Showing posts with label pendakian gunung welirang. Show all posts
Showing posts with label pendakian gunung welirang. Show all posts

Saturday, 24 August 2013

,
 
Arjuno-Welirang (lagi). Dalam kurun waktu tahun 2013 ini terhitung sudah ketiga kalinya GAMANANTA mendaki ke Gunung Arjuno-Welirang. Namun, ada tujuan lebih di perjalanan kali ini. Tak hanya sekedar mendaki - menikmati eksotisme alam Gunung Arjuno-Welirang - namun untuk mengibarkan bendera di atas sana, dan melaksanakan upacara sebagai peringatan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-68 pada tanggal 17 Agustus 2013.

Kamis, 15 Agustus 2013
Gazebo Universitas Brawijaya menjadi meeting point yang disepakati dalam perjalanan kali ini. Pukul 13.00 WIB, ke-17 anggota sudah berkumpul. Kurang lebih 2,5 jam waktu kami gunakan untuk mengecek peralatan, logistik dan packing ulang tas masing-masing. Pukul 14.30 WIB, kami segera mencari angkutan charter untuk menuju Terminal Arjosari. Karena saat itu masih dalam suasana arus balik lebaran yang menyebabkan lalu lintas kota Malang sangat macet, kami pun sedikit kesulitan untuk mendapatkan angkutan. Pukul 15.30 WIB akhirnya kami mendapatkan angkutan, dan segera bergegas menuju Terminal Arjosari yang ditempuh dalam waktu sekitar 20 menit. Begitu sampai di Arjosari kami segera mencari angkutan menuju Tretes-Pasuruan. Kami memilih untuk mencharter angkutan berupa colt, sehingga waktu tempuh akan lebih cepat dibandingkan jika kami memilih bus karena nantinya harus oper angkutan di Pandaan. Setelah negosiasi harga yang sedikit alot dengan pemilik colt, akhirnya kami bergegas menuju Tretes. Lagi-lagi karena macet akibat arus balik lebaran, perjalanan yang harusnya ditempuh hanya dalam waktu 1,5 jam molor menjadi 2,5 jam. Tepat pukul 18.30 WIB kami sampai di basecamp pendakian jalur Tretes yang berlokasi di depan Hotel Tanjung. Kedatangan kami disambut oleh ramainya rombongan pendaki lain yang mungkin mempunyai “misi” sama dengan kami. Jalur Tretes merupakan jalur paling favorit bagi para pendaki dalam mendaki Gunung Arjuno-Welirang. Meski jalur lebih panjang, namun akses yang mudah dan tersedianya sumber air yang lebih banyak menjadi alasan jalur ini banyak dipilih. 

Setelah menyelesaikan administrasi di bacecamp pendakian, kami bergegas shalat, lalu membeli bekal nasi bungkus untuk makan malam nanti di Pos Kokopan.Begitu kami pastikan bahwa seluruh perlengkapan sudah siap, kami pun segera mulai pendakian, saat itu jam menunjukkan pukul 20.20 WIB.Track yang kami lalui berupa jalan beraspal dan cukup menanjak. Setelah sekitar 20 menit berjalan, salah satu anggota, Jeanny, merasa pusing dan mual. Saya dan Ronny kemudian menemaninya untuk duduk dan beristirahat selama beberapa menit, sementara yang lain melanjutkan perjalanan, namun saya minta untuk menunggu di Pos Pet Bocor. Perjalanan dari basecamp – Pet Bocor kami tempuh selama 50 menit.Di Pos ini terdapat warung yang menjual beraneka gorengan dan minuman, sehingga banyak dimanfaatkan oleh para pendaki untuk bersantai di tengah-tengah pendakian, sekaligus beristirahat sejenak setelah dihajar oleh kerasnya jalur beraspal.

Setelah Saya, Jeanny dan Ronny berhasil menyusul teman-teman yang lain di Pet Bocor, kami segera melanjutkan perjalanan menuju Pos Kokopan, lokasi yang kami pilih untuk camping malam ini. Track berubah menjadi jalur berbatu, sama menyiksanya dengan jalur aspal. Tak berapa lama dari Pet Bocor, rombongan harus kembali dibagi menjadi 2 tim, 14 orang di depan. Sementara saya dan Ronny harus menyesuaikan dengan kondisi Jeanny yang belum lagi pulih, tertinggal di belakang. Kami bertiga baru tiba di Kokopan pukul 00.30 WIB sementara yang lain sudah mendirikan tenda satu jam sebelumnya. Setelah menyantap bekal makan malam yang sudah kami bawa tadi, kami bergegas untuk tidur untuk memulihkan stamina yang cukup terkuras, dan berharap kondisi Jeanny segera membaik.

Pemandangan Gunung Penanggungan dari Pos Kokopan

Jum’at, 16 Agustus 2013
Adzan Shubuh yang masih mampu terdengar hingga Pos Kokopan, membangunkan tidur pulas kami hari itu.Pagi yang begitu cerah, menambah semangat kami untuk melanjutkan perjalanan hari ini. Waktu beberapa jam kami gunakan untuk menikmati sunrise, sarapan dan mengisi persediaan air.

 Sunrise dari Kokopan

Gunung Penanggungan yang tampak sangat indah

Pukul 09.00 WIB kami lanjutkan perjalanan menuju Lembah Kijang, lokasi yang kami pilih untuk camping di malam kedua. Di tengah-tengah perjalanan, kondisi Jeanny yang belum begitu membaik ternyata memaksanya harus turun ke Malang, ditemani oleh Ronny, jadilah tersisa 15 orang yang melanjutkan perjalanan. Masih dengan track berbatu, 4 jam perjalanan menuju Lembah Kijang harus kami nikmati. Setibanya di Lembah Kijang, kami segera mendirikan 5 tenda yang kami bawa, kemudian menyiapkan masakan untuk makan siang. Setelahnya, kami masih punya banyak waktu hingga nanti malam, untuk beristirahat guna memulihkan stamina. Jujur saja, tanjakan dan kerasnya jalur membuat kami sangat lelah, serta kedua kaki yang terasa mau copot.


(dari depan ke belakang) Anam, Teguh dan Eric berfoto di Pos Pondokan

Sabtu, 17 Agustus 2013
This is the day! Kami bangun dini hari dengan semangat berlipat-lipat. Karena inilah tujuan utama kami di pendakian kali ini, melaksanakan upacara peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-68 di Gunung Welirang. Kami mulai berangkat summit attack pukul 02.25 WIB, menyusuri jalur yang kami lalui siang tadi menuju Pos Pondokan kemudian tinggal mengikuti jalur menuju puncak Welirang yang tidak begitu sulit ditemukan, karena jalur ini biasa dilewati para penambang sehingga cukup lebar. Track berupa jalan tanah, setelahnya kembali berupa jalan berbatu yang sudah menjadi ciri khas Arjuno-Welirang. Mental dan fisik kami kembali diuji disini, karena jalan berkelok seakan tak berujung. Untuk menambah semangat, berulang kali kami teriakkan “Semangat 17 Agustus..!!”. Perjalanan selama 2,5 jam kami sejenak terhenti di sebuah pelataran dengan hamparan bunga edelweiss-nya, masih sekitar satu jam lagi menuju puncak. Kami memutuskan untuk beristirahat disini, shalat Shubuh, kemudian menyantap bekal sarapan yang kami bawa. Beberapa saat kemudian, pemandangan indah tersaji di hadapan kami, Mentari 17 Agustus!

Menunggu sunrise

Detik-detik Mentari 17 Agustus

Muchlis dan Lia berfoto dengan latar belakang sunrise

Setelah berfoto untuk mendokumentasikan keindahan yang baru saja kami saksikan, segera kami bergegas melanjutkan sisa perjalanan menuju puncak.Track kali ini relatif lebih mudah, minim tanjakan. Pemandangan di sekeliling yang sangat indah membuat kami begitu menikmati perjalanan, hingga menjejakkan kaki di puncak Welirang, sekitar pukul 06.45 WIB.

Kawah Gunung Welirang

Foto bersama di Puncak Welirang

Kami tak bisa berlama-lama berada di puncak, karena aroma belerang yang sangat menyengat dapat membuat kami sesak napas.Hanya berfoto selama 10 menit, setelah itu turun mencari areal yang cukup luas di lereng Welirang untuk melaksanakan upacara. Karena upacara di alam menjadi pengalaman pertama bagi kami semua, butuh waktu beberapa jam untuk simulasi. Dan akhirnya pukul 9.30 WIB upacara dilaksanakan.Sederhana, namun tak sedikitpun mengurangi rasa khidmat. Rasa bangga yang teramat dalam menancap di dada kami, saya sendiri pun sempat menangis terharu ketika menyanyikan lagu Indonesia Raya dan pembacaan proklamasi.

Suasana khidmat dalam upacara peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-68

Sesaat setelah pengibaran bendera

Pembacaan proklamasi kemerdekaan

Setelah upacara selesai, kami segera kembali ke Lembah Kijang. Waktu tempuh saat turun memang selalu tak selama waktu tempuh saat naik, 2 jam kami sudah tiba kembali di Lembah Kijang. Sangat lelah, namun semangat kami belum habis. Perjalanan besok tak kalah beratnya dibandingkan hari ini, masih ada Puncak Arjuno dengan track yang lebih sulit.

Minggu, 18 Agustus 2013
Dinginnya Lembah Kijang membangunkan saya dan teman-teman, saatnya summit attack Arjuno! Tidak seperti kemarin, kali ini kami hanya berangkat bertiga belas. Anggrek memilih untuk menunggu di dalam tenda karena masih merasa kelelahan akibat perjalanan kemarin. Teguh pun memutuskan untuk menemaninya disana.Semangat saya dan teman-teman masih sama seperti kemarin, track dengan kontur tanah dan menanjak kembali kami lahap. Tiba di sebuah tempat datar di sebelah batu besar kami kemudian berhenti untuk shalat shubuh, kemudian sarapan. Setelah itu, melanjutkan perjalanan, berharap ketika matahari terbit kami sudah sampai di puncak.Ternyata matahari lebih dulu terbit ketika kami masih di tengah-tengah perjalanan. Kami pun sejenak berhenti untuk mendokumentasikannya. Keren! Tidak kalah indah dengan sunrise kemarin.

Zaka berfoto dengan latar belakang sunrise

Setelah puas berfoto, kami segera memompa semangat kembali menuju puncak. Sudah dekat, karena dari situ saya sudah bisa melihat pasar Dieng, sebuah pelataran di bawah puncak Arjuno yang ditandai dengan adanya makam-makam kuno.Di pasar dieng kami menjumpai beberapa rombongan pendaki yang bermalam disana, sekitar 4-5 tenda.Hanya 20 menit dari pasar dieng, akhirnya kami sampai di puncak.Seketika saya teriakkan pada teman-teman, “Arjuno-Welirang tuntas!” dengan penuh semangat. Satu persatu kami bersujud sebagai rasa syukur, telah diijinkan menginjakkan kaki di satu dari sekian titik tertinggi di tanah air, terlebih lagi di momen HUT Kemerdekaan RI. Setelahnya kami memuaskan diri dengan berfoto.

 
Bersantai di Puncak Arjuno

Puncak yang kemarin kami daki, Welirang!

Foto bersama sebelum turun

Pukul 07.30 WIB kami segera turun kembali ke Lembah Kijang, tentunya dengan rasa puas di dalam diri masing-masing. Di pasar Dieng kami berhenti sejenak untuk menghabiskan sisa bekal. Pukul 11.00 WIB kami sudah berada di Lembah Kijang, dan menyempatkan untuk berfoto sejenak.

Berfoto di Lembah Kijang dengan latar belakang Gunung Arjuno yang begitu gagah

Kami kembali ke tenda dengan perasaan puas, senang, serta bangga yang bercampu jadi satu saat itu. Namun tak dipungkiri juga, kondisi badan begitu lelah, sehingga kami tertidur selama kurang lebih 2 jam. Setelah bangun dan shalat dhuhur, kami segera menyiapkan masakan untuk makan siang. Sisa logistik yang ada kami jadikan menu makan yang begitu nikmat. Begitu selesai menyantap makan siang, kami segera packing dan bersiap untuk turun kembali ke basecamp. Entah karena kondisi badan terlampau letih atau terlalu santai, kami baru turun pukul 16.30 WIB. Saya berpikir, sudah pasti sampai di basecamp malam hari. Jalan yang dilalui memang tak lagi menanjak, namun ketika turun justru kaki akan menopang beban yang lebih berat, ditambah lagi dengan kondisi jalur yang berbatu serta kondisi fisik yang sudah mulai drop, lengkap sudah penderitaan yang dirasakan oleh kedua kaki kami.

Perasaaan sedikit lega ketika sudah sampai di Pos Kokopan kembali, perjalanan turun tinggal sepertiga lagi! Setelah beristirahat selama 10 menit kami segera melanjutkan perjalanan.Yang ada di pikiran kami hanya ingin cepat tiba di basecamp dan segera kembali ke Malang. Akhirnya, kami sampai juga di basecamp setelah berjalan selama 1,5 jam dari Pos Kokopan. Segera kami melapor kepada petugas bahwa kami telah turun. Namun, keinginan kami untuk segera kembali ke Malang harus tertunda beberapa jam karena Anggrek yang drop sejak dari Lembah Kijang tadi siang tiba-tiba pingsan.Kami baru bisa bertolak dari basecamp Tretes pukul 11.30 WIB dan tiba di Malang pukul 03.00 WIB.

Ditulis oleh:
Mohammad Lutfi Hidayat 

Sunday, 7 April 2013

,

Perjalanan ekspedisi jilid II ini hanya diikuti tiga orang, yaitu saya (Rifqy), Lutfi, dan Mas Dani. Pendakian berlangsung selama tiga hari dua malam, yaitu pada tanggal 3-5 April 2013. Yang ngebet naik adalah si Lutfi, dan Mas Dani ikutan nimbrung karena belum pernah mendaki Gunung Arjuno-Welirang. Sedangkan saya sudah berkunjung ke Arjuno bersama tim Gamananta sebelumnya pada tanggal 14-17 Maret 2013, artikelnya bisa dibaca di sini. Karena banyak teman-teman Gamananta yang berhalangan, akhirnya saya yang menemani Lutfi dan Mas Dani untuk berekspedisi ke Gunung Arjuno-Welirang Jilid II, naik lewat jalur Purwosari dan turun lewat Tretes.

Rabu,  3 April 2013
Meeting point kali ini bertempat di kos saya. Tepat setelah Subuh, personil lengkap berkumpul. Saya minta tolong Rizky (anggota tim pendakian Gunung Arjuno edisi pertama) untuk mengantarkan Lutfi ke terminal Arjosari, sementara saya membonceng Mas Dani dengan motor saya sendiri. Tidak sampai setengah jam, kami berempat tiba di Terminal Arjosari pada pukul 05.30 WIB. Kami berkumpul di pom bensin Arjosari, untuk melakukan repacking. Hampir 30 menit kami repacking, selanjutnya saya menitipkan sepeda motor saya ke tempat parkir. Setelah selesai, kami bersiap menuju ke dalam terminal seusai berpamitan dengan Rizky dan berterima kasih atas kesediaannya mengantar kami ke terminal. Kami langsung menuju pemberangkatan bus ekonomi. Sebenarnya ada dua pilihan, naik bus ekonomi tujuan Surabaya atau Probolinggo-Jember sama saja. Karena, tujuan kami adalah Pasar Purwosari, persimpangan ke arah Surabaya dan Probolinggo yang sama-sama dilalui oleh bus kedua jurusan tersebut. Kami memilih naik bus Restu tujuan Surabaya dengan pertimbangan efisiensi waktu.

Perjalanan Malang-Purwosari dapat ditempuh tak sampai 20 menit, tepat pukul 06.30 kami tiba di Pasar Purwosari. Kami segera berjalan ke arah selatan, ke arah kantor Pegadaian Purwosari. Ketika kami berjalan, ada dua tukang ojek menawarkan jasa ojek ke desa Tambak Watu, desa terakhir sebelum pendakian Gunung Arjuno. Kami pun langsung setuju dengan tawaran Rp 20.000 per orang, namun kami meminta mereka menunggu dulu, karena kami ingin sarapan di warung yang ada di sebelah kantor Pegadaian tersebut. Warung tersebut rupanya juga menjadi tempat parkir yang biasa digunakan penduduk atau pelajar desa tersebut yang bersekolah di kawasan Purwosari. Kami memesan nasi pecel plus telor ceplok, dengan minuman pencuci mulut teh hangat.

Seusai sarapan, kami segera naik ojek menuju desa Tambak Watu sejauh kurang lebih 12 km, dengan kondisi jalan beragam, mulai aspal mulus dan beberapa terdapat banyak lubang menganga. Sepanjang jalan menuju basecamp, nampak jelas Gunung Arjuno yang terlihat gagah. Sekitar 20 menit kemudian, kami tiba di basecamp alias rumah warga yang dijadikan tempat pendaftaran pendakian Gunung Arjuno jalur Purwosari.

Notes:Sarapan nasi pecel telor ceplok plus teh hangat: Rp 7.000 per orangBiaya ojek: Rp 20.000 per orangBiaya registrasi pendakian: Rp 3.000 per orang

Basecamp Tambak Watu - Pos I Goa Oentoboego


Lutfi di depan basecamp 

Setelah registrasi beres, berdoa, kami mulai perjalanan ekspedisi ini. Pukul 07.40 kami mulai berjalan. Trek awal relatif landai, memasuki jalan berbatu ke arah selatan (kiri jalan) setelah basecamp, dengan naungan yang rindang. Tak sampai 50 meter, jalur mulai menanjak, berkelak-kelok. Cukup menguras tenaga dan lumayan buat pemanasan awal. Pemukiman sudah mulai tak terlihat, berganti dengan ladang warga yang berada di tengah hutan pinus. Pohon pinus yang rindang membuat perjalanan awal ini tidak terasa panas. Namun perlu berhati-hati karena terdapat beberapa percabangan jalur. Jika salah jalur, akan bablas menuju ladang warga. Jika Anda bingung, tanya saja kepada petani yang sedang bekerja di lahan, jika tidak ditemui petani, ikuti jejak sampah pendaki. Dari pengamatan saya, terdapat dua percabangan besar yang berpotensi membuat pendaki tersesat. Percabangan besar pertama, ambil jalan yang kanan (naik). Pada percabangan besar kedua, ambil jalan yang kiri (menurun lalu naik). Kami sempat berhenti cukup lama untuk orientasi jalur kala bertemu percabangan kedua. Akhirnya saya memutuskan ambil yang kiri.

Mas Dani di depan gerbang Pos I Goa Oentoboego

Alhamdulillah, sekitar 10-15 menit dari persimpangan tersebut, kami menemui Pos I, yang disebut Goa Oentoboego, sebuah situs peziarah yang keramat. Kami tiba di Pos I pada pukul 08.40 WIB, satu jam perjalanan dari basecamp. Di sini kami berfoto sejenak dan sempat bertegur sapa dengan Mbah Soleh (kalau tidak salah).

Pos I Goa Oentoboego - Pos II Tampuono
Lima menit kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju Pos II. Jalur mulai menyempit menjadi jalan setapak yang landai. Jalur juga mulai terbuka dengan ladang di kiri maupun kanan. Kami sempat bertemu dengan petani yang sedang beristirahat. Mereka nampaknya cukup heran karena kami naik bertiga, padahal biasanya dianjurkan genap. Akhirnya kami disarankan untuk mencari tongkat kayu masing-masing satu buah agar terlihat genap enam. Jalur menuju pos II setelah perladangan mulai berkelak kelok mirip jalur Tretes. Tak lama kemudian kami kembali memasuki hutan. Pohon-pohon besar mulai terlihat seiring dengan nampaknya sebuah gubuk kecil dari kejauhan. Tepat pukul 09.55 WIB, kami tiba di Pos II Tampuono. Di sini kami sempat ngobrol-ngobrol sebentar dengan juru kunci yang baru selesai berziarah di salah satu makam. Pos II Tampuono cukup adem, karena dinaungi pohon-pohon besar.

Pos II Tampuono - Pos III Eyang Sakri
Lima menit berselang, kami melanjutkan perjalanan menuju Pos III. Jarak tempuhnya relatif singkat karena memang tidak terlalu jauh. Sepuluh menit kami tempuh untuk mencapai Pos III Eyang Sakri. Saat itu tidak ada peziarah yang sedang berkunjung. Memang, hari ini bukanlah hari libur. Sehingga pendaki atau peziarah belum banyak terlihat dan relatif sepi. Tak lama kami beristirahat di sini. Kami segera melanjutkan perjalanan menuju pos selanjutnya.

Pos III Eyang Sakri - Pos IV Eyang Semar
Perjalanan menuju Pos IV cukup jauh. Kondisi jalur mulai menanjak, dan lumayan banyak nyamuk karena kondisi lingkungan yang lembab. Setelah cukup lama berjalan, kami tiba di Pos IV Eyang Semar pada pukul 11.45 WIB. Kondisi saat itu sangat sepi, tidak ada satu pun orang. Dari berbagai artikel yang saya baca, Pos Eyang Semar inilah yang paling angker sehingga sangat disarankan tidak camp di sini walaupun terdapat pondok pendaki. Di sini juga terdapat sumber air berupa kran yang sangat segar dan melimpah. Cukup lama kami beristirahat di sini, makan camilan dan berfoto-foto.

Pos IV Eyang Semar - Pos V Eyang Mangkutoromo
Pukul 12.05 kami cabut dari Pos IV menuju Pos V. Jalur mulai menanjak cukup curam, sekilas jalurnya pendek namun memakan waktu cukup lama. 30 menit kemudian kami sampai di Pos V Mangkutoromo, tepatnya pada pukul 12.35 WIB. Di sini terjadi sedikit insiden lucu tapi cukup menegangkan. Ketika saya memasuki kompleks Pos V (sambil merekam video), tiba-tiba dua anjing berlari dan menyalak-nyalak ke arah saya. Karena bercampur takut dan kaget, saya pun terjatuh. Beruntung kamera tidak rusak, dan tiba-tiba ada dua anak (cowok dan cewek) memanggil anjing-anjing tersebut. Rasanya lega ketika anjing tersebut menjauhi saya.

Bercengkerama di Pos V Mangkutoromo. Pak Parto (kiri).

Tak lama kemudian keluarlah sosok laki-laki berkumis dari pondok Mangkutoromo. Dia adalah Pak Parto, penjaga (kuncen) pos ini. Beliau sebenarnya juga menyarankan agar lain kali naik dengan jumlah genap, namun saya menegaskan bahwa kami ke Arjuno tidak ada maksud aneh-aneh dan niat kami adalah menikmati keindahan alam ciptaan Tuhan dengan jalan mendaki gunung. Beliau pun memaklumi. Di sini juga terdapat sumber air dalam tandon. Dan di sinilah sumber air terakhir di Gunung Arjuno jalur Purwosari. Kami pun mempersiapkan bekal air dalam jeriken yang kami bawa secara bergantian. Setelah beristirahat cukup lama, kami kembali melanjutkan perjalanan.

Pos V Eyang Mangkutoromo - Puncak Candi Sepilar - Jawa Dipa
Satu jam perjalanan dari Pos V, kami tiba di Puncak Candi Sepilar pada pukul 14.00 WIB. Di sini terdapat candi berundak. Kami tidak lama-lama di sini, dan mengambil jalan di sebelah kiri candi. Karena waktu sudah mendekati sore, kami memutuskan untuk camp di Jawa Dipa. Di saat inilah kebingungan melanda. Dari informasi yang kami peroleh, Jawa Dipa dapat dicapai dari Candi Sepilar sekitar satu jam. Namun apa daya, saat kelelahan mulai menghinggapi, kami menempuh waktu hampir 3 jam untuk sampai di kawasan Jawa Dipa. Kami sampai di Jawa Dipa sekitar pukul 16.55 WIB. Di sinilah camp aman terakhir sebelum puncak Arjuno. Kami memutuskan camp di sini karena pertimbangan kondisi fisik dan waktu, karena kami bertiga masih buta medan jalur Purwosari. Padahal rencana awal kami adalah camp di kawasan sebelum puncak, yang kata teman saya 30 menit dari puncak.

Camp di Jawa Dipa

Cuaca mendadak berkabut dan agak gerimis di Jawa Dipa. Suasana menjelang malam cukup angker, karena kami berada di dalam kompleks Alas Lali Jiwo. Tapi rasa lapar dan lelah membuat kami tak pikir pusing tentang hal-hal yang mistis, sehingga yang ada di pikiran adalah segera masak, makan, dan tidur, karena esok Subuh kami akan melanjutkan perjalanan ke puncak Arjuno.

Kamis, 4 April 2013

Menuju Puncak Arjuno
Alarm pukul 01.30 berdering membangunkan kami. Kami segera bersiap diri, mempersiapkan bekal sarapan dan peralatan tempur. Setelah packing kelar, kami mulai berjalan menuju puncak Arjuno pada pukul 03.30. Hari masih gelap, sehingga headlamp kami menyala hingga hari terang. Matahari mulai terbit bersinar kala kami sudah menempuh satu jam perjalanan. Dari informasi yang saya dapat, waktu tempuh Jawa Dipa menuju puncak Arjuno adalah 4-5 jam perjalanan loss carrier. Namun ketika kami sudah hampir 5 jam berjalan, puncak belum kami gapai. Kami baru sampai di pertigaan jalur Purwosari-Lawang.

Saya di pertigaan jalur Purwosari-Lawang

Dari sini sudah terlihat puncak Arjuno, namun tampaknya masih jauh karena jalur terus menanjak. Kabut mulai datang, dan kami masih berjalan kepayahan.

Puncak Ogal-Agil, Gunung Arjuno
Sungguh rasanya fisik ini sudah hampir mendekati titik nol, rasanya lemas sekali berjalan. Tapi, kami tidak mau menyerah. Untuk ekspedisi ini kami harus berhasil., karena satu-satunya jalan untuk bisa mencapai Puncak Welirang dan turun di Tretes adalah melalui puncak Arjuno. Dengan semangat membara di tengah kabut, akhirnya kami tiba di puncak Ogal-Agil, Gunung Arjuno dengan ketinggian 3.339 mdpl pada pukul 10.50 WIB.

Euforia di Puncak Arjuno

Mas Dani di Puncak Arjuno

 Saya di Puncak Arjuno

Teriakan membahana dari kami bertiga. Sujud syukur kepada Sang Pencipta karena rasa bersyukur kami telah sampai di sini dengan selamat dan lelah pun terbayar. Hampir 7,5 jam kami berjalan dari Jawa Dipa. Mungkin karena membawa beban, sehingga waktu yang kami tempuh sangat lama. Pemandangan tidak dapat kami lihat kecuali Pasar Dieng yang jelas terlihat di sebelah barat. Selebihnya putih tertutup kabut. Namun, hal itu tidak menghalangi kami untuk bebas merekam momen saat itu. Cukup lama kami di sini, hampir satu jam. Baru pukul 12.00 kami turun ke Pasar Dieng.

Turun ke Lembah Kijang
Di Pasar Dieng kami istirahat cukup lama karena lelah dan ngantuk. Sarapan roti lapis selai kacang dan coklat saat pagi tadi rasanya sudah mulai hilang kenyangnya. Kami makan camilan untuk mengganjal perut kami. Kami harus menahan lapar sampai tiba di Lembah Kijang. Setelah istirahat, kami mulai turun. Dan 15 menit kemudian, kami bertemu rombongan pendaki campuran Bandung, Jakarta, dan Manado yang akan muncak ke Arjuno. Rupanya tenda mereka ditinggal di Pos Pondokan Welirang. Sepanjang perjalanan turun, kami sempat berhenti karena ternyata tas tenda plus pasak Mas Dani terjatuh di suatu tempat. Dia sempat bingung sebelum akhirnya kami memutuskan turun saja ke Lembah Kijang sembari berharap rombongan yang kami temui tadi menemukannya.

 Lembah Kijang

Karena cukup lelah, kami baru tiba di Lembah Kijang sekitar pukul 17.10 WIB. Segera kami membuka tenda dan mempersiapkan makan malam. Di tengah memasak, rombongan pendaki yang kami temui tadi menghampiri tenda kami. Oh, ternyata mereka menemukan tas tenda Mas Dani yang terjatuh. Syukurlah, kami berterima kasih kepada mereka. Mereka pun kembali ke tenda mereka di Pondokan. Setelah makan, kami segera beristirahat.

Jum'at, 5 April 2013

Lembah Kijang - Puncak Welirang
Sekitar pukul 02.00 WIB kami terbangun dari tidur. Rasanya badan ini remuk semua. Tapi, kami harus tetap semangat untuk menyelesaikan misi ekspedisi ini. Karena lelah bercampur semangat inilah yang ternyata membuat kami baru bisa mulai berjalan sekitar pukul 05.45 WIB. Sudah sangat terang pagi itu. 15 menit kami berjalan, kami telah sampai di Shelter III atau Pos Pondokan Welirang. Saat itu tengah sepi penambang karena mereka sudah turun ke bawah sejak hari Kamis lalu. Mereka akan naik lagi sekitar hari Minggu. Kami bertemu dengan rombongan pendaki yang camp di sini. Rupanya mereka tidak jadi naik ke Welirang. Sehingga, kami tetap ke Welirang bertiga.

Jalur menuju puncak Welirang cukup jelas, hampir mirip dengan trek jalur Tretes. Berbatu dan berkelak-kelok. Namun, cukup banyak bonus. Satu jam berjalan dari Pondokan, kami beristirahat cukup lama. Saya dan Lutfi mengeluh sakit perut, sehingga mau tak mau harus "berhajat", hehehe. Setelah lega, kami melanjutkan perjalanan. Satu jam kemudian kami sudah tiba di perbatasan vegetasi. Artinya, kami sudah keluar hutan. Jalur masih menanjak sampai kami menemui padang luas yang dihiasi bunga edelweiss. Bau belerang sudah tercium dari sini. Satu jam kemudian kami menemui gua besar yang bisa dipakai untuk berteduh. Kami melanjutkan perjalanan menuju puncak.

 Vegetasi menuju Puncak Welirang

Gerobak penambang yang rusak, sangat berat!

 Kawasan edelweiss

Melipir punggungan ke arah puncak Welirang

Gua besar sebelum puncak Welirang


Ketika memasuki kawasan batu-batuan, kami bingung. Karena kami bertiga belum pernah ke sini, sehingga kebingungan manakah puncak sejatinya. Kami mencoba berjalan ke ujung tanjakan dari jalan yang kami tempuh saat itu sembari menutup hidung dengan tisu basah karena belerang yang sangat menyengat. Ketika tiba di ujung tanjakan, kami bertambah bingung karena melihat puncak yang lain di seberang saat kabut menghilang. Kami pun turun dan naik ke atas puncak yang baru kami lihat tadi. Dan betapa bingungnya kami ketika melihat puncak yang lain yang agak tinggi dari puncak yang kami tempati saatitu. Dan semakin yakinlah kami bahwa di sanalah puncak sebenarnya karena terlihat tiang bendera merah putih. Kami segera berunding, dan atas pertimbangan waktu dan fisik, kami memutuskan tidak ke sana dan mengambil foto di "Puncak 2" Welirang yang kami tempati saat itu.

 Mas Dani di Puncak Welirang

Lutfi dan banner Gamananta di Puncak Welirang

Kawah utama Gunung Welirang

Kondisi medan kawasan puncak Welirang

Salah satu kawah Welirang

Bau belerang semakin menyengat dan membuat kepala pusing, bahkan mata saya terasa pedas. Tak lama di puncak, kami segera turun dari kawasan puncak Welirang ini. Total empat jam perjalanan kami tempuh untuk sampai di kawasan puncak Welirang.

Turun ke Tretes
Kami pun turun menuju goa yang kami lihat tadi untuk sekadar mengisi perut dengan roti. Kami baru mulai berjalan turun ke Pondokan sekitar pukul 11.30 WIB. Perlu dua jam bagi kami untuk sampai di Pondokan kembali. Setelah beristirahat sejenak, kami melanjutkan perjalanan turun. Hujan dan petir menghiasi Alas Lali Jiwo saat itu. Jalan berbatu cukup licin karena basah terkena hujan. Tiga jam kemudian, kami pun sampai di pos Kokopan pada pukul 17.00 WIB. Karena lapar, kami memasak bubur oatmeal di sini dan menghabiskan logistik tersisa untuk meringankan beban. Tampak lampu-lampu kota Pasuruan, Surabaya, yang sangat cantik di tengah gerimis.

 Kabut sepanjang perjalanan turun

 Masak di Pos Kokopan

Pukul 18.30 kami meninggalkan Pos Kokopan. Perjalanan turun kami kebut, dan sempat singgah di Pet Bocor sejenak. Akhirnya setelah 2 jam berjalan, kami sampai di Pos Tretes. Setelah lapor kepada petugas, kami menunggu angkot yang masih beroperasi malam itu berkat bantuan salah seorang petugas perijinan. Setelah hampir satu jam menunggu, angkot L300 yang ditunggu datang juga. Angkot ini mengantar kami sampai di depan terminal Pandaan. Tak lama setelah turun dari angkot, ada bus Restu tujuan Malang yang akan kami tumpangi untuk kembali ke Malang. Rasanya ngantuk berat, membuat saya tertidur di dalam bus hingga bus berhenti di terminal Arjosari, Malang pada pukul 23.30 WIB. Setelah mengambil motor, kami pun pulang ke kos saya untuk istirahat.

Special Thank's to:

Allah SWT
Nabi Muhammad SAW
Orang tua kami masing-masing
Kamera digital pinjamannya Ike dan kawannya Lutfi
Rombongan pendaki Jakarta-Bandung-Manado
Petugas Pos Tretes yang mencarikan kami angkot pulang
Crew Gamananta

Catatan Penting:
  1. Kawasan Gunung Arjuno-Welirang adalah kawasan gunung-hutan yang cuacanya sangat susah sekali ditebak dan sering berubah-ubah, selalu berhati-hati dan waspada selama perjalanan
  2. Bila memungkinkan, datangilah puncak Welirang kala pagi hari sebelum jam 9 pagi, karena di atas jam tersebut kabut pekat dan asap belerang akan menyelimuti kawasan puncak
  3. Bila ingin menuju Puncak Welirang, akan lebih aman kalau semua barang bawaan dibawa ke puncak, karena kawasan Pondokan apabila ramai penambang akan kurang aman kecuali memberikan upah untuk menitipkan barang bawaan, tapi saya merekomendasikan untuk dibawa ke puncak Welirang agar tidak kepikiran
  4. Jika mendaki melalui jalur Purwosari, selalu jaga sikap, ucapan, etika, dan tingkah laku karena merupakan jalur peziarah yang sakral dan keramat

Follow Us @soratemplates