalam perjalanan, kami banyak menjumpai bule yang menuju Segara Anak melalui jalur Senaru. Jalur yang terus menanjak tajam membuat kami tertatih-tatih di tengah matahari yang menyengat. Bahkan sebelum mencapai Plawangan Senaru, terdapat jalur berbatu yang memaksa kami climbing, seolah lutut bertemu mulut. Setelah 3,5 jam berjalan, tibalah kami di Plawangan Senaru yang sepi.

 Suguhan panorama sepanjang perjalanan menuju Plawangan Senaru

Terus turun mengikuti stringline, kami tiba di Pos Extra. DI sini sudah menunggu rombongan Mas Iqbal dkk. Dari sini kami berjalan bersama hingga ke bawah. Dari Pos Extra, butuh waktu sekitar 3 jam hingga Pos I, melalui Pos III dan Pos II. Di Pos II ternyata sering dijadikan tempat istirahat para bule yang menerima servis makan dari porter. DI sini juga terdapat sumber air musiman yang tidak terlalu jernih. Yang enak di jalur Senaru adalah, jalur terus berada di dalam hutan sampai bawah, sehingga tidak terlalu panas. Yang berat adalah jalur terus menerus turun tanpa ampun, perlahan-lahan karena banyak akar-akar pohon yang melintang. Mirip dengan jalur pendakian Gunung Gede lewat jalur Gunung Putri.

Anam di Plawangan Senaru

 Pos I Jalur Senaru

 Gerbang Pendakian Jalur Senaru

Perwakilan Kantor Taman Nasional Gunung Rinjani Resor Senaru

Di antara sekian pos, jarak tempuh dari Pos II menuju Pos I lah yang paling jauh, sekitar 1,5 jam berjalan. Dari Pos I, masih 1 km lagi menuju Jebang Bawah atau gerbang pendakian jalur Senaru. Ketika lelah sudah menggelayuti kami saat tiba di Jebang Bawah, kami masih harus bersabar dan mengayuhkan kaki untuk turun menuju Desa Senaru. Jaraknya 1,5 km atau sekitar 45 menit dan terus menurun. Bayangkan saja, Plawangan Senaru yang tingginya mencapai sekitar 2.900 mdpl, dihajar turun hingga ke Desa Senaru yang “hanya” sekitar 600 mdpl. Setelah melewati kantor Rinjani Information Center (RIC) Senaru, kami juga melewati kawasan desa adat Senaru. Setelah berjalan sejak jam 07.30 pagi, akhirnya kami tiba di rumah Pak Saat lagi sekitar pukul 16.30. Keramahan khas  dan ucapan selamat dari beliau menyambut kami.

Walau lelah dari Rinjani, masih sempat berfoto di depan gapura Desa Adat Senaru

Kehausan yang melanda kami dari Pos I membuat kami memborong minuman. Sorak sorai menggema kami begitu istri Pak Saat menawarkan kami untuk dimasakkan menu Plecing Kangkung malam ini. Wah, mantap! Malam ini, kegiatan kami selain belanja suvenir pendakian yang terdapat di Pak Saat, kami juga menyempatkan evaluasi. Hasil kesepakatannya untuk kegiatan besok adalah saya dan Teguh harus pulang terlebih dahulu ke Malang karena urusan akademik dan menipisnya budget. Sedangkan Pepy, Anam, Mas Iqbal dkk akan lanjut ke Gili Trawangan. Sehingga kami tiba di Malang tanggal 17 September, sedangkan mereka baru tiba di Malang esoknya, 18 September.

Anam dan Pepy di Gili Trawangan

 Senja di Gili Trawangan

Kami sepakat perjalanan pulang dari Mataram ke Malang tetap estafet, berakhir dengan kereta api dari Banyuwangi ke Malang untuk menghemat anggaran dan efisiensi waktu. Rasa lega dan plong menyertai tidur kami malam ini. Ekspedisi Tiga Tujuh Dua Enam tuntas sudah. Terima kasih Tuhan, terima kasih Gamananta. Ji! Ro! Lu! Budal!


Special Thanks to:
Allah SWT
Orang tua tercinta
Semua teman-teman Gamananta
Mas Iqbal (Pekalongan), Mas Dwi (Purworejo), dan Mas Rahmat (Jakarta)
Pak Saat, Pak Hamdan, dan Pak Muhammad
Mas Maman (thanks sudah bantu cari tumpangan truk)
Pak Gusti (thanks buat tumpangan truknya ke Denpasar)
Someone who has help us

Ditulis oleh:
Rifqy Faiza Rahman

Saturday, 24 August 2013

,
 
Arjuno-Welirang (lagi). Dalam kurun waktu tahun 2013 ini terhitung sudah ketiga kalinya GAMANANTA mendaki ke Gunung Arjuno-Welirang. Namun, ada tujuan lebih di perjalanan kali ini. Tak hanya sekedar mendaki - menikmati eksotisme alam Gunung Arjuno-Welirang - namun untuk mengibarkan bendera di atas sana, dan melaksanakan upacara sebagai peringatan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-68 pada tanggal 17 Agustus 2013.

Kamis, 15 Agustus 2013
Gazebo Universitas Brawijaya menjadi meeting point yang disepakati dalam perjalanan kali ini. Pukul 13.00 WIB, ke-17 anggota sudah berkumpul. Kurang lebih 2,5 jam waktu kami gunakan untuk mengecek peralatan, logistik dan packing ulang tas masing-masing. Pukul 14.30 WIB, kami segera mencari angkutan charter untuk menuju Terminal Arjosari. Karena saat itu masih dalam suasana arus balik lebaran yang menyebabkan lalu lintas kota Malang sangat macet, kami pun sedikit kesulitan untuk mendapatkan angkutan. Pukul 15.30 WIB akhirnya kami mendapatkan angkutan, dan segera bergegas menuju Terminal Arjosari yang ditempuh dalam waktu sekitar 20 menit. Begitu sampai di Arjosari kami segera mencari angkutan menuju Tretes-Pasuruan. Kami memilih untuk mencharter angkutan berupa colt, sehingga waktu tempuh akan lebih cepat dibandingkan jika kami memilih bus karena nantinya harus oper angkutan di Pandaan. Setelah negosiasi harga yang sedikit alot dengan pemilik colt, akhirnya kami bergegas menuju Tretes. Lagi-lagi karena macet akibat arus balik lebaran, perjalanan yang harusnya ditempuh hanya dalam waktu 1,5 jam molor menjadi 2,5 jam. Tepat pukul 18.30 WIB kami sampai di basecamp pendakian jalur Tretes yang berlokasi di depan Hotel Tanjung. Kedatangan kami disambut oleh ramainya rombongan pendaki lain yang mungkin mempunyai “misi” sama dengan kami. Jalur Tretes merupakan jalur paling favorit bagi para pendaki dalam mendaki Gunung Arjuno-Welirang. Meski jalur lebih panjang, namun akses yang mudah dan tersedianya sumber air yang lebih banyak menjadi alasan jalur ini banyak dipilih. 

Setelah menyelesaikan administrasi di bacecamp pendakian, kami bergegas shalat, lalu membeli bekal nasi bungkus untuk makan malam nanti di Pos Kokopan.Begitu kami pastikan bahwa seluruh perlengkapan sudah siap, kami pun segera mulai pendakian, saat itu jam menunjukkan pukul 20.20 WIB.Track yang kami lalui berupa jalan beraspal dan cukup menanjak. Setelah sekitar 20 menit berjalan, salah satu anggota, Jeanny, merasa pusing dan mual. Saya dan Ronny kemudian menemaninya untuk duduk dan beristirahat selama beberapa menit, sementara yang lain melanjutkan perjalanan, namun saya minta untuk menunggu di Pos Pet Bocor. Perjalanan dari basecamp – Pet Bocor kami tempuh selama 50 menit.Di Pos ini terdapat warung yang menjual beraneka gorengan dan minuman, sehingga banyak dimanfaatkan oleh para pendaki untuk bersantai di tengah-tengah pendakian, sekaligus beristirahat sejenak setelah dihajar oleh kerasnya jalur beraspal.

Setelah Saya, Jeanny dan Ronny berhasil menyusul teman-teman yang lain di Pet Bocor, kami segera melanjutkan perjalanan menuju Pos Kokopan, lokasi yang kami pilih untuk camping malam ini. Track berubah menjadi jalur berbatu, sama menyiksanya dengan jalur aspal. Tak berapa lama dari Pet Bocor, rombongan harus kembali dibagi menjadi 2 tim, 14 orang di depan. Sementara saya dan Ronny harus menyesuaikan dengan kondisi Jeanny yang belum lagi pulih, tertinggal di belakang. Kami bertiga baru tiba di Kokopan pukul 00.30 WIB sementara yang lain sudah mendirikan tenda satu jam sebelumnya. Setelah menyantap bekal makan malam yang sudah kami bawa tadi, kami bergegas untuk tidur untuk memulihkan stamina yang cukup terkuras, dan berharap kondisi Jeanny segera membaik.

Pemandangan Gunung Penanggungan dari Pos Kokopan

Jum’at, 16 Agustus 2013
Adzan Shubuh yang masih mampu terdengar hingga Pos Kokopan, membangunkan tidur pulas kami hari itu.Pagi yang begitu cerah, menambah semangat kami untuk melanjutkan perjalanan hari ini. Waktu beberapa jam kami gunakan untuk menikmati sunrise, sarapan dan mengisi persediaan air.

 Sunrise dari Kokopan

Gunung Penanggungan yang tampak sangat indah

Pukul 09.00 WIB kami lanjutkan perjalanan menuju Lembah Kijang, lokasi yang kami pilih untuk camping di malam kedua. Di tengah-tengah perjalanan, kondisi Jeanny yang belum begitu membaik ternyata memaksanya harus turun ke Malang, ditemani oleh Ronny, jadilah tersisa 15 orang yang melanjutkan perjalanan. Masih dengan track berbatu, 4 jam perjalanan menuju Lembah Kijang harus kami nikmati. Setibanya di Lembah Kijang, kami segera mendirikan 5 tenda yang kami bawa, kemudian menyiapkan masakan untuk makan siang. Setelahnya, kami masih punya banyak waktu hingga nanti malam, untuk beristirahat guna memulihkan stamina. Jujur saja, tanjakan dan kerasnya jalur membuat kami sangat lelah, serta kedua kaki yang terasa mau copot.


(dari depan ke belakang) Anam, Teguh dan Eric berfoto di Pos Pondokan

Sabtu, 17 Agustus 2013
This is the day! Kami bangun dini hari dengan semangat berlipat-lipat. Karena inilah tujuan utama kami di pendakian kali ini, melaksanakan upacara peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-68 di Gunung Welirang. Kami mulai berangkat summit attack pukul 02.25 WIB, menyusuri jalur yang kami lalui siang tadi menuju Pos Pondokan kemudian tinggal mengikuti jalur menuju puncak Welirang yang tidak begitu sulit ditemukan, karena jalur ini biasa dilewati para penambang sehingga cukup lebar. Track berupa jalan tanah, setelahnya kembali berupa jalan berbatu yang sudah menjadi ciri khas Arjuno-Welirang. Mental dan fisik kami kembali diuji disini, karena jalan berkelok seakan tak berujung. Untuk menambah semangat, berulang kali kami teriakkan “Semangat 17 Agustus..!!”. Perjalanan selama 2,5 jam kami sejenak terhenti di sebuah pelataran dengan hamparan bunga edelweiss-nya, masih sekitar satu jam lagi menuju puncak. Kami memutuskan untuk beristirahat disini, shalat Shubuh, kemudian menyantap bekal sarapan yang kami bawa. Beberapa saat kemudian, pemandangan indah tersaji di hadapan kami, Mentari 17 Agustus!

Menunggu sunrise

Detik-detik Mentari 17 Agustus

Muchlis dan Lia berfoto dengan latar belakang sunrise

Setelah berfoto untuk mendokumentasikan keindahan yang baru saja kami saksikan, segera kami bergegas melanjutkan sisa perjalanan menuju puncak.Track kali ini relatif lebih mudah, minim tanjakan. Pemandangan di sekeliling yang sangat indah membuat kami begitu menikmati perjalanan, hingga menjejakkan kaki di puncak Welirang, sekitar pukul 06.45 WIB.

Kawah Gunung Welirang

Foto bersama di Puncak Welirang

Kami tak bisa berlama-lama berada di puncak, karena aroma belerang yang sangat menyengat dapat membuat kami sesak napas.Hanya berfoto selama 10 menit, setelah itu turun mencari areal yang cukup luas di lereng Welirang untuk melaksanakan upacara. Karena upacara di alam menjadi pengalaman pertama bagi kami semua, butuh waktu beberapa jam untuk simulasi. Dan akhirnya pukul 9.30 WIB upacara dilaksanakan.Sederhana, namun tak sedikitpun mengurangi rasa khidmat. Rasa bangga yang teramat dalam menancap di dada kami, saya sendiri pun sempat menangis terharu ketika menyanyikan lagu Indonesia Raya dan pembacaan proklamasi.

Suasana khidmat dalam upacara peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-68

Sesaat setelah pengibaran bendera

Pembacaan proklamasi kemerdekaan

Setelah upacara selesai, kami segera kembali ke Lembah Kijang. Waktu tempuh saat turun memang selalu tak selama waktu tempuh saat naik, 2 jam kami sudah tiba kembali di Lembah Kijang. Sangat lelah, namun semangat kami belum habis. Perjalanan besok tak kalah beratnya dibandingkan hari ini, masih ada Puncak Arjuno dengan track yang lebih sulit.

Minggu, 18 Agustus 2013
Dinginnya Lembah Kijang membangunkan saya dan teman-teman, saatnya summit attack Arjuno! Tidak seperti kemarin, kali ini kami hanya berangkat bertiga belas. Anggrek memilih untuk menunggu di dalam tenda karena masih merasa kelelahan akibat perjalanan kemarin. Teguh pun memutuskan untuk menemaninya disana.Semangat saya dan teman-teman masih sama seperti kemarin, track dengan kontur tanah dan menanjak kembali kami lahap. Tiba di sebuah tempat datar di sebelah batu besar kami kemudian berhenti untuk shalat shubuh, kemudian sarapan. Setelah itu, melanjutkan perjalanan, berharap ketika matahari terbit kami sudah sampai di puncak.Ternyata matahari lebih dulu terbit ketika kami masih di tengah-tengah perjalanan. Kami pun sejenak berhenti untuk mendokumentasikannya. Keren! Tidak kalah indah dengan sunrise kemarin.

Zaka berfoto dengan latar belakang sunrise

Setelah puas berfoto, kami segera memompa semangat kembali menuju puncak. Sudah dekat, karena dari situ saya sudah bisa melihat pasar Dieng, sebuah pelataran di bawah puncak Arjuno yang ditandai dengan adanya makam-makam kuno.Di pasar dieng kami menjumpai beberapa rombongan pendaki yang bermalam disana, sekitar 4-5 tenda.Hanya 20 menit dari pasar dieng, akhirnya kami sampai di puncak.Seketika saya teriakkan pada teman-teman, “Arjuno-Welirang tuntas!” dengan penuh semangat. Satu persatu kami bersujud sebagai rasa syukur, telah diijinkan menginjakkan kaki di satu dari sekian titik tertinggi di tanah air, terlebih lagi di momen HUT Kemerdekaan RI. Setelahnya kami memuaskan diri dengan berfoto.

 
Bersantai di Puncak Arjuno

Puncak yang kemarin kami daki, Welirang!

Foto bersama sebelum turun

Pukul 07.30 WIB kami segera turun kembali ke Lembah Kijang, tentunya dengan rasa puas di dalam diri masing-masing. Di pasar Dieng kami berhenti sejenak untuk menghabiskan sisa bekal. Pukul 11.00 WIB kami sudah berada di Lembah Kijang, dan menyempatkan untuk berfoto sejenak.

Berfoto di Lembah Kijang dengan latar belakang Gunung Arjuno yang begitu gagah

Kami kembali ke tenda dengan perasaan puas, senang, serta bangga yang bercampu jadi satu saat itu. Namun tak dipungkiri juga, kondisi badan begitu lelah, sehingga kami tertidur selama kurang lebih 2 jam. Setelah bangun dan shalat dhuhur, kami segera menyiapkan masakan untuk makan siang. Sisa logistik yang ada kami jadikan menu makan yang begitu nikmat. Begitu selesai menyantap makan siang, kami segera packing dan bersiap untuk turun kembali ke basecamp. Entah karena kondisi badan terlampau letih atau terlalu santai, kami baru turun pukul 16.30 WIB. Saya berpikir, sudah pasti sampai di basecamp malam hari. Jalan yang dilalui memang tak lagi menanjak, namun ketika turun justru kaki akan menopang beban yang lebih berat, ditambah lagi dengan kondisi jalur yang berbatu serta kondisi fisik yang sudah mulai drop, lengkap sudah penderitaan yang dirasakan oleh kedua kaki kami.

Perasaaan sedikit lega ketika sudah sampai di Pos Kokopan kembali, perjalanan turun tinggal sepertiga lagi! Setelah beristirahat selama 10 menit kami segera melanjutkan perjalanan.Yang ada di pikiran kami hanya ingin cepat tiba di basecamp dan segera kembali ke Malang. Akhirnya, kami sampai juga di basecamp setelah berjalan selama 1,5 jam dari Pos Kokopan. Segera kami melapor kepada petugas bahwa kami telah turun. Namun, keinginan kami untuk segera kembali ke Malang harus tertunda beberapa jam karena Anggrek yang drop sejak dari Lembah Kijang tadi siang tiba-tiba pingsan.Kami baru bisa bertolak dari basecamp Tretes pukul 11.30 WIB dan tiba di Malang pukul 03.00 WIB.

Ditulis oleh:
Mohammad Lutfi Hidayat 

Saturday, 13 July 2013

,

Untuk tetap mempererat hubungan antar anggota dan menyemarakkan bulan suci Ramadan, Gamananta menyelenggarakan dua kegiatan utama. Pertama, pada tanggal 11 Juli 2013 menggelar acara buka puasa bersama. Sedangkan esoknya, tanggal 12 Juli 2013 menggelar Sahur on the Road.

Kegiatan buka puasa bersama digelar di kos Fitrah di Jalan Watumujur, Lowokwaru, Malang. Cukup banyak anggota yang ikut dalam acara buka puasa bersama tersebut. Sebut saja Rizky, Muchlis, Mustofa, Lutfi, Fahri, Mas Kurniawan, Azza, Lita, Ike, Citra, Aisyi, Anita, Zaki, Farros, Jeanni, Fitrah, Eric, dan Sukma.



Sedangkan untuk kegiatan Sahur on the Road dilangsungkan di kawasan Pasar Besar Malang. Berbeda dengan buka puasa yang menggunakan menu hasil masakan sendiri/ Pada acara sahur di jalanan, Gamananta memesan sejumlah nasi kotak dan dimakan di kawasan tersebut. Tujuannya tidak hanya makan bersama, tetapi juga berbagi makanan sahur dengan para tukang becak maupun pedagang yang sudah berada di kawasan pasar.

Demikianlah salah satu cara Gamananta untuk tetap menyemarakkan Ramadan dengan berbagi dan berkumpul bersama dalam acara yang sederhana.

Monday, 1 July 2013

,


Pagi ini, 28 Juni 2013 begitu dingin. Gerimis rintik-rintik tak sederas semalam. Aktivitas pagi ini kami isi dengan bergantian solat Subuh, dan mempersiapkan sarapan untuk tim besar ini. Suhu pagi di Ranu Kumbolo sangat dingin, air danau yang saya pakai untuk wudhu membuat jari-hari saya menjadi kaku. Sayang sekali, kabut Ranu Kumbolo menghalangi terbitnya matahari pagi ini. Hari ini, jumlah anggota tim berkurang menjadi 27 orang, karena Teguh dan Mustofa harus segera kembali ke Malang. Teguh yang mengejar jadwal pesawat akan pulang kampung ke Medan, dan Mustofa ada kegiatan kepanitiaan. Seusai menyantap sarapan sop, omelet telur dan nugget, saya dan yang lain segera repacking. Setelah berdoa bersama dan meneriakkan jargon Gamananta, kami menyempatkan diri berfoto dahulu. Sekitar pukul 10.50, kami mulai berjalan meninggalkan Ranu Kumbolo.

Berfoto di depan Tanjakan Cinta


Tantangan trek awal adalah Tanjakan Cinta. Tanjakan Cinta terkenal dengan mitosnya, yang apabila tiap pendaki yang mencintai seseorang kemudian naik dan terus memikirkan orang yang dicintai nantinya semua mimpi tentang orang yang kita cintai akan terwujud, namun ada syaratnya yakni pada saat kita sudah naik bukit tanjakan cinta tidak diperbolehkan sedikit pun berhenti dan menoleh ke bawah. Ya, namanya juga mitos, selain dua bukit tersebut memang berbentuk seperti lambang hati.

Tanjakan ini tidak terlalu panjang, walaupun cukup membuat ngos-ngosan. Ketika sampai di ujung tanjakan, saya istirahat sejenak dan melanjutkan perjalanan kembali. Dari ujung tanjakan, kami disambut dengan pemandangan yang menakjubkan. Inilah Oro-oro Ombo, hamparan sabana  luas bermandikan bukit, hutan pinus, dan tanaman lavender ungu yang sedang berbunga. Saya memilih jalur turun yang terjal namun lebih cepat sampai di bawah, dan jalur kembali datar hingga sampai pintu masuk Cemoro Kandang. Di sini, kami beristirahat sejenak.

Istirahat sejenak di Cemoro Kandang

Dari pos Cemoro Kandang (2.500 mdpl), trek berdebu mulai landai dan menanjak hingga sampai pos Jambangan. Angin siang hari ini cukup kencang hingga menimbulkan bunyi desis di antara pepohonan. Sepanjang perjalanan menuju Jambangan (2.600 mdpl), saya sempat bertemu pendaki yang baru saja turun dari puncak. Darinya saya mendapatkan informasi kalau malam sebelumnya terjadi badai ke arah puncak walaupun dia sempat mencapai puncak. Mendengar cerita singkat darinya, kami sempat khawatir bila pada saat kami perjalanan puncak nanti malam juga terkena badai. Kami terus berdoa agar saat perjalanan menuju puncak cuaca mendukung dan diberi kelancaran.

Ujung tanjakan Cemoro Kandang ini adalah Jambangan. Di sini bunga edelweiss mulai terlihat banyak. Masih sekitar 1-2 km lagi untuk menuju Kalimati yang treknya cenderung menurun. Dari Jambangan kami dapat dengan jelas melihat puncak semeru dari kejauhan.

Semeru sudah mulai terlihat dari Jambangan

Sekitar 20 menut kemudian, sampailah kami di Kalimati, tempat camp teraman sebelum ke puncak. Kalimati (2.700 mdpl) merupakan dataran luas dengan vegetasi cantigi, alang-alang, edelweiss dan pinus. Begitu takjub kala saya melihat puncak Semeru yang nampak dekat di depan mata, dikelilingi awan putih ditambah birunya langit cerah di siang itu semakin memperindah pemandangan. Setelah istirahat sejenak, kami berbagi tugas. Sebagian mendirikan tenda dan mempersiapkan masakan, sebagian mengambil air ke Sumber Mani.

Kabut sore di Kalimati

Semakin petang, suhu di Kalimati semakin dingin dan angin berhembus cukup kencang. Nampak di sebelah barat terjadi badai, namun untungnya tak terbawa ke Kalimati. Dinginnya malam ini membuat saya memilih berada di dalam tenda. Menjelang malam, salah satu teman kami, Lia, mengalami kedinginan cukup hebat, semacam gejala hipotermia. Wajahnya terlihat pucat dan sekujur tubuhnya sangat dingin. Saya pun segera meminta teman-teman menyelimutinya dengan sleeping bag yang masih hangat. Saya juga meminta mbak Fitrah memasakkan air panas untuk menghangatkan tubuhnya. Perlengkapan tidur berlapis menyelimuti tubuhnya. Saya dan teman-teman sempat khawatir dan menyarankannya untuk tidak ikut ke puncak melihat kondisinya yang tidak memungkinkan. Namun, semangatnya yang tinggi membuat kami luruh dan mengizinkannya ikut ke puncak. Kami semua pun segera tidur, beristirahat mengumpulkan energi untuk summit attack nanti.

Summit Attack!
Setelah berdoa, pukul 23.00, kami mulai berjalan menuju puncak. Sempat salah jalur pada awalnya, akhirnya kami berhasil menemukan jalur yang benar. Setelah jalur menurun hingga masuk hutan, jalur kembali menanjak. Cukup banyak pendaki yang akan menuju puncak. Kami pun berjalan santai. Terkadang beberapa kali berhenti untuk break sesaat. Kondisi hutan yang gelap dan jalur yang dibayangi jurang membuat kami harus tetap fokus dan waspada. Satu jam kemudian kami tiba di camp Arcopodo (2.900 mdpl).

Kami beristirahat di Arcopodo cukup lama, sembari menunggu kondisi Lia. Terlebih, Lia sempat muntah dan terlihat sangat letih. Kondisi Lia yang lemas membuat kami menawarkan kembali kepadanya untuk turun lagi ke Kalimati. Namun, Lia masih menolak dan bersikeras untuk tetap ke puncak.

Tak sampai 30 menit dari Arcopodo, kami sampai di perbatasan vegetasi yang disebut Kelik. Para pendaki mulai antri berjalan satu per satu untuk melewati gigiran tipis memasuki trek berpasir dan berbatu.  Awalnya kami berjalan beriringan, hingga akhirnya mulai terpisah untuk memberikan kesempatan pendaki lain yang berjalan lebih cepat. Semakin jauh saya berjalan, saya lihat Lia yang didampingi Bustomi dan Rizky semakin jauh tertinggal. Kebetulan yang saat itu saya masih bersama dengan beberapa teman yang masih tetap berjalan. Sempat terjadi sesuatu yang tidak saya inginkan, pada saat saya berjalan setengah dari perjalanan puncak penyakit radang lambung saya kambuh lagi dan pada saat itu saya berjalan sendirian dan tidak ada seorang teman pun karena kami semua sudah berpisah. Untungnya pada saat perjalanan saya melihat mbak Ika, mas Kurniawan dan mas Muchlis yang berada di atas cukup jauh dari tempat saya beristirahat sejenak. Kemudian saya hampiri mereka. Setelah saya  bersama mereka saya melihat mas mukhlis yang ternyata sakit tenggorokannya juga semakin parah. Namun kami pun tetap terus melanjutkan perjalanan meski dalam kondisi seperti ini.

Hujan kabut pun menemani perjalanan kami, untuk perjalanan kali ini kami banyak beristirahat karena memang kondisi saya dan mas Muchlis yang kurang mendukung. Setiap kali kaki melangkah saya selalu meyakinkan diri untuk bisa sampai menuju puncak tak lupa saya terus berdoa setiap kali kaki melangkah. Waktu yang semakin beranjak pagi dan rintik kabut tak lagi turun, kami melanjutkan perjalanan kembali.

Tak terasa saat perjalanan kami tinggal seperempat lagi menuju puncak bayangan, dari lereng sejenak menikmati sunrise dari sisi timur lereng Semeru yang sangat indah. Terlihat jelas cahaya matahari pagi yang terbit ditemani dengan hamparan samudera awan yang sangat terlihat jelas.
Tak terasa hari pun semakin terang dan jam menunjuk angka 06.30 ketika terlihat dari kejauhan puncak bayangan yang menanti kami. Untuk menuju puncak yang sesumgguhnya kami masih harus melewati beberapa kali puncak bayangan yang terus menguji kesabaran dan tekad kami. Dengan terlihatnya puncak bayangan, tekad dan keinginan kuat saya semakin yakin bahwa saya harus bisa sampai di puncak semeru. Sampai-sampai tak terasa rasa sakit yang sebelumnya saya alami mendadak hilang.  Saat selesai melewati puncak bayangan yang terakhir  dan sedikit berjalan melewati trek yang agak sempit, sambil berjalan sempoyongan, bergetar hati dan takjub sampai tak terasa air mata menetes dengan sendirinya kala melihat ujung dari trek yang panjang ini.

INDONESIA!!! KITA DI MAHAMERU!!!
Rasa tak percaya masih terpikir dalam benak saya dengan melihat sekeliling terbentang luas indahnya samudra awan. Tak lama kemudian saya disambut oleh beberapa teman yang sudah sampai terlebih dahulu di puncak, antara lain Nata, Midori, Mas Kurniawan, Mas Muchlis, Mbak Ika, Winanto, Dodik dan lainnya. Berjalan dengan sempoyongan yang kemudian saya memeluk Lita dengan tetesan air mata haru. Tak lupa kemudian saya sujud syukur atas nikmat yang telah Allah berikan, sembari mengucap “Subhanallah wal hamdulillah, wa la ilaha illallahu wallahu akbar, la haula wa la quwwata illa, billahil 'aliyyil adzim”.   Rasa tak percaya saya yang masih ada di benak ini, karena bisa menapakkan kaki di puncak Mahameru bersama teman–teman.  Rasanya seperti mimpi yang menjadi kenyataan bisa menapak di Puncak Mahameru, puncaknya para dewa, gunung tertinggi di Pulau Jawa dengan ketinggian 3.676 mdpl, gunung yang saat ini masih tetap aktif sebagai gunung berapi. Perjalanan yang sangat berarti bagi saya, karena Puncak Mahameru sudah menjadi puncak pertama saya yang selama ini saya impikan. Semeru menyajikan banyak pemandangan yang berkesan, keindahan alam yang selalu membuat saya terbelalak dengan keindahannya. Makin lengkap rasa syukur saya karena dapat menapaki keindahan ini bersama sahabat-sahabat saya yang sangat berkesan ini. Sembari istirahat menunggu teman-teman yang masih dalam perjuangan menuju puncak saya menyempatkan untuk berfoto-foto bersama sebagian teman yang sudah terlebih dahulu sampai di puncak.

Capek dan lelah hilang sudah dan terbayar lunas kala saya tiba di Mahameru

Pak David, akhirnya mencapai Puncak Mahameru yang lama diidam-idamkan

Satu per satu teman-teman Gamananta telah mencapai puncak

Gamananta berhasil menggapai puncak Mahameru ketiga kalinya

Setelah saya dan teman-teman, berikutnya menyusul teman-teman Gamananta lain yang berhasil sampai puncak. Mas Rifqy, Sukma, Jeanny, Frida, Zaka, Zaki, Nufus, Fitrah, Syifa dan lain-lainnya. Dari Evi, saya mendapat kabar kalau Lia terpaksa harus dibawa turun ke Kalimati kembali oleh Bustomi dan Rizky karena kondisinya sudah tidak memungkinkan lagi berjalan ke puncak.

Setelah semua berkumpul dan berdo’a bersama, kami pun segera turun karena arah jarum jam menunjukkan pukul 08.30. Untuk para pendaki memang tidak diperbolehkan berlama-lama di puncak karena pada pukul 09.00 arah angin yang membawa asap belerang dari kawah yang beracun langsung mengarah ke Puncak Semeru. Perjalanan turun kembali melewati jalur yang kami naiki sebelumnya, namun kondisinya berbeda. Ketika kami turun memang baru terasa bahwa trek menurun sangat curam sekali meski kita berjalan seperti sandboarding (jalur yang licin dan berpasir) dapat mempercepat kami turun. Namun jika kami lengah sedikit saja kami akan jatuh di jurang Blank 75 dan jika sudah jatuh pada jurang tersebut akan sulit untuk kembali naik kembali.

Trek yang dilalui saat turun ke Kalimati

Perjalanan turun ke Kalimati memakan waktu sekitar 2 jam perjalanan. Kami tiba di Kalimati sekitar pukul 12.00. Saya berterima kasih sekali kepada Rizky dan Bustomi yang dengan rasa kepedulian dan tanggung jawabnya begitu tinggi sehingga merelakan tidak ikut ke puncak demi keselamatan Lia. Hari ini kami begitu lelah dan tertidur di dalam tenda hingga sore. Karena kondisi fisik teman-teman yang tidak memungkinkan untuk kembali ke Ranu Kumbolo, maka setelah berdiskusi dengan Mas Kurniawan, Mbak Ika, dan Mas Rifqy akhirnya kami tetap stay di Kalimati semalam lagi dengan konsekuensi menata ulang konsumsi dan besok pagi-pagi harus langsung turun ke Ranu Pani.

Pagi hari di Kalimati

Minggu, 30 Juni 2013. Tepat pukul 05.00, kami terbangun disambut oleh dinginnya kalimati yang menusuk tulang, kemudian kami sholat Subuh, dilanjutkan repacking dan merapikan tenda. Setelah semua selesai kami packing, kami pun berkumpul dan berdo’a sebelum menuju Ranu Kumbolo. dan kami pun melanjutkan perjalanan menuju Ranu Kumbolo. Kali ini kelompok 2 dan 3 berjalan duluan, sedangkan tim pertama belakangan karena masih merapikan tenda dan membawa sampah. Pukul 10.00 kami tiba di Ranu Kumbolo. Di sini kami istirahat sejenak untuk sarapan. Seusai sarapan, kami memungut sampah-sampah yang berserakan di Ranu Kumbolo untuk dibawa turun ke Ranu Pani.

Sampah tak ada, Ranu Kumbolo pun indah

Sungguh sangat disayangkan sekali, sampah-sampah plastik banyak berserakan disekitar danau Ranu Kumbolo, hal ini yang akan merusak keindahan alam surganya Semeru. Tidak ada salahnya kita menikmati sepuas mungkin keindahan alam ciptaan Tuhan, tapi jangan engkau mengotori keindahan ini dengan keserakahanmu.

Foto keluarga sebelum pulang, pamit kepada Ranu Kumbolo

Jam menunjuk angka 14.30. Setelah repacking selesai, kami bersiap berangkat menuju Ranu Pani. Sebelum berjalan kami berdo’a bersama dengan harapan bisa pulang dengan selamat. Kami pun berjalan dengan membawah oleh-oleh tumpukan sampah dalam plastik. Saat perjalanan menuju Watu Rejeng kami ditemani rintik hujan yang cukup deras, namun kami tetap melanjutkan perjalanan karena hari yang sudah semakin larut. Setelah menaiki tanjakan menuju Pos IV, jalur selanjutnya lebih sering naik-turun melalu Pos III, Pos II dan Pos I. Tiga jam kemudian akhirnya kami tiba di resor Ranu Pani. Kantor perizinan masih tutup saat kami hendak melapor. Akhirnya kami memilih mengisi perut kami terlebih dahulu yang kelaparan dengan menu rawon dan teh hangat. Seusai makan, saya segera ke pos perizinan untuk melapor. Malam yang semakin larut membuat kami harus segera turun ke bawah untuk mencari truk pulang ke Tumpang. Setelah tawar-menawar, akhirnya kami menggunakan dua moda, truk dan pick up yang masing-masing berkapasitas maksimal 15 orang. Rasa capek, lapar, dan lelah membuat saya malas bicara sepanjang perjalanan dan lebih memilih tidur. Sesampainya di Tumpang, kami segera berganti angkot putih dan mencarter untuk langsung diantar ke kampus kami. Sekitar pukul 23.00, kami tiba di kampus. Setelah berkumpul sejenak untuk evaluasi singkat, saya pun mempersilakan teman-teman pulang ke kos masing-masing. Beberapa dari kami masih bertahan di kampus untuk mengembalikan perlengkapan sewaan seperti tenda, sleeping bag, nesting, kompor, dan matras.

Sampai saat ini saya tetap bersyukur karena telah diberi kesempatan untuk menikmati indahnya alam Semeru, rasa lelah dan letih saat perjalanan akhirnya dapat terbayarkan dengan suguhan keindahan Puncak Mahameru yang begitu menakjubkan dan tak kan pernah terlupakan sepanjang hidup saya. Inilah ciptaan yang diberikan Tuhan untukmu, Indonesia.

Special thank’s to:
Allah SWT,
Nabi Muhammad SAW,
Bapak dan Ibu kami masing-masing,
Crew Ekspedisi GAMANANTA Gunung Semeru 26-30 Juni 2013 (Fahri, Rizky, Lita,Jeanni, Mas Mukhlis,Mas Rifqy, Mas Kurniawan, Mbak Ika,Mbak Nufus),
Teman-teman Peserta Ekspedisi Gn. SEMERU 26-30 Juni 2013, (Zaki, Zaka, Bustomy, Winanto, Sukma, Eviliana, Mas Agus, Pak David, Mbak Fitrah, Mas Midori, Arif, Miftakul, Frida, Mustofa, Teguh, NATA, Dodik, Firdaus, dan Lia).

Ji! Ro! Lu! Budal!
,

Rindu Gunung Semeru. Serba pertama untuk Gamananta. Fisik dan mental yang kuat, disertai tanggung jawab dan rasa peduli yang besar, mengantarkan kami menggapai Puncak Mahameru yang ketiga kalinya dalam sejarah pendakian Gamananta ke Gunung Semeru.

Ditulis oleh:
Fahriansyah Nur Afandi (Project Manager Gamananta)
Penanggung Jawab Pendakian Bersama

Mungkin kata itu yang tepat bagi saya yang sangat mengharapkan untuk menjadikan Gunung Semeru sebagai gunung pertama pada pendakian yang saya lakukan, walau akhirnya Gunung Butak yang ada dalam kamus pendakian pertama saya. Pengalaman saya dan teman-teman Gamananta ke Gunung Butak cukup menjadikan pelajaran bagi saya bagaimana pendakian yang lebih baik ke depan, walau bonus puncak belum berhasil digapai.


Saya yang termasuk newbie di Gamananta, mendapat amanah untuk menjadi koordinator dalam pendakian bersama ke Gunung Semeru. Suatu tantangan bagi saya, karena bisa dibilang saya ini membawa nyawa banyak orang ke alam bebas, hehehe. Sudah dua kali bendera Gamananta berkibar di Puncak Mahameru dalam perjalanan sebelumnya, kini dengan asa mengibarkan Gamananta ketiga kalinya akan kami perjuangkan pada tanggal 26-30 Juni 2013, tepat sehari setelah UAS di kampus kelar. Karena musim liburan, tak pelak dari kuota 30 peserta yang kami tetapkan, yang tertarik untuk ikut hampir 35-an orang. Tapi, mendekati hari-H, peserta banyak yang mundur dan akhirnya total peserta yang memastikan ikut adalah 29 orang.

Suatu tantangan bagi Gamananta, karena hampir sebagian peserta adalah newbie dalam bidang pendakian gunung. Karena itulah, sebelum pendakian ke Semeru, selain jogging bareng setiap pagi di kampus, peserta di-drill­ fisik dan mental ke Gunung Panderman dan Gunung Penanggungan sebagai tempat tes peserta. Berkali-kali kami bertemu untuk mempersiapkan semuanya. Karena, menurut Trio Budal pendiri Gamananta ini, persiapan yang matang menjadi sangat penting. Mereka bilang bahwa dalam pendakian, puncak bukanlah segala-galanya, yang terpenting adalah turun dengan selamat dan puncak adalah hadiah dari Tuhan.

Antusiasme peserta membuat saya bersemangat dalam mempersiapkan pendakian kali ini. Dengan dibantu arahan teman-teman, pembagian tugas pun juga cukup merata untuk bagian konsumsi, perlengkapan, transportasi, dan manajemen perjalanan. Bahkan untuk benar-benar memastikan semuanya terkendali, kami masih rapat dua hari berturut-turut sebelum tanggal keberangkatan, yaitu tanggal 25-26 Juni 2012. Foto-foto dan video tentang keindahan alam Gunung Semeru yang diupload di grup Facebook Gamananta membuat semangat kami semakin membuncah, tak sabar rasanya segera memulai langkah dari Ranu Pani. Mahameru, tunggu kami!

Rabu, 26 Juni 2013
Gazebo Universitas Brawijaya
Sore hari pukul 16.00, kami mulai berkumpul di gazebo Universitas Brawijaya. Cukup banyaknya kesibukan para peserta yang belum selesai membuat kami tidak berkumpul tepat waktu. Saya sudah memantau kesediaan logistik dan transportasi kepada penanggung jawab masing-masing. Setelah repacking, sholat, dan semuanya beres, kami baru benar-benar berangkat dari kampus sekitar pukul 20.30. Tiga angkot putih akan mengantar kami yang berjumlah 26 orang ke Tumpang. Dua sisanya masih dalam perjalanan dari Jogja, Zaki dan Evi, mereka akan diantar Roni (tidak ikut) dan Mustofa (juga peserta pendakian) dengan sepeda motor.

Nongkrong bareng di depan rumah Mbak Nur sebelum tidur

Tak sampai satu jam perjalanan, kami telah sampai di Tumpang. Segera kami berjalan ke rumah Mbak Nur (pemilik truk sewaan). Di sana ternyata sudah berjubel pendaki yang ikut istirahat malam ini. Ada yang dari Jogja, Bandung, Jakarta, bahkan Kalimantan. Semuanya menuju ke satu tujuan, Gunung Semeru. Harapan kami, kami semua di sini bukanlah pendaki karbitan seperti halnya pendaki lain yang terobsesi karena film 5 cm. Suguhan teh hangat dari Mbak Nur sangat membantu menghangatkan badan kami. Mbak Nur juga memberikan sejumlah informasi penting terkait registrasi pendakian Semeru yang terkini. Sementara dari kami sudah terlelap di rumah atau di atas truk, saya dan beberapa teman mencari makan malam dan belanja konsumsi tambahan di minimarket.

Kamis, 27 Juni 2013
Tumpang – Ranu Pani
Suara qiro’ mulai lantang terdengar dari masjid Tumpang. Segera kami terbangun dan bergegas menuju masjid untuk persiapan sholat Subuh. Segarnya air wudlu dan sholat membuat mental kami semakin kuat menyambut hangat ajakan Mahameru untuk segera mampir ke alamnya. Setelah sarapan ala kadarnya, tepat pukul 05.30 kami berangkat menuju Ranu Pani. Perjalanan yang memakan waktu hampir dua jam perjalanan tidak menyurutkan semangat kami. Sepanjang perjalanan, kami disuguhi pemandangan panorama alam yang begitu indah, jurang-jurang dalam yang tampak hijau karena tertutupi pepohonan yang sangat rimbun. Ketika truk tiba di pertigaan Jemplang, Indonesia menyuguhi kami pemandangan bukit Teletubbies yang sangat mencengangkan mata, tak sadar bibir pun bertasbih kepada sang Ilahi. Musibah bocornya ban belakang truk di perkampungan Ranu Pani tidak mampu mematahkan semangat kami. Nama Mahameru terngiang-ngiang di telinga kami, tak terkecuali saya.

Pemandangan yang tersaji dalam perjalanan ke Ranu Pani

Tetap ceria walau ban truk bocor

Setibanya kami di Ranu Pani, kami bersiap-siap berjalan menuju pos registrasi pendakian. Ternyata, sekarang sudah disediakan parkir khusus kendaraan bermotor bagi pendaki, walau masih harus berjalan cukup jauh ke pos perizinan. Waktu sudah menunjukkan pukul 07.30, sedikit terlambat dari jadwal. Saya segera membagi tugas, beberapa teman repacking, sarapan, dan saya bersama Lita, Rizky, serta Mbak Ika mengurus perizinan. Menu rawon dan teh hangat memenuhi kebutuhan gizi kami pagi itu. Antrean sebenarnya tidak terlalu panjang. Namun, karena loket yang dibuka cuma satu, membuat proses registrasi cukup memakan waktu. Sembari antri, saya ngobrol-ngobrol dengan pendaki lain, ternyata ada juga yang dari luar negeri, contohnya pendaki asal Malaysia.

Sarapan di warung sebelum mendaki

Saya dan Frida (kiri) di depan kantor resor Ranu Pani

Untuk informasi lebih lanjut tentang tata cara registrasi pendakian Gunung Semeru, Anda bisa cek lebih lanjut di website resmi Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, www.bromotenggersemeru.com. Secara umum, persyaratan yang dibutuhkan untuk mendaki Gunung Semeru adalah sebagai berikut:

  • Fotokopi identitas diri yang masih berlaku sebanyak 2 lembar
  • Surat keterangan sehat dari dokter/rumah sakit dan di fotokopi sebanyak 1 lembar
  • Membayar karcis masuk, asuransi, dan surat izin pendakian per orang/pendaki sebesar Rp. 7.000 ,- (bagi umum, dengan rincian karcis masuk Rp. 2.500,-, surat ijin pendakian Rp. 2.500,-, dan asuransi Rp. 2.000,-), Rp. 5.750,- (bagi pelajar/mahasiswa, dengan rincian karcis masuk Rp. 1.250,-, surat ijin pendakian Rp. 2.500,-, dan asuransi Rp. 2.000,-) 
  • Mengisi biodata peserta pendakian, berupa: nama lengkap, umur, alamat beserta nomor telepon keluarga yang bisa dihubungi secara lengkap
  • Mengisi buku tamu (nama ketua rombongan, alamat, jumlah pengikut, nomor surat izin, tanggal naik dan tanggal turun sesuai yang ada disurat izin)
  • Mengisi formulir daftar barang bawaan setiap anggota tim
  • Membawa turun sampah kelompok yang dihasilkan selama pendakian


Foto bareng sebelum berjalan menuju Ranu Kumbolo

Setelah semua beres, kami berkumpul. Kami sempatkan diri untuk berfoto bersama di basecamp sebelum berangkat. Tepat pada pukul 10.00, dengan doa bersama dan semangat Ji! Ro! Lu! Budal!, kami mulai mengukir jejak perjalanan kami dengan langkah-langkah kecil menuju Mahameru.

Saya dan teman-teman di depan gerbang masuk pendakian

Saya dan Arif (kiri) memasuki jalur pendakian

Dalam pendakian kali ini, tim dibagi menjadi tiga kelompok. Kelompok depan dipimpin oleh Mas Rifqy sebagai pembawa tenda dan tim perintis. Kelompok dua dipimpin oleh Agus dan kelompok tiga sebagai sweeper, dipimpin oleh Rizky.

Ranu Pani – Watu Rejeng – Ranu Kumbolo
Tim depan sudah berjalan jauh. Saya di kelompok dua berjalan santai bersama kelompok tiga di belakang. Trek awal dari Ranu Pani berupa aspal landai lalu menurun, lalu belok kanan melewati gerbang pendakian. Jalur pun berubah menjadi jalan setapak beralas tanah. Selepas gerbang, jalur pelan-pelan menanjak cukup menguras tenaga. Bagus untuk pemanasan awal. Di ujung tanjakan akan dijumpai papan himbauan dari pengelola, dan jalur akan datar berputar-putar nan panjang.

Istirahat sejenak di Watu Rejeng

Pos Landengan Dowo kami jumpai setelah berjalan sekitar 3 km dari Ranu Pani. Tinggal satu kilometer lagi akan sampai di Pos I yang berada di persimpangan jalur. Trek berpaving mulai habis selang beberapa meter dari Pos I. Tak sampai satu kilometer kami telah sampai di Pos II. Jika cuaca cerah, Mahameru sudah bisa dilihat dari sini. Setelah berjalan enam kilometer dari Ranu Pani, sampailah kami di pos Watu Rejeng. Sama seperti Landengan Dowo, tidak ada bangunan pos di sini. Hanya semacam pos ekstra, tetengernya adalah tebing di atas pendaki yang sangat indah. Kami beristirahat di sini lumayan lama sekitar 10-15 menit sebelum berjalan lagi menuju Pos III.

Setelah detak jantung kembali normal dan tenaga sedikt terisi oleh beberapa teguk air, kami berjalan kembali. Jalan tetap berputar-putar, kemudian kami melewati jembatan kayu untuk menuju pos III. Pada jalur setelah jembatan agak menanjak dan licin dengan cuaca yang sedikit mendung disertai gerimis pada saat itu. Saya mengingatkan saling menjaga dan membantu teman-teman yang lain agar tidak jatuh karena jalur yang cukup becek dan licin ini. Sambil bercengkerama tak terasa kami sudah sampai di pos III dengan kondisi atap yang ambruk dan menutupi tempat istirahat di pos III. Saya lihat jam tangan telah menunjukkan waktu 12.50. Kami beristirahat dan sembari mengisi perut yang sudah mulai keroncongan.

Setelah cukup, kami melanjutkan perjalanan. Selepas Pos III kami dihadapkan trek yang sangat menanjak, cukup menguras tenaga. Tinggal tiga kilometer lagi kami akan sampai di Ranu Kumbolo. Kembali kami menyusuri jalur berkelak-kelok, naik turun yang cukup bikin lelah. Jalur ini menjadi khas di Gunung Semeru. Sambil berjalan, kami bersenda gurau demi menghibur dan menghilangkan rasa lelah akibat tanjakan curam yang kami lewati tadi. Sekitar pukul 14.00, kami sampai di Pos IV. Dari sini kami dapat melihat langsung dari kejauhan surganya Gunung Semeru, yakni Ranu kumbolo yang memanjakan mata kami dengan jernih airnya yang hijau kebiruan dan dikelilingi bukit-bukit indah nan menawan. Saya menghela nafas dan tak lupa terus mengucapkan rasa syukur kepada Sang Pencipta yang telah memberikan keindahan di Indonesiaku ini.

Saya bersama Syifa (kiri), Mbak Nufus (tengah), dan Hadi (kanan)
menjelang tiba di Ranu Kumbolo

Masih tetap semangat walau Ranu Kumbolo masih cukup jauh

Rasa lelah dari Ranu Pani menuju Pos IV tak terpkirkan lagi karena sudah terbayar dengan keindahan yang disajikan oleh Ranu Kumbolo yang telah banyak orang bicarakan. Terus melewati jalan setapak dan akhirnya kami menemukan Pos IV dan kami melanjutkan perjalanan menuju tempat camp yang tendanya sudah didirikan oleh tim pertama. Kami menuruni bukit yang agak terjal untuk menuju tempat camp, setelah berada di tempat camp saya mencoba merasakan segarnya Ranu Kumbolo. Namun di balik indah pemandangan yang disajikan oleh Ranu Kumbolo saya sangat miris sekali melihat banyak tumpukan sampah sisa para pendaki yang tidak mau menjaga kebersihan dan keasrian di Ranu Kumbolo. Banyak sampah plastik berserakan di sekitar camp juga ada sisa kotoran manusia yang tidak dipendam kembali. Sungguh sangat disayangkan. Kami pun berencana untuk membawa sisa sampah-sampah plastik pada saat kami kembali turun menuju Ranu Pani.

Bahu-membahu mendirikan tenda

Kami memang berencana untuk camp semalam di Ranu Kumbolo. Segera kami membuat makan malam. Kondisi sore itu sangat cerah dan pas sekali menikmati indahnya Ranu Kumbolo. Tak lupa kami segera mengambil wudlu di Ranu Kumbolo yang kemudian kami segera menjama’ sholat Duhur dan Asar secara bergantian. Nampak pelangi terukir jelas di langit sore itu. Tak terasa hari sudah mulai gelap, kami segera menyiapkan makan malam tiap tenda dan bergantian untuk sholat Magrib. Setelah semua selesai dibagi tiap tenda kami pun bersama-sama berdo’a bersama sebelum makan yang menjadi tradisi kami. Santapan makan malam yang nikmat meski makanan tak seperti makanan rumah karena kami berada di gunung dan menjadi suatu kenikmatan tersendiri.

Pelangi di langit Ranu Kumbolo

Ditemani rintik hujan, kami menikmati makan malam dengan rasa syukur atas nikmatnya makanan yang kami santap. Setelah makan malam kami lanjutkan berdiskusi bersama tentang banyak hal baik agama, pengalaman pendakian, dan lain-lain. Terasa keakraban pada malam itu, meski hujan yang rintik bertambah semakin deras dan menambah dinginnya Ranu Kumbolo malam ini.  Arah jarum jam sudah menunjukkan pukul 20.30, kami semua pergi ke tenda masing-masing untuk beristirahat karena esok kami harus bersiap menuju Kalimati.

Follow Us @soratemplates