Monday, 14 October 2013

,

Ini adalah perjalanan yang tidak diagendakan oleh komunitas, berawal dari rencana pribadi seorang Muchlis Setiawan. Salah seorang Commissioner Gamananta tersebut menginginkan merayakan kelulusan di puncak gunung. Awal Oktober Muchlis telah menjalani prosesi wisuda di kampus. Seorang anggota Gamananta yang lain, Fitrah, juga diwisuda pada hari yang sama. Jadilah Gunung Lawu sebagai tujuan perayaan ini. Tak sendirian, ia ditemani oleh teman-teman Gamananta yang lain. Mereka adalah Lia, Busthomy, Jeanny, Mas Kurniawan, Mas Rizal, Mas Yayan, Anggrek, dan saya sendiri.

Sebelas Oktober 2013, pagi di Malang begitu cerah dan sejuk. Karena keterbatasan motor, saya dan Anggrek memilih naik transportasi umum menuju Cemoro Sewu, Magetan. Sisanya naik motor dari Malang. Hal ini membuat saya dan Anggrek berangkat lebih dulu. Petualangan pun dimulai dengan menumpang angkot biru ADL menuju terminal Arjosari, yang dilanjut dengan bus ekonomi AC Restu ke Surabaya. Perkiraan saya jalan bakal lancar meleset setelah insiden truk limbah terguling di jalan raya Purwosari. Bagian kepala berada di dekat kantor Pegadaian Purwosari, sisanya tersangkut di trotoar pertigaan Purwosari.

Kami baru menginjakkan kaki di terminal Bungurasih sekitar pukul 09.45. Setelah membeli nasi bungkus untuk bekal sarapan dan makan siang, kami segera meluncur ke pos pemberangkatan bus. Bus Sugeng Rahayu (Sumber Grup) menjadi pilihan kami menuju Maospati, Magetan. Duduk di bangku paling depan akan membuat jantung kami berdebar sepanjang perjalanan. Anda yang pernah tahu bus ini pasti paham maksud saya. Lalu lintas yang cukup padat membuat bus baru memasuki daerah Jombang saat tengah hari. Dalam pantauan, teman-teman yang bersepeda motor sedang istirahat sholat Jumat di masjid agung Jombang. Saya sempat ketar-ketir akan kesorean tiba di Magetan, khawatir angkutan umum sudah habis.

Benar saja, saat Ashar kami baru menginjak kaki di terminal Maospati. Bus terakhir menuju Plaosan langsung kami serbu. Dan menuju basecamp Cemorosewu terpaksa menggunakan jasa ojek karena angkutan umum sudah habis dan tiada satupun mobil pick up atau truk yang mau kami tumpangi. Pukul 16.45 adalah waktu yang tertera di jam dinding saat kami tiba di Cemorosewu. Teman-teman yang lain baru tiba di Cemorosewu sekitar hampir satu jam kemudian.

Gerbang pendakian Gunung Lawu jalur Cemorosewu

Memulai langkah menuju Sendang Drajat
Setelah makan malam dan sholat Isya, dan tak lupa registrasi, pukul 20.10 kami memulai langkah pendakian ini. Dari kami bersembilan, hanya Lia yang sudah pernah mengunjungi gunung sakral ini. Pastilah, dia dan Muchlis paling depan, disusul Mas Yayan, dan Mas Rizal. Berikutnya Jeanny, Anggrek, dan terakhir kami bertiga yang spesialis sweeper: saya, Busthomy, dan Mas Kurniawan. Trek awal landai, berbatu (mirip jalur Tretes ke Arjuno-Welirang) cukup menguras tenaga. Sudah cukup lama saya tidak naik gunung, terakhir dari Rinjani September kemarin. Tiada persiapan fisik seperti jogging juga karena tiada waktu luang.

Mejeng dulu sebelum mendaki

Hal yang menarik adalah ketika beberapa pendaki dari Jawa Tengah dan sekitarnya kami temui di perjalanan mengetahui kalau kami berasal dari Malang. Mereka beranggapan pendaki dari Malang adalah pendaki pro karena lokasinya strategis, memungkinkan pendaki menjelajahi banyak gunung besar seperti Semeru, Arjuno, Welirang, Argopuro, dan Raung. Masuk akal juga, batin saya. Pos I kami lalui begitu saja, perlahan mulai menanjak hingga kami istirahat sejenak setibanya di bangunan shelter Pos II. Menuju Pos III, jalur mulai menunjukkan titik-titik tanjakan cukup terjal, menguras tenaga. Lagi-lagi, kami sempatkan istirahat di dalam  shelter setibanya di Pos III. Cukup banyak pendaki di hari Jum’at malam ini, rata-rata dari sekitar Magetan saja, Solo, Karanganyar, Ponorogo, dan Madiun.

Melanjutkan perjalanan menuju Pos IV adalah yang terberat. Walau mungkin jaraknya relatif lebih pendek dibandingkan pos sebelumnya, jalur ini yang terberat dan terus menanjak, nyaris tanpa bonus. Bahkan, di tengah perjalanan kami beristirahat cukup lama karena ngantuk. Perjalanan malam adalah perjalanan mengalahkan rasa kantuk. Angin berhembus cukup kencang menusuk kulit menambah godaan untuk tidur. Di Pos IV, hanya segelintir anggota tim yang sempat terlelap, saya dan Mas Kurniawan tidak bisa tidur karena dinginnya udara malam itu. Ini sudah lewat tengah malam. Menurut keterangan Lia, Sendang Drajat tidak jauh lagi dan vegetasi mulai terbuka.

Setelah berjalan kurang lebih tujuh jam, tibalah kami di sebuah camping ground Sendang Drajat. Ada sumber air di sini. Buru-buru kami mendirikan dua tenda milik Jeanny dan Lia. Angin semakin menusuk kulit, membuat sekujur tubuh menggigil. Saya yang penasaran ingin memotret lampu kota pun tak sanggup bertahan lama, hanya 2-3 frame foto yang dihasilkan dan hasilnya pun sangat tidak memuaskan. Saya segera tidur menyusul teman-teman. Saya hanya mengenakan jaket dan celana polar plus kaos kaki dan kupluk, sisanya berbalut sleeping bag dan sarung.

“Summit Attack” to Hargo Dumilah


Matahari pagi dilihat dari Sendang Drajat

Pagi ini sunrise cukup indah walau agak telat kami nikmati. Suhu di Gunung Lawu memang lebih dingin daripada gunung yang lain. Keberadaan warung Mbok Panut di Sendang Drajat membantu meringankan kami untuk sarapan. Kami hanya memasak minuman panas, kopi, teh, dan susu. Sarapan pagi berupa pecel dan lauk telur ceplok ala Mbok Panut mengisi perut kami pagi ini. Tak lupa kami sempatkan foto bersama Mbok Panut beserta suami di depan warung andalannya. Selain Mbok Panut, juga ada warung Mbok Yem yang relatif sepi di kawasan Hargo Dalem. Mereka berdua ibarat pahlawan bagi para pendaki yang tidak membawa bekal cukup. Hanya berbekal rupiah, gizi pendaki akan tercukupi di atas gunung Lawu.

Foto bersama Mbok Panut (kelima dari kiri)

Usai repacking, Sekitar pukul 8.30, kami beranjak menuju puncak tertinggi gunung ini, Hargo Dumilah. Treknya menanjak namun jarak tempuhnya singkat, sekitar 30 menit paling lama. Puncak Hargo Dumilah ditandai dengan adanya bendera merah putih dan sebuah tugu oleh sebuah produsen buku tulis. Inilah puncak tertinggi Gunung Lawu dengan ketinggian 3.265 mdpl. Dari sini pemandangan sangat indah, sayup-sayup gunung Merapi dan Merbabu terlihat di kejauhan berselimut awan.

Merapi dan Merbabu terlihat samar

Foto bersama di puncak Hargo Dumilah, 
mengibarkan banner dan ucapan selamat ulang tahun untuk Gamananta

Cukup lama kami di puncak, foto-foto dan makan camilan. Kami bertemu dengan rombongan pendaki dari Purworejo, Jakarta, dan Solo. Yang menarik, salah seorang diantaranya membawa anak laki-lakinya ikut mendaki. Luar biasa. Logistiknya juga melimpah, kami diberi sekian potong buah semangka merah segar dan pudding coklat. Pukul 10.00, kami turun bareng-bareng melalui jalur Cemorokandang.

Istirahat di Pos IV

Jalur pulang terasa begitu panjang dan lama, banyak bonus trek dan berputar-putar. Setelah melewati sekitar 4 pos, tibalah kami di basecamp Cemorokandang sekitar pukul 16.30. Kami segera sholat dan di antara kami menjadikan bakso sebagai pengisi perut. Saya dan Anggrek sempat kebingungan karena angkutan umum menuju Maospati sudah jarang, lagi-lagi karena kesorean. Akhirnya, selepas Magrib, teman-teman yang membawa motor membonceng kami berdua, sehingga saya, Mas Yayan, dan Busthomy berboncengan bertiga. Nekat, tapi seru.

Meninggalkan senja Cemorokandang

Di sebuah pom bensin kami berpisah dengan rombongan touring. Mereka akan pulang ke Malang keesokan paginya. Sedangkan saya dan Anggrek naik bus dari Maospati menuju Surabaya, lalu lanjut ke Malang. Dua puluh jam pendakian pergi pulang kami hadiahkan untuk Gunung Lawu.

Ditulis oleh:
Rifqy Faiza Rahman

Sunday, 22 September 2013

,

Rencana pendakian Gamananta ke Gunung Rinjani sudah dirancang sejak tahun 2012, semenjak Gamananta berdiri. Dirancang jauh-jauh hari agar anggota Gamananta yang ingin ikut serta dapat mempersiapkan diri. Jelang satu bulan keberangkatan, peserta awal adalah 14 orang. Semakin mendekati hari-H, peserta semakin mengerucut menjadi 8 orang, hingga akhirnya peserta yang masih bertahan sejumlah 4 orang. Satu orang terakhir bahkan membatalkan pada hari keberangkatan, 10 September 2013. Hehehe.

10 September 2013
Malang – Banyuwangi – Ketapang 
Tak terasa, hari ini tiba. Dari tujuh tiket kereta api, hanya tiga yang berfungsi, sisanya batal. Namun karena tidak ada pembatalan ke pihak stasiun, jadinya pasti kursi kami bertiga longgar di kereta nanti. Keempat anggota ekspedisi kali ini adalah:

Rifqy Faiza Rahman (Leader – Trip Planner – Documentation)
Muhammad Choirul Anam (Logistic – Documentation)
Teguh Rachmat Prianto (Trip Writer – Logistic)
Kama Yuda Feby Pratama (Logistic – Documentation)

Dari keempatnya, tiga teratas berangkat bersama-sama dari Malang. Sedangkan yang terakhir alias si Pepy sudah menunggu di Banyuwangi, karena rumahnya memang di sana. Siang itu, pukul 11.00, kami sudah berkumpul di gazebo pusat Universitas Brawijaya, Malang, untuk repacking. Kami bertiga ditemani dan bakal diantar teman-teman Gamananta yang turut serta siang itu, antara lain Rizky, Lita, Mustofa, Zaki, Fahri, Ike, Fitrah, Muchlis, Lutfi, dan Sukma. Beberapa konsumsi yang tahan lama kami bawa dari Malang, sementara bahan-bahan sayuran dan bumbu kami beli di Lombok nantinya sebelum pendakian.

Dilepas teman-teman Gamananta sebelum berangkat ke stasiun


Seusai solat, pukul 13.00 kami berangkat menuju stasiun Malang bersepeda motor. Karena lapar, kami menyempatkan makan siang sesampainya di stasiun. Di dalam peron stasiun, kami berpamitan kepada teman-teman Gamananta dan memohon doa restu agar perjalanan kali ini sukses dan selamat. Tepat pukul 14.45 WIB, kereta api Tawang Alun tujuan Banyuwangi mulai berjalan meninggalkan stasiun Malang.

Perjalanan kereta ini akan melewati beberapa stasiun, Singosari, Lawang, Bangil, Pasuruan, Probolinggo, Tanggul, Rambipuji, Jember, Garahan, Kalibaru, Genteng, Kalisetail, Karangasem, dan terakhir Banyuwangi Baru. Kami tiba di stasiun Banyuwangi Baru sekitar pukul 22.30. Di stasiun, sudah menunggu tiga orang pendaki yang gabung dengan kami ke Rinjani, mereka adalah Mas Iqbal (Pekalongan), Mas Dwi (Purworejo), dan Mas Rahmat (Jakarta). Mereka bertiga naik kereta Sri Tanjung dari Yogyakarta. Ditambah Pepy yang sudah menunggu di masjid depan pelabuhan Ketapang, jadilah kami bertujuh siap mengarungi Rinjani.

11 September 2013
Gilimanuk - Padang Bai – Lembar - Senaru
Seusai solat di masjid, kami segera naik ke kapal Ferry menuju Gilimanuk. Penyeberangan selama kurang lebih satu jam kami manfaatkan untuk makan malam. Sekitar pukul 02.00 WITA kami tiba di pelabuhan Gilimanuk. Setelah melewati pemeriksaan KTP, kami segera naik bus bomel dengan tujuan langsung ke Padang Bai. Bus baru berangkat sekitar pukul 03.00 WITA. Perjalanan ke Padang Bai memakan waktu sekitar 5 jam. Kami baru bisa benar-benar terlelap kala bus sudah mulai berjalan.

Ngeksis dulu sebelum menyeberang ke Lembar

Tepat pukul 07.30 kami tiba di Padang Bai. Sebelum menyeberang, kami menyempatkan sarapan ringan di sebuah warung. Seusai sarapan, kami langsung menuju kapal ferry menuju pelabuhan Lembar. Penyeberangan ke sana cukup lama, sekitar 4 jam perjalanan. Hal inilah yang mungkin menyebabkan tarif penyeberangan Padang Bai – Lembar lebih mahal daripada Ketapang – Gilimanuk. Perjalanan yang cukup membosankan ini kami isi dengan tidur, keliling kapal, dan ngobrol-ngobrol dengan para bule.

Anjungan kapal ferry. Nampak di depan Pelabuhan Padang Bai

Terbatasnya jumlah dermaga yang digunakan dan ruwetnya antrian penumpang, membuat kami baru benar-benar menginjakkan kaki di pelabuhan Lembar sekitar pukul 13.30. Di pelabuhan, kami dijemput oleh Pak Hamdan, sopir engkel yang diminta Pak Saat menjemput kami menuju Senaru. Pak Saat adalah contact person yang akan membantu akomodasi kami selama di Senaru. Saya memperoleh kontak beliau dari Mas Fandy, anggota Gamananta yang sudah sebelumnya ikut dalam pendakian ke Gunung Arjuno bulan Maret kemarin dan sudah pernah ke Rinjani.

Perjalanan menuju Senaru memakan waktu hampir 4 jam, melintasi pegunungan Lombok Barat dan pesisir Lombok Utara. Kami memilih menginap di Senaru, meskipun mendaki lewat Sembalun. Alasannya, Pak Saat menawarkan fasilitas tidur gratis, listrik gratis, air dan mandi gratis. Kami hanya perlu membayar biaya makan yang dihargai sekitar Rp 15.000,00 per orang sekali makan dengan menu melimpah dan mengenyangkan. Sungguh tawaran jasa yang sangat meringankan kami. Setibanya di rumah Pak Saat, kami bergantian mandi dan repacking.  Anam, yang kebagian tugas logistik ditemani Pak Saat mencari sewaan tenda dan belanja konsumsi. Malam ini kami istirahat lebih awal karena esok pagi akan dimulai perjuangan yang melelahkan.

Menu makan malam di rumah Pak Saat

12 September 2013
Desa Bawak Nao – Plawangan Sembalun

 Siap berangkat menuju Sembalun

Setelah sarapan, kami berangkat menuju Rinjani Trekking Center (RTC), Sembalun, untuk registrasi perizinan pendakian. Transportasi kali ini adalah pick up. Di tengah perjalanan, kami menyempatkan mampir di Pasar Senaru untuk belanja konsumsi tambahan. Perjalanan ke Sembalun yang naik turun dan berkelak-kelok membuat waktu tempuh terasa lama. Biaya pendakian di Rinjani sangat murah, Rp 2.500,00 dan tidak ribet dengan berbagai persyaratan njlimet. Bandingkan dengan perizinan di Semeru maupun Gede Pangrango, yang rumit dan mahal. Sesuai saran Pak Saat, kami juga menyewa porter selama dua hari untuk menjaga tenda di Plawangan Sembalun ketika kami muncak nanti. Di sana sering terjadi kasus kehilangan peralatan pendakian. Demi keamanan, kami ikuti saran Pak Saat.

Start pendakian

Kami start pendakian tidak dari RTC Sembalun, yang masih berjarak 3 jam menuju Pos I. Kami memulai langkah dari Desa Bawak Nao yang memangkas waktu lumayan banyak menuju Pos I. Bersama seorang porter, Pak Muhammad, kami memulai pendakian sekitar pukul 10.00 WITA. Selama perjalanan hingga pertengahan bukit penyesalan, kami disuguhi pemandangan sabana yang luas dan panas. Beruntung cuaca menjadi mendung selepas Pos II. Jarak tempuh dari Desa Bawak Nao ke Pos I hanya 1 jam, Pos I ke Pos II ditempuh selama 30 menit, Pos II – Pos Extra – Pos III ditempuh selama 1 jam. Sumber air bersih ditemui di Pos II dan Pos Extra. Waktu tempuhnya relatif tidak lama, namun yang membuat lelah adalah jalur begitu terbuka, naik turun dan panjang.

 Pos I Pemantauan: Foto bareng pendaki bule asal Slovakia

Pos II Tengengean: Tempat servis makan rombongan bule

Ujian sesungguhnya di Rinjani jalur Sembalun: Bukit Penyesalan

Ujian bagi kami adalah selepas Pos III, langsung dihadapkan jalur menanjak tanpa henti. Inilah Bukit Penyesalan. Ada sekitar 5 hingga 7 bukit yang harus kami lalui sebelum Plawangan Sembalun. Dari Pos Extra ke arah kanan sebenarnya juga ada jalur (Bukit Penderitaan), namun sudah tidak terpakai lagi karena sudah rusak. Di Bukit Penyesalan, setiap selesai berjalan hingga di ujung bukit, maka di depan akan terhampar bukit lain yang lebih tinggi dari sebelumnya. Begitu seterusnya. Bukit yang selama berjalan tertutup kabut, menjadi terbuka saat kami sampai di ujung bukit. Sungguh benar-benar menguji mental dan fisik kami, seolah meminta kami menyerah. Namun, semangat Ji! Ro! Lu! Budal! Gamananta menyertai langkah kaki kami. Setelah merasakan hujan mengguyur di tengah Bukit Penyesalan, 3,5 jam kemudian tibalah kami di sebuah dataran yang menjadi akhir tanjakan bertubi-tubi yang kami hadapi sebelumnya.
 
Kabut tipis di Plawangan Sembalun

  Lautan awan Plawangan Sembalun

 Gigiran jalur menuju puncak dilihat dari Plawangan Sembalun

Waktu sudah menunjukkan pukul 18.00 WITA saat kami menginjakkan kaki di Plawangan Sembalun. Pemandangan dari sini sangat indah. Jalur tipis ke puncak terlihat cukup jelas, lautan awan dan kabut serta semburat oranye tenggelamnya matahari terlihat jelas dari sini. Menjelang gelap kami segera mendirikan tenda. Urusan air diambil alih oleh Pak Muhammad, menjalankan tugas beliau sebagai porter.Setelah masak, makan malam, dan mempersiapkan bekal muncak, kami segera istirahat. Tenda yang kecil untuk kami berempat (rombongan lain membawa tenda sendiri), tidak menyurutkan semangat kami ke puncak. Sebelum tidur, kami sempatkan melihat sekilas kilauan Danau Segara Anak dari atas yang nampak putih terpapar sinar rembulan dengan kabut tipis sesekali membayangi.

13 September 2013
Plawangan Sembalun – Puncak Rinjani
Sekitar pukul 01.30, kami terbangun dan bersiap-siap. Selain persiapan alat tempur untuk mengarungi medan ke puncak, kami juga mempersiapkan bekal seperti roti selai dan jelly. Sayang sekali, Mas Iqbal dan kawan-kawan masih lelah dan kurang fit untuk melanjutkan perjalanan ke puncak. Mereka baru berencana muncak hari ketiga sehingga camp di Plawangan Sembalun semalam lagi. Jadilah kami berempat akan menuntaskan misi Gamananta.

Beriring doa dan semangat Budal!, kami mulai melangkah menuju puncak pada pukul 03.00 WITA. Kami tidak sendirian, banyak porter yang mendampingi para bule juga berjalan ke puncak lebih awal dari kami. Selangkah bagi bule, dua langkah bagi kami. Hehehehe. Sekitar pukul 04.30, kami sudah melewati batas vegetasi hutan dan terus menanjak. Jalur berganti menjadi pasir yang tidak terlalu padat dan batu-batu cukup besar yang cenderung licin. Awal jalur pasir ini landai, kemudian menanjak tajam yang sepertinya baru berakhir mendekati puncak. Jika dilihat dari batas vegetasi, jalur pasir ini nampak seperti “Letter E”, berkelak kelok.

Sekelebat jingga mulai menyinari pagi di lereng Rinjani

 Ada "3 cm" di Rinjani, hehehe

Ketika matahari akan menunjukkan sinarnya, kami sempatkan solat Subuh di tengah perjalanan, di lereng yang miring. Sungguh pagi itu sangat luar biasa indahnya. Pukul 06.15, matahari dengan bulat sempurna telah terbit menyinari semesta. Jelas sekali dari sini terlihat garis pantai Lombok, tiga Gili yang terkenal itu, Gunung Agung, dan bayangan puncak Rinjani yang “jatuh” di atas hijaunya air Danau Segara Anak. Dari sini juga kami sempat melihat ke bawah, jalur yang kami lalui sebelumnya. Tak menyangka sudah sampai setinggi ini.

Sunrise of Indonesia

 Danau Segara Anak dan bayangan puncak

Namun, perjalanan kami belum berakhir. Puas menikmati sunrise, kami berjalan lagi ke puncak. Saat kami masih tertatih-tatih berjalan ke puncak, nyatanya malah banyak bule yang turun dari puncak. Nampaknya mereka cukup puas hanya dengan melihat sunrise dari atas puncak. Saling sapa menyemangati kami berempat, kami terus berjalan tanpa henti. Akhirnya, saat jarum jam menunjukkan angka 07.30, tibalah kami berempat di puncak tertinggi Nusa Tenggara, gunung berapi tertinggi kedua di Indonesia, Puncak Rinjani 3.726 mdpl.

Gamananta di puncak Rinjani 3.726 mdpl

 Menorehkan nama-nama GAMA'ers di atas puncak Rinjani. Terima kasih teman-teman!

Sujud syukur, peluk haru, dan air mata mewarnai euforia kebanggaan kami di puncak ini. Bukan kebanggaan pribadi, namun lebih kepada rasa bangga kepada negeri ini, Indonesia yang memiliki Rinjani di tanahnya. Di puncak, tidak terlalu banyak pendaki sehingga membuat kami leluasa mengambil foto sebanyak-sebanyaknya. Sungguh kesempatan yang langka dalam seumur hidup kami. Dari sini, pemandangan sekitar dan di bawahnya sangat indah. Cukup lama kami di puncak, hampir satu jam lamanya mengabadikan momen berharga ini. Kawan, Gamananta sudah mengukir jejak kecilnya di tanah ini.

Pemandangan khas dari atap Nusa Tenggara

 Puncak Rinjani 3.726 mdpl

Jalur turun ke Plawangan Sembalun

Puas di puncak, satu jam berselang kami kembali turun. Jalan turun kembali ke Plawangan Sembalun kami tempuh hampir 2,5 jam santai dan sesekali berseluncur, mirip saat turun dari Mahameru. Setibanya di Plawangan Sembalun, kami bergantian repacking dan masak makan siang. Rombongan Mas Iqbal dkk akan menetap di sini semalam lagi karena akan muncak besoknya. Sehingga kami sepakat bertemu di Danau Segara Anak. Sedangkan Pak Muhammad izin pulang ke Sembalun karena memang kesepakatan kami hanya dua hari. Rencananya Mas Iqbal dkk menyewa porter lagi dari Senaru untuk dijemput ke Plawangan Sembalun karena Mas Dwi dalam kondisi kurang fit.

Perjalanan menuju Segara Anak

Setelah repacking dan solat, pukul 15.00 kami mulai berjalan turun menuju Danau Segara Anak. Treknya hampir mirip dengan jalur Pet Bocor – Kokopan di Gunung Arjuno jalur Tretes, berbatu dan berputar-putar. Sesekali ada bonus trek, lalu turun curam lagi. Jalur yang turun naik, berkelak-kelok cukup melelahkan. Terdapat dua buah jembatan penghubung jalur yang melintasi sungai kering. Kabut mulai turun kala hari mulai gelap.Setelah 2,5 jam berjalan, kami tiba di areal camp Danau Segara Anak. Sesuai saran Pak Muhammad kami memilih camp di tepi danau dan menghadap Gunung Barujari. Kemudian, kami berbagi tugas. Anam dan Teguh mendirikan tenda dan mempersiapkan makan malam, saya dan Pepy mengambil air yang lokasinya berdekatan dengan sumber air panas atau Aik Kalak nama setempatnya.  Menu mi rebus dan sayur plus kopi panas cukup membuat kenyang perut kami untuk mengantarkan kami terlelap dalam tidur kami malam ini. Lega rasanya sudah menggapai puncak.

14 September 2013
Bergembira ria di Danau Segara Anak
Suatu pagi di Danau Segara Anak. Sangat indah. Permukaan air danau nampak tenang. Walaupun tidak bisa diminum, air danau ini masih bisa dipakai untuk mencuci peralatan masak maupun berenang. Bahkan, saat malam atau Subuh pun air danau tidak terlalu dingin dan cenderung hangat. Mungkin karena ada kandungan belerang di dalamnya. Seharian ini, aktivitas kami adalah masak, makan, bermain kartu, mancing, foto-foto. Pokoknya aktivitas bebas sekaligus recovery fisik untuk perjalanan pulang esok pagi yang tak kalah melelahkan.

Danau Segara Anak di pagi hari dan Gunung Barujari

Foto keluarga di Danau Segara Anak. Kabut mulai datang kala siang

Serupa dengan di Plawangan Sembalun, di sini juga banyak dijumpai kera-kera yang cukup agresif. Jadi, pastikan kawan-kawan mengamankan bahan makanan maupun logistik lainnya tetap di dalam tenda. Sampah secuil apapun yang berserakan pasti dipungut mereka, apalagi sampah yang mencolok utamanya berupa makanan. Tengah hari, rombongan Mas Iqbal dkk telah tiba di Segara Anak. Menjelang gelap, saya dan Anam kebagian tugas lagi mengambil air untuk bekal hari ini dan besok. Malam ini, kami sepakat menghabiskan sisa konsumsi yang ada sebagai makanan hari ini dan bekal besok pagi sebelum pulang untuk meringankan beban.

Sumber air tawar, sekitar 500 meter dari Segara Anak, sejalur dengan Aik Kalak

Inilah hari ketiga kami di Rinjani. Malam terakhir di Rinjani.

15 September 2013
Danau Segara Anak – Plawangan Senaru – Desa Senaru
Kami mulai bangun sekitar pukul 04.00 WITA. Sementara Anam dan Pepy pergi berendam air panas, saya dan Teguh mempersiapkan sarapan dan bekal perjalanan pulang. Saya sendiri ikut menikmati air panas saat mereka berdua kembali ke tenda. Sumber air panasnya sangat enak buat berendam (saya hanya mencuci kaki). Jika musim penghujan tiba, debit Aik Kalak akan melimpah dan deras.

Aliran sumber air panas Aik Kalak

Setelah sarapan dan repacking, kami mulai start menuju Plawangan Senaru sekitar pukul 07.30. Rombongan Mas Iqbal sudah berjalan duluan setengah jam yang lalu. Perjalanan menuju ke Plawangan Senaru tidaklah mudah. Setelah jalur landai dan datar di pinggiran danau, memasuki hutan jalur mulai menanjak terus menerus. Ditambah pasir berdebu, membuat kami sibuk menutup mulut kami agar tidak masuk ke dalam pernafasan. Dalam perjalanan, kami banyak menjumpai bule yang menuju Segara Anak melalui jalur Senaru. Jalur yang terus menanjak tajam membuat kami tertatih-tatih di tengah matahari yang menyengat. Bahkan sebelum mencapai Plawangan Senaru, terdapat jalur berbatu yang memaksa kami climbing, seolah lutut bertemu mulut. Setelah 3,5 jam berjalan, tibalah kami di Plawangan Senaru yang sepi.

 Suguhan panorama sepanjang perjalanan menuju Plawangan Senaru

Terus turun mengikuti stringline, kami tiba di Pos Extra. DI sini sudah menunggu rombongan Mas Iqbal dkk. Dari sini kami berjalan bersama hingga ke bawah. Dari Pos Extra, butuh waktu sekitar 3 jam hingga Pos I, melalui Pos III dan Pos II. Di Pos II ternyata sering dijadikan tempat istirahat para bule yang menerima servis makan dari porter. DI sini juga terdapat sumber air musiman yang tidak terlalu jernih. Yang enak di jalur Senaru adalah, jalur terus berada di dalam hutan sampai bawah, sehingga tidak terlalu panas. Yang berat adalah jalur terus menerus turun tanpa ampun, perlahan-lahan karena banyak akar-akar pohon yang melintang. Mirip dengan jalur pendakian Gunung Gede lewat jalur Gunung Putri.

Anam di Plawangan Senaru

 Pos I Jalur Senaru

 Gerbang Pendakian Jalur Senaru

Perwakilan Kantor Taman Nasional Gunung Rinjani Resor Senaru

Di antara sekian pos, jarak tempuh dari Pos II menuju Pos I lah yang paling jauh, sekitar 1,5 jam berjalan. Dari Pos I, masih 1 km lagi menuju Jebang Bawah atau gerbang pendakian jalur Senaru. Ketika lelah sudah menggelayuti kami saat tiba di Jebang Bawah, kami masih harus bersabar dan mengayuhkan kaki untuk turun menuju Desa Senaru. Jaraknya 1,5 km atau sekitar 45 menit dan terus menurun. Bayangkan saja, Plawangan Senaru yang tingginya mencapai sekitar 2.900 mdpl, dihajar turun hingga ke Desa Senaru yang “hanya” sekitar 600 mdpl. Setelah melewati kantor Rinjani Information Center (RIC) Senaru, kami juga melewati kawasan desa adat Senaru. Setelah berjalan sejak jam 07.30 pagi, akhirnya kami tiba di rumah Pak Saat lagi sekitar pukul 16.30. Keramahan khas  dan ucapan selamat dari beliau menyambut kami.

Walau lelah dari Rinjani, masih sempat berfoto di depan gapura Desa Adat Senaru

Kehausan yang melanda kami dari Pos I membuat kami memborong minuman. Sorak sorai menggema kami begitu istri Pak Saat menawarkan kami untuk dimasakkan menu Plecing Kangkung malam ini. Wah, mantap! Malam ini, kegiatan kami selain belanja suvenir pendakian yang terdapat di Pak Saat, kami juga menyempatkan evaluasi. Hasil kesepakatannya untuk kegiatan besok adalah saya dan Teguh harus pulang terlebih dahulu ke Malang karena urusan akademik dan menipisnya budget. Sedangkan Pepy, Anam, Mas Iqbal dkk akan lanjut ke Gili Trawangan. Sehingga kami tiba di Malang tanggal 17 September, sedangkan mereka baru tiba di Malang esoknya, 18 September.

Anam dan Pepy di Gili Trawangan

 Senja di Gili Trawangan

Kami sepakat perjalanan pulang dari Mataram ke Malang tetap estafet, berakhir dengan kereta api dari Banyuwangi ke Malang untuk menghemat anggaran dan efisiensi waktu. Rasa lega dan plong menyertai tidur kami malam ini. Ekspedisi Tiga Tujuh Dua Enam tuntas sudah. Terima kasih Tuhan, terima kasih Gamananta. Ji! Ro! Lu! Budal!


Special Thanks to:
Allah SWT
Orang tua tercinta
Semua teman-teman Gamananta
Mas Iqbal (Pekalongan), Mas Dwi (Purworejo), dan Mas Rahmat (Jakarta)
Pak Saat, Pak Hamdan, dan Pak Muhammad
Mas Maman (thanks sudah bantu cari tumpangan truk)
Pak Gusti (thanks buat tumpangan truknya ke Denpasar)
Someone who has help us

Ditulis oleh:
Rifqy Faiza Rahman

Saturday, 24 August 2013

,
 
Arjuno-Welirang (lagi). Dalam kurun waktu tahun 2013 ini terhitung sudah ketiga kalinya GAMANANTA mendaki ke Gunung Arjuno-Welirang. Namun, ada tujuan lebih di perjalanan kali ini. Tak hanya sekedar mendaki - menikmati eksotisme alam Gunung Arjuno-Welirang - namun untuk mengibarkan bendera di atas sana, dan melaksanakan upacara sebagai peringatan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-68 pada tanggal 17 Agustus 2013.

Kamis, 15 Agustus 2013
Gazebo Universitas Brawijaya menjadi meeting point yang disepakati dalam perjalanan kali ini. Pukul 13.00 WIB, ke-17 anggota sudah berkumpul. Kurang lebih 2,5 jam waktu kami gunakan untuk mengecek peralatan, logistik dan packing ulang tas masing-masing. Pukul 14.30 WIB, kami segera mencari angkutan charter untuk menuju Terminal Arjosari. Karena saat itu masih dalam suasana arus balik lebaran yang menyebabkan lalu lintas kota Malang sangat macet, kami pun sedikit kesulitan untuk mendapatkan angkutan. Pukul 15.30 WIB akhirnya kami mendapatkan angkutan, dan segera bergegas menuju Terminal Arjosari yang ditempuh dalam waktu sekitar 20 menit. Begitu sampai di Arjosari kami segera mencari angkutan menuju Tretes-Pasuruan. Kami memilih untuk mencharter angkutan berupa colt, sehingga waktu tempuh akan lebih cepat dibandingkan jika kami memilih bus karena nantinya harus oper angkutan di Pandaan. Setelah negosiasi harga yang sedikit alot dengan pemilik colt, akhirnya kami bergegas menuju Tretes. Lagi-lagi karena macet akibat arus balik lebaran, perjalanan yang harusnya ditempuh hanya dalam waktu 1,5 jam molor menjadi 2,5 jam. Tepat pukul 18.30 WIB kami sampai di basecamp pendakian jalur Tretes yang berlokasi di depan Hotel Tanjung. Kedatangan kami disambut oleh ramainya rombongan pendaki lain yang mungkin mempunyai “misi” sama dengan kami. Jalur Tretes merupakan jalur paling favorit bagi para pendaki dalam mendaki Gunung Arjuno-Welirang. Meski jalur lebih panjang, namun akses yang mudah dan tersedianya sumber air yang lebih banyak menjadi alasan jalur ini banyak dipilih. 

Setelah menyelesaikan administrasi di bacecamp pendakian, kami bergegas shalat, lalu membeli bekal nasi bungkus untuk makan malam nanti di Pos Kokopan.Begitu kami pastikan bahwa seluruh perlengkapan sudah siap, kami pun segera mulai pendakian, saat itu jam menunjukkan pukul 20.20 WIB.Track yang kami lalui berupa jalan beraspal dan cukup menanjak. Setelah sekitar 20 menit berjalan, salah satu anggota, Jeanny, merasa pusing dan mual. Saya dan Ronny kemudian menemaninya untuk duduk dan beristirahat selama beberapa menit, sementara yang lain melanjutkan perjalanan, namun saya minta untuk menunggu di Pos Pet Bocor. Perjalanan dari basecamp – Pet Bocor kami tempuh selama 50 menit.Di Pos ini terdapat warung yang menjual beraneka gorengan dan minuman, sehingga banyak dimanfaatkan oleh para pendaki untuk bersantai di tengah-tengah pendakian, sekaligus beristirahat sejenak setelah dihajar oleh kerasnya jalur beraspal.

Setelah Saya, Jeanny dan Ronny berhasil menyusul teman-teman yang lain di Pet Bocor, kami segera melanjutkan perjalanan menuju Pos Kokopan, lokasi yang kami pilih untuk camping malam ini. Track berubah menjadi jalur berbatu, sama menyiksanya dengan jalur aspal. Tak berapa lama dari Pet Bocor, rombongan harus kembali dibagi menjadi 2 tim, 14 orang di depan. Sementara saya dan Ronny harus menyesuaikan dengan kondisi Jeanny yang belum lagi pulih, tertinggal di belakang. Kami bertiga baru tiba di Kokopan pukul 00.30 WIB sementara yang lain sudah mendirikan tenda satu jam sebelumnya. Setelah menyantap bekal makan malam yang sudah kami bawa tadi, kami bergegas untuk tidur untuk memulihkan stamina yang cukup terkuras, dan berharap kondisi Jeanny segera membaik.

Pemandangan Gunung Penanggungan dari Pos Kokopan

Jum’at, 16 Agustus 2013
Adzan Shubuh yang masih mampu terdengar hingga Pos Kokopan, membangunkan tidur pulas kami hari itu.Pagi yang begitu cerah, menambah semangat kami untuk melanjutkan perjalanan hari ini. Waktu beberapa jam kami gunakan untuk menikmati sunrise, sarapan dan mengisi persediaan air.

 Sunrise dari Kokopan

Gunung Penanggungan yang tampak sangat indah

Pukul 09.00 WIB kami lanjutkan perjalanan menuju Lembah Kijang, lokasi yang kami pilih untuk camping di malam kedua. Di tengah-tengah perjalanan, kondisi Jeanny yang belum begitu membaik ternyata memaksanya harus turun ke Malang, ditemani oleh Ronny, jadilah tersisa 15 orang yang melanjutkan perjalanan. Masih dengan track berbatu, 4 jam perjalanan menuju Lembah Kijang harus kami nikmati. Setibanya di Lembah Kijang, kami segera mendirikan 5 tenda yang kami bawa, kemudian menyiapkan masakan untuk makan siang. Setelahnya, kami masih punya banyak waktu hingga nanti malam, untuk beristirahat guna memulihkan stamina. Jujur saja, tanjakan dan kerasnya jalur membuat kami sangat lelah, serta kedua kaki yang terasa mau copot.


(dari depan ke belakang) Anam, Teguh dan Eric berfoto di Pos Pondokan

Sabtu, 17 Agustus 2013
This is the day! Kami bangun dini hari dengan semangat berlipat-lipat. Karena inilah tujuan utama kami di pendakian kali ini, melaksanakan upacara peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-68 di Gunung Welirang. Kami mulai berangkat summit attack pukul 02.25 WIB, menyusuri jalur yang kami lalui siang tadi menuju Pos Pondokan kemudian tinggal mengikuti jalur menuju puncak Welirang yang tidak begitu sulit ditemukan, karena jalur ini biasa dilewati para penambang sehingga cukup lebar. Track berupa jalan tanah, setelahnya kembali berupa jalan berbatu yang sudah menjadi ciri khas Arjuno-Welirang. Mental dan fisik kami kembali diuji disini, karena jalan berkelok seakan tak berujung. Untuk menambah semangat, berulang kali kami teriakkan “Semangat 17 Agustus..!!”. Perjalanan selama 2,5 jam kami sejenak terhenti di sebuah pelataran dengan hamparan bunga edelweiss-nya, masih sekitar satu jam lagi menuju puncak. Kami memutuskan untuk beristirahat disini, shalat Shubuh, kemudian menyantap bekal sarapan yang kami bawa. Beberapa saat kemudian, pemandangan indah tersaji di hadapan kami, Mentari 17 Agustus!

Menunggu sunrise

Detik-detik Mentari 17 Agustus

Muchlis dan Lia berfoto dengan latar belakang sunrise

Setelah berfoto untuk mendokumentasikan keindahan yang baru saja kami saksikan, segera kami bergegas melanjutkan sisa perjalanan menuju puncak.Track kali ini relatif lebih mudah, minim tanjakan. Pemandangan di sekeliling yang sangat indah membuat kami begitu menikmati perjalanan, hingga menjejakkan kaki di puncak Welirang, sekitar pukul 06.45 WIB.

Kawah Gunung Welirang

Foto bersama di Puncak Welirang

Kami tak bisa berlama-lama berada di puncak, karena aroma belerang yang sangat menyengat dapat membuat kami sesak napas.Hanya berfoto selama 10 menit, setelah itu turun mencari areal yang cukup luas di lereng Welirang untuk melaksanakan upacara. Karena upacara di alam menjadi pengalaman pertama bagi kami semua, butuh waktu beberapa jam untuk simulasi. Dan akhirnya pukul 9.30 WIB upacara dilaksanakan.Sederhana, namun tak sedikitpun mengurangi rasa khidmat. Rasa bangga yang teramat dalam menancap di dada kami, saya sendiri pun sempat menangis terharu ketika menyanyikan lagu Indonesia Raya dan pembacaan proklamasi.

Suasana khidmat dalam upacara peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-68

Sesaat setelah pengibaran bendera

Pembacaan proklamasi kemerdekaan

Setelah upacara selesai, kami segera kembali ke Lembah Kijang. Waktu tempuh saat turun memang selalu tak selama waktu tempuh saat naik, 2 jam kami sudah tiba kembali di Lembah Kijang. Sangat lelah, namun semangat kami belum habis. Perjalanan besok tak kalah beratnya dibandingkan hari ini, masih ada Puncak Arjuno dengan track yang lebih sulit.

Minggu, 18 Agustus 2013
Dinginnya Lembah Kijang membangunkan saya dan teman-teman, saatnya summit attack Arjuno! Tidak seperti kemarin, kali ini kami hanya berangkat bertiga belas. Anggrek memilih untuk menunggu di dalam tenda karena masih merasa kelelahan akibat perjalanan kemarin. Teguh pun memutuskan untuk menemaninya disana.Semangat saya dan teman-teman masih sama seperti kemarin, track dengan kontur tanah dan menanjak kembali kami lahap. Tiba di sebuah tempat datar di sebelah batu besar kami kemudian berhenti untuk shalat shubuh, kemudian sarapan. Setelah itu, melanjutkan perjalanan, berharap ketika matahari terbit kami sudah sampai di puncak.Ternyata matahari lebih dulu terbit ketika kami masih di tengah-tengah perjalanan. Kami pun sejenak berhenti untuk mendokumentasikannya. Keren! Tidak kalah indah dengan sunrise kemarin.

Zaka berfoto dengan latar belakang sunrise

Setelah puas berfoto, kami segera memompa semangat kembali menuju puncak. Sudah dekat, karena dari situ saya sudah bisa melihat pasar Dieng, sebuah pelataran di bawah puncak Arjuno yang ditandai dengan adanya makam-makam kuno.Di pasar dieng kami menjumpai beberapa rombongan pendaki yang bermalam disana, sekitar 4-5 tenda.Hanya 20 menit dari pasar dieng, akhirnya kami sampai di puncak.Seketika saya teriakkan pada teman-teman, “Arjuno-Welirang tuntas!” dengan penuh semangat. Satu persatu kami bersujud sebagai rasa syukur, telah diijinkan menginjakkan kaki di satu dari sekian titik tertinggi di tanah air, terlebih lagi di momen HUT Kemerdekaan RI. Setelahnya kami memuaskan diri dengan berfoto.

 
Bersantai di Puncak Arjuno

Puncak yang kemarin kami daki, Welirang!

Foto bersama sebelum turun

Pukul 07.30 WIB kami segera turun kembali ke Lembah Kijang, tentunya dengan rasa puas di dalam diri masing-masing. Di pasar Dieng kami berhenti sejenak untuk menghabiskan sisa bekal. Pukul 11.00 WIB kami sudah berada di Lembah Kijang, dan menyempatkan untuk berfoto sejenak.

Berfoto di Lembah Kijang dengan latar belakang Gunung Arjuno yang begitu gagah

Kami kembali ke tenda dengan perasaan puas, senang, serta bangga yang bercampu jadi satu saat itu. Namun tak dipungkiri juga, kondisi badan begitu lelah, sehingga kami tertidur selama kurang lebih 2 jam. Setelah bangun dan shalat dhuhur, kami segera menyiapkan masakan untuk makan siang. Sisa logistik yang ada kami jadikan menu makan yang begitu nikmat. Begitu selesai menyantap makan siang, kami segera packing dan bersiap untuk turun kembali ke basecamp. Entah karena kondisi badan terlampau letih atau terlalu santai, kami baru turun pukul 16.30 WIB. Saya berpikir, sudah pasti sampai di basecamp malam hari. Jalan yang dilalui memang tak lagi menanjak, namun ketika turun justru kaki akan menopang beban yang lebih berat, ditambah lagi dengan kondisi jalur yang berbatu serta kondisi fisik yang sudah mulai drop, lengkap sudah penderitaan yang dirasakan oleh kedua kaki kami.

Perasaaan sedikit lega ketika sudah sampai di Pos Kokopan kembali, perjalanan turun tinggal sepertiga lagi! Setelah beristirahat selama 10 menit kami segera melanjutkan perjalanan.Yang ada di pikiran kami hanya ingin cepat tiba di basecamp dan segera kembali ke Malang. Akhirnya, kami sampai juga di basecamp setelah berjalan selama 1,5 jam dari Pos Kokopan. Segera kami melapor kepada petugas bahwa kami telah turun. Namun, keinginan kami untuk segera kembali ke Malang harus tertunda beberapa jam karena Anggrek yang drop sejak dari Lembah Kijang tadi siang tiba-tiba pingsan.Kami baru bisa bertolak dari basecamp Tretes pukul 11.30 WIB dan tiba di Malang pukul 03.00 WIB.

Ditulis oleh:
Mohammad Lutfi Hidayat 

Follow Us @soratemplates