Monday, 17 August 2015

,

Dari kopi darat (kopdar) rutin Gamananta yang biasa digelar di kafe Omah Kayu, didapatkan hasil untuk membuat proyek video komunitas. Tujuannya adalah sebagai tribute, memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-70.

Untuk membuat video dari sudut pandang yang berbeda, pengurus membagi dua tim dengan dua tujuan berbeda. Tim pertama akan berkemah di Pantai Bajulmati pada 15-16 Agustus 2015, sedangkan tim kedua akan mendaki Gunung Merapi melalui jalur Selo, Boyolali. Berturut-turut, penanggung jawab skenario videografi untuk tim pertama dan tim kedua adalah Rifqy Faiza Rahman dan Cahya Wahyu Pratama. Namun dalam artikel ini, akan lebih dibahas mengenai proses dokumentasi untuk tim pertama.

Hari Pertama
Tim pertama yang akan berkemah di Pantai Bajulmati, Malang ini diikuti sekitar 12 orang. Proses dokumentasi sudah dimulai sejak berkumpul di meeting point, areal parkir Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya. Sebagian dari peserta diwawancarai satu per satu tentang tema "Mengapa Bangga Menjadi Indonesia?". Hasil dari wawancara tersebut, diselipkan dan dikombinasikan dengan hasil rekaman video lainnya selama perjalanan.

Tim ini juga berhenti di beberapa titik untuk kebutuhan shooting, sesuai dengan skenario yang dibuat oleh penanggung jawab. Akhirnya tim baru tiba di Pantai Bajulmati sekitar pukul 17.00. Sayang, saat itu sedang mendung, sehingga momen matahari terbenam (sunset) tidak terlihat sempurna.

 Sore di Pantai Bajulmati

Agenda selanjutnya setelah mendirikan tenda di bumi perkemahan Bajulmati, sisi timur pantai, adalah menyiapkan bahan masakan untuk makan malam. Menu malam itu adalah ikan yang didapatkan dari belanja di TPI (Tempat Pelelangan Ikan) Pantai Sendang Biru. Lalu dibakar dengan adanya api unggun maupun arang yang tersedia. Sangat sederhana.

Malam itu, Pantai Bajulmati cukup ramai. Banyak rombongan wisatawan yang baru mencapai kawasan pantai saat malam.

Hari Kedua
Setelah sunset tak terlihat sempurna, di hari kedua cahaya matahari pagi cukup terlihat jelas. Kuning keemasan, sebelum akhirnya tertutup awan. Namun beranjak waktu, hari kedua di Pantai Bajulmati sangat cerah.

Di hari kedua ini, tim berbagi tugas. Sebagian menyiapkan sarapan di warung warga, sebagian masih di pantai untuk keperluan dokumentasi video.

Aksi peserta sebagai bagian dari proses dokumentasi

Proses shooting pun berakhir tepat saat waktu sarapan sudah siap. Karena tidak membawa bahan masakan untuk sarapan, tim ini memanfaatkan bahan dan peralatan masak yang telah tersedia di warung. Tentu dengan memberi imbalan secukupnya sebagai ungkapan terima kasih.

Pulang
Saat hari semakin beranjak siang, setelah sarapan dan repacking, tim beranjak meninggalkan Pantai Bajulmati.

Namun, sebelum pulang ke Kota Malang, tim menyempatkan diri untuk mampir ke salah satu pantai yang berada di pesisir Jalan Lingkar Selatan (JLS) Malang. Hanya berjarak sekitar 2 km dari Bajulmati, tepatnya di Pantai Batu Bengkung.

Pantai ini termasuk baru dibuka, namun sudah mampu menyedot banyak pengunjung. Seperti saat itu, sangat banyak rombongan pengunjung yang datang ke pantai ini, baik dari Malang maupun luar kota. Mulai dari kalangan anak muda hingga keluarga.

Di sini, tim hanya singgah untuk bersantai dan menunaikan ibadah salat Duhur. Sebelum Asar, tim sudah bergerak pulang menuju kota Malang. (*)

Video lengkap dapat dilihat secara online di sini.

Artikel dan foto oleh:
Rifqy Faiza Rahman

Monday, 3 August 2015

,


April 2013 kala itu. Sejarah terukir di Gamananta. Untuk pertama kalinya, komunitas ini memiliki pemgurus tetap setelah sejak berdiri dipegang oleh ketiga pendiri. Pengurus tetap saat itu terdiri dari empat posisi, yaitu Chief Executive Officer (CEO) yang dipegang Rizky Maulana Ishaq, Chief Operation Officer (COO) yang dipegang Ike Novitasari, Executive Secretary (ES) yang dipegang Azza Hanif Harisna, dan Chief Finance Officer (CFO) yang dipegang Lita Septiani. Keempat orang ini juga dikenal dengan sebutan Executive Boards (EB), bertanggung jawab selama periode 2013-2015.

Tak terasa, dua tahun berselang, tampuk kepemimpinan komunitas sudah harus berganti. Pada 1-2 Agustus 2015 juga terukir sejarah baru, diselenggarakannya Musyawarah Anggota Gamananta (RAGAM) untuk pertama kali.

RAGAM 2015 ini memiliki sejumlah agenda penting, di antaranya pemilihan dan penetapan Executive Boards untuk periode 2015-2017, serta penetapan dan pengesahan Pedoman Dasar dan Pedoman Rumah Tangga (PD/PRT) Gamananta sebagai landasan dasar berorganisasi agar lebih terstruktur.

RAGAM 2015 kali ini bertempat di rumah salah seorang anggota Gamananta, Alfia Fauzia, di Mulyorejo, Malang.


Agenda hari pertama penuh dengan kegiatan di dalam ruangan. Dengan dua orang presidium, Fahri Affandi dan Ghazy Haidar, hari pertama ini diisi dengan pemaparan laporan pertanggungjawaban oleh EB periode sebelumnya, pembahasan dan penetapan PD/PRT komunitas, penjaringan dan penetapan kandidat EB baru, dan ditutup dengan workshop singkat mengenai travel writing. Dari sekian agenda di hari pertama, pembahasan PD/PRT mendapatkan atensi lebih dan alot karena berkaitan dengan pedoman dasar komunitas. Tujuannya tak lain memberikan kemudahan sistem dalam komunitas itu sendiri.

Bahkan pembahasan sempat ditunda karena masih belum mencapai kata sepakat, khususnya tentang komposisi Majelis Pengawas. Yang awalnya ditulis sebanyak tiga orang, dengan komposisi dua orang dari EB sebelumnya, dan sisanya merupakan slot untuk salah satu Commissioner. Lalu di hari kedua disepakati bahwa Majelis Pengawas hanya terdiri dari dua orang saja. Antara Commissioner dan EB sebelumnya masing-masing mendapat jatah satu orang.

Setelah melalui musyawarah yang cukup alot, akhirnya ditetapkan EB dan Majelis Pengawas (MP) Gamananta periode 2015-2017 sebagai berikut.

 Prosesi simbolis serah terima jabatan
antara CEO periode 2013-2015 kepada CEO periode 2015-2017

Majelis Pengawas
Rifqy Faiza Rahman
Rizky Maulana Ishaq

Executive Boards
CEO: Jauhar Syauqi
COO: Steven Rendra
ES: Anggraeni Ayu Saputri
CFO: Ghazy Haidar

Pada hari kedua, agenda RAGAM lebih santai. Yaitu jalan-jalan santai ke wisata Coban Glotak, Wagir, sekitar satu jam perjalanan dari lokasi RAGAM.

Kegiatan tersebut tidak hanya sekadar jalan-jalan biasa. Karena Rifqy, selaku pemateri workshop travel writing semalam menantang peserta untuk menuliskan perjalanan dan pengalaman saat trekking ke Coban Glotak. Peserta diminta menuliskan pengalamannya sepulang dari Coban Glotak secara singkat dalam waktu setengah jam. Rendra dan Kurniawan mendapatkan apresiasi dari panitia karena terpilih sebagai cerita terbaik di antara peserta RAGAM lainnya.

 Trekking santai ke Coban Glotak, Wagir

Hingga dua tahun ke depan, di bawah kepengurusan baru, Gamananta diharapkan berkembang lebih baik dari sebelumnya. Gamananta menantikan kiprah dan kontribusi dari anggota untuk memajukan komunitas tercinta ini.


 Artikel dan foto oleh:
Rifqy Faiza Rahman

Thursday, 16 April 2015

,
Nasi Goreng Kimcil (kanan) dan Black Burger Go-Song (kiri)

Tulisan oleh: Kurniawan Eko
Foto oleh: Rifqy Faiza Rahman

Hunting kuliner di Malang memang tidak ada matinya. Kalau dikumpulkan bisa dibuat tulisan yang mengecap lidah dalam bentuk buku. Pada hari Kamis, 26 Maret 2015 kami mendapatkan undangan dari Hotel Horison Ultima Malang untuk launching kuliner terbaru mereka. Namanya cukup unik: Nasi Goreng Kimcil & Black Burger Go-Song. Karena baru rilis, dan dengar dari teman kalau menu tersebut enak, jadilah kami budal icip-icip ke sana.

Pagi masih cukup hangat dan hembusan angin yang cukup sejuk mengantar kami menuju vertical lounge restaurant Hotel Horison Ultima Malang di lantai 2. Suasana masih sepi karena ternyata kami adalah undangan yang pertama datang. Di beberapa sudut terlihat beberapa karyawan dan chef masih mempersiapkan untuk kesempurnaan acara. Sedikit cerita, vertical lounge yang didapuk sebagai venue acara launching memiliki suasana perpaduan homy dan kitchen-centered design dengan pemandangan teduh taman dan kolam renang.

Setelah cukup lama menunggu, acara baru dimulai pada pukul11.45. Opening session dari Executive Chef dan F&B manager yang mengalamatkan dengan jelas kuliner yang bakal diluncurkan. Ngomong-ngomong, selama menunggu kami disuguhi signature drink Hotel Horison, jus sawi.  Kenapa jus sawi? Pak Imam Hanafi, F&B manager, menjelaskan tujuannya untuk memancing rasa lapar.  Bahan utamanya yang pasti sawi dan orange. Menurutnya, minuman ini merupakan welcome drink untuk semua tamu yang check-in di Hotel Horison. Dan pastinya setelah mencicipi jus sawi tersebut, well, it's most likely an enegizing appetizer. Strong smell and breeze in the mouth. Rasanya nendang!



Executive Chef Andiko memberikan sambutan

Sebelumnya dari teman yang kerja di tempat ini, infonya porsi Nasi Goreng Kimcil  untuk 5 orang dengan variasi 3 level pedas. Mantap! Kalau Black Burger Go-Song beratnya 1,5 kg berdiameter 20 cm dan porsinya untuk 4 orang. Puas juga sama kuliner baru ini, selain memang karena kelaparan.


Begitu makanannya datang, penampilannya menggoda sekali. Yang pertama dicicipi: Black Burger Go-Song. Karena ukurannya yang besar, perlu kehatian-hatian untuk memotongnya jadi empat bagian. Tapi jika ingin langsung dimakan utuh, silakan dicoba sendiri. Begitu masuk mulut terasa sekali lembutnya daging ham yang disiram black pepper sauce. Sekali gigitan terasa sekali bahan bercampur padu dengan baik makyus di lidah pokoknya. Sedikit berbeda dengan burger kebanyakan, ketika dimakan tidak menimbulkan rasa "lekat" di mulut dan tenggorokan. Black pepper sauce-nya pedas dan gurih dengan taburan keju parut. Rasa sausnya lebih mendominasi tetapi memang sangat klop dipadukan dengan isi bahan Black Burger Go-Song ini. Executive Chef, Chef Andiko, mengatakan warna hitam pada roti bukan berasal dari pewarna makanan siap saji atau sengaja dibuat gosong, tapi berasal dari tinta cumi. Tapi memang ide originalnya dari pengalaman roti yang kelamaan dipanggang terus gosong.



Imam Hanafi, F & B Manager Hotel Horison Ultima Malang
memotongkan burgernya untuk kami

Tak berselang lama, giliran saatnya mencoba menu selanjutnya. Jus sawi yang sebelumnya, memang ampuh banget memancing rasa lapar. Dalam wadah layah bata dengan kesan vintage, Nasi Goreng Kimcil cukup penuh dengan berbagai topping. Ada telur dadar suwar-suwir, tahu goreng, tempe goreng, selada, wortel dan tomat. Rasa telur dadarnya gurih, tidak seperti dalam kebanyakan nasi goreng di tempat lain. Tahu dan tempe gorengnya pun cukup pas disajikan sebagai pelengkap. Untuk nasi gorengnya sendiri mengangkat rasa nasi goreng rumahan namun berkelas dalam penyajiannya. Bumbu terasa mild di mulut dan greget pedasnya sudah dapet. Salute! Sekadar info, ide penamaan nasi goreng kimcil itu ingin mengubah paradigma negatif masyarakat tentang kata kimcil. Makanya dibuat nama masakan yang unik tapi ada kepanjangannya: Kreasi Indah Masakan Chef Internasional.

Secara keseluruhan, it's highly recommended to try. Kalau dilihat dari porsinya, dua menu andalan baru Hotel Horison ini menyasar segmen komunitas, kongkow & keluarga. Harga relatif terjangkau bagi semua kalangan. Melihat tempat dan rasa yang ditawarkan, harga cukup masuk akal.  


Informasi Menu:

Nasi Goreng Kimcil – Rp 85.000++
Satu porsi untuk 5 orang, free Es Teh 1 pitcher
Level pedas: 1-Hot; 2-Extra Hot; 3-Super Hot
Black Burger Go-Song – Rp 110.000++
Satu porsi untuk 4 orang, free Es Teh 1 pitcher
Dimensi: Berat 1,5 kg; Tinggi 15 cm; Diameter 20 cm
HOTEL HORISON ULTIMA MALANGGreen Boulevard No. 2, Araya, Kota Malang
Phone: +62 341 484 777
Fax: +62 341 480 339
Reservation: rsv.malang@horisonultimahotels.com
Website: ultima.horison-group.com/malang
Twitter: @HorisonMalang
Facebook: Horison Ultima Malang

Wednesday, 11 March 2015

,

 - PENGUMUMAN / ANNOUNCEMENT -

1. Kegiatan ARISAN akan dimulai pertama kali pada Minggu, 15 Maret 2015. Waktu dan tempat menyesuaikan gelaran kopi darat rutin.Ketentuan ARISAN adalah sebagai berikut:
a. Membayar Rp 10.000 per minggu;
b. Pengocokan (kopyokan) dilakukan tiap minggu;
c. Jika telat membayar, didenda Rp 5.000 per minggu;
d. Setiap peserta diperbolehkan mengikuti dua putaran (dua nomor);
e. Bagi peserta yang mendapatkan ARISAN, akan dipotong 10% untuk dimasukkan ke kas Gamananta;
f. Bagi yang belum dan ingin mengikuti arisan, silakan segera bergabung paling lambat Sabtu, 14 maret 2015 pukul 12.00 WIB dan konfirmasi ke koordinator ARISAN Ibu Anggraeni Ayu Saputri (0896 881 600 35).

2. Sehubungan dengan akan diselenggarakannya event HARLAH MI AL IHSAAN pada hari Sabtu, tanggal 28 Maret 2015, yang akan dimeriahkan dengan Lomba Mewarnai dan Lomba Fashion Show, panitia HARLAH MI AL IHSAAN mengajak teman-teman Gamananta untuk bersedia menjadi bagian tim juri pada lomba tersebut. Silakan konfirmasi ke Ibu Azza Hanif Harisna (0857 314 336 71). Mari dukung dan sukseskan HARLAH MI AL IHSAAN!

3. Sebagai agenda refreshing di tengah penatnya proyek dan kegiatan akademik maupun non akademik, Gamananta kembali menggelar #OpenTrip Pendakian Gunung Arjuno dan Gunung Welirang (opsional) via jalur Tretes-Pasuruan, pada tanggal 2 (malam) - 5 April 2015. Itinerary trip secara garis besar (rincian share cost menyusul) silakan klik link berikut: https://docs.google.com/file/d/0B_HhMnL-1b6bcTVXdWZQOVZ0QTA/edit . Bagi yang berminat dan untuk info lebih lanjut, silakan konfirmasi ke kontak terlampir dalam poster di atas. Kuota terbatas!

Sekian, terima kasih. Ji! Ro! Lu! BUDAL! :)

Wednesday, 25 February 2015

,
 Bintang malam di Ranu Kumbolo (Foto oleh: Rifqy Faiza Rahman

Bintang di Langit Ranu Kumbolo
Sekitar pukul 16.30, kami sudah tiba di Ranu Kumbolo. Suasana cukup ramai saat itu. Segera saja tenda-tenda didirikan dan merapikan perlengkapan masing-masing. Sebagian di antara kami ada yang memilih melanjutkan tidur, sisanya menyiapkan makan malam.

Beranjak gelap, angin mulai berembus menusuk tulang. Saya, bersama Rizky dan Ade masih memasak bersama. Tenda-tenda yang dihuni anggota tim pendakian yang lain senyap. Sepertinya mereka sudah terlelap. Maklum, sebagian besar dari mereka baru turun dari puncak. Sedangkan saya, masih segar karena memilih menemani Anggrek turun ke Kalimati.

Usai makan malam, saya sebenarnya ingin mengajak mereka keluar tenda melihat bintang. Ya, malam itu bintang bertaburan di langit Ranu Kumbolo. Sangat indah. Namun, melihat kondisi mereka yang sepertinya sangat lelah, saya memutuskan untuk memotret sendiri.


Bintang di atas Tanjakan Cinta (Foto oleh: Rifqy Faiza Rahman)

Saya berdiri di sebuah titik, di mana pandangan ke arah danau begitu lapang. Walau agak semarak karena banyak lalu lalang pendaki dan tenda yang berjejer rapat. Di balik saya, bintang tak kalah semaraknya di atas Tanjakan Cinta yang terlihat gulita. Tak terlihat pendaki yang baru turun dari Kalimati selarut ini. Yang jelas, suasana gemerlapnya bintang malam ini menyamai suasana kala pendakian bulan Oktober dan November 2012. Sayang, saat itu saya melewatkan momen merekam bintang karena keterbatasan kamera. Kali ini, kesempatan itu ada.

Puas dengan perburuan memotre bintang, saya kembali ke tenda. Terlihat Rizky dan Ade sudah begitu nyenyak dalam tidurnya. Saya segera berbaring, merapatkan posisi di antara mereka. Bukan tanpa alasan, supaya terasa hangat. Saya semakin meringkuk di dalam sleeping bag, menyusul mereka ke alam mimpi.

Keindahan Pagi Sebelum Pulang
Ketika suhu udara dirasa semakin menusuk, itu berarti sebentar lagi Subuh akan datang. Tapi, demi menyambut matahari terbit, kami rela bangun dari hangatnya sleeping bag. Sembari menggigil, kami menuju tepi danau untuk mengambil air wudu.


Sunrise Ranu Kumbolo (Foto oleh: Rifqy Faiza Rahman)

Usai salat Subuh, kami bergegas menyiapkan pose terbaik dengan latar belakang matahari terbit. Secangkir teh atau kopi hangat menemani kami menyambut pagi. Pagi itu langit Ranu Kumbolo seperti keemasan, dengan kabut-kabut tipis yang masih melayang di permukaan danau. Keindahan yang akan terlewatkan jika memilih meneruskan tidur hingga siang.

Puas menikmati kehangatan matahari terbit, kami mulai menyiapkan sarapan. Entah karena malas atau karena masih tersisa lelah sedari puncak kemarin, kami benar-benar betah di Ranu Kumbolo. Bahkan hingga selesai sarapan pun tak ada yang berkeinginan segera berkemas dan beranjak pulang. Benar-benar tak ingin meninggalkan Ranu Kumbolo secepatnya.




Bersantai sejenak setelah menyaksikan matahari terbit (Foto oleh: Rifqy Faiza Rahman)

Baru tepat jelang tengah hari, kami berkemas. Agak bermalas-malasan. Berat rasanya meskipun ini hari terakhir di Semeru dan harus turun ke Ranu Pani. Namun, kami memang harus pulang. Masih banyak kegiatan yang harus dilakukan setibanya kembali di peradaban.

Sekitar pukul 12.30, seusai foto bersama, kami mulai berjalan meninggalkan Ranu Kumbolo yang airnya bergemericik tenang. Perjalanan pulang pun dilakoni dengan santai tak terburu-buru. Waktu tempuh sekitar 3 jam perjalanan diperlukan untuk tiba di Ranu Pani kembali.

Secara umum, pendakian berlangsung lancar. Sekalipun tidak seluruhnya berdiri di ppuncak Mahameru, tetapi yang terpenting adalah kami bisa pulang dengan selamat. Setelah tiga hari dua malam bergelut di tengah alam raya Semeru, kini kami kembali menjalani kehidupan masing-masing. (end)

,
Puncak Mahameru (Foto oleh: Ugo Nugroho)

(Cerita selanjutnya ditulis berdasarkan pengalaman dan dari sudut pandang Uki, salah seorang anggota tim pendakian Gamananta)

Summit Attack
Sebenarnya, makan malam sudah siap sedari pukul 21.00. Namun, karena sudah telanjur capek akibat tiba di Kalimati terlalu sore, rasa kantuk pun mengalahkan keinginan untuk makan. Hidangan yang semula hangat pun mendingin karena tak segera dimakan.

Tiba-tiba, saya tersentak kaget ketika waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Berarti sudah sekitar dua jam kami tertidur. Langsung saja, saya segera membangunkan teman-teman dan bergegas menyantap makan malam. Kami makan di antara rasa kantuk dan rasa ingin segera berjalan ke puncak. Sebagian anggota tim sudah berkemas menyiapkan perlengkapan tempur untuk summit attack ke puncak Mahameru. Perlengkapan tempur tersebut terdiri dari jaket tebal, headlamp atau senter untuk penerangan, dan bekal konsumsi kelompok. Memang agak sedikit terlambat, tetapi masih ada waktu untuk segera berangkat.

Sejam kemudian, kami sudah siap. Sebelum berangkat, kami merapatkan barisan untuk berdoa bersama. Hening sejenak di tengah keriuhan Kalimati yang dipenuhi para pendaki yang akan ke puncak.

Ji! Ro! Lu! Budal! Jargon memekik memecah malam saat berangkat. Rombongan tim (kecuali Subhan yang terpaksa ditinggal di tenda karena kakinya sakit) dipimpin oleh Rizky sebagai leader dan Rifqy di belakang menjadi sweeper.

Trek ke puncak kali ini lewat jalur baru, persis di belakang shelter Kalimati. Karena jalur ke Arcopodo telah rusak akibat longsor. Perjalanan dimulai dengan trek berkerikil landai, namun memasuki hutan semakin menanjak. Ini baru benar-benar mendaki dan dapat dibilang nyaris tanpa bonus. Setelah sempat salah jalur karena terlalu mengekor rombongan pendaki yang mengular di depan kami, kami segera berbelok arah ke kiri. Memasuki kawasan hutan Arcopodo yang tanahnya penuh debu beterbangan.

Lebatnya hutan Arcopodo seakan mengisyaratkan kerindangan dan ketentraman kehidupan di sana. Langkah demi langkah terus tercipta. Bintang malam yang bersinar terang memberi arti tersendiri dalam menemani setiap hentakan jantung yang terus berpacu. Cucuran keringat seakan hilang tersapu dinginnya angin malam yang berembus kencang.

Langit malam mulai jelas terlihat, rindang pohon mulai menghilang. Area hutan telah tertinggal jauh di belakang. Kami sedang melewati Kelik, begitu banyak orang menyebutnya. Kelik merupakan perbatasan vegetasi dengan jalur berpasir dalam dan menanjak tanpa ampun. Mulai dari sini, kekuatan hati kami ditempa. Keyakinan tekad dan doa akan menjadi penentu di tengah keterbatasan fisik kami.

Beberapa langkah meninggalkan Kelik, rombongan mulai terpencar. Rifqy sudah jauh di belakang, mendampingi Anggrek yang susah payah berjalan ke puncak. Begitupun dengan Tanti, Dicky, dan Gunawan. Sementara saya dan yang lain sudah berjalan cukup jauh di depan.

Saya bersama Rendra sepakat untuk tetap berjalan bersama menuju Mahameru. Mereka berdua perlahan dengan pasti meniti langkah di atas pasir yang cukup dalam dan bebatuan labil. Langkah kaki pun semakin berat, sangat menguji tekad para pendaki. Tak sedikit pendaki yang akhirnya berhenti di tengah perjalanan, menyerah dan memilih tidak melanjutkan perjalanan ke puncak. Jalur ke puncak dinihari itu memang sangat ramai, penuh para pendaki yang akan ke puncak.

Waktu terus berlalu, saat itu sudah menunjukkan pukul 3 dinihari. Saya dan Rendra, ditambah Fandi beristirahat sebentar sambil menengok ke bawah. Deretan sorot lampu headlamp bak iring-iringan semut yang sedang mencari makanan. Makanan! Celaka, kami bertiga sudah tidak lagi membawa makanan. Beberapa camilan yang di bawa Rendra telah ludes. Rasa lapar yang melilit dapat mengalahkan kantuk yang mendera. Beruntung di tengah perjalanan kami bertemu Doni, salah seorang anggota tim pendakian yang membawa bekal kelompok. Syukurlah.

Rock! Kanan!

Berulang-ulang saya mendengar teriakan seperti itu. Yang menunjukkan adanya batu yang jatuh dari atas. Mulai dari yang sebesar genggaman hingga yang sebesar kepala. Benar benar dingin suhu di sini. Oksigen mulai menipis, udara kering menyelimuti. Keyakinan kami benar-benar diuji. Berulang kali terlintas dalam benak saya, “apakah aku sanggup melewati ini? sanggupkah aku berdiri di Mahameru? Haruskah jalanku berhenti di sini?”. Puncak memang telah terlihat, tetapi langkah yang terus merosot kian menyiutkan nyali.

Kantuk benar-benar tak tertahankan. Tanpa sadar ternyata sudah sekitar 10 menit saya terlelap. Pada posisi seperti ini sebenarnya tidak disarankan berlama-lama istirahat karena berisiko terkena hipotermia.

Siluet Rizky dan Fandy berlatar matahari terbit di Mahameru (Foto oleh: Fandy Alfizar)

Perlahan warna jingga keemasan mulai terlihat di ufuk timur. Sentuhan hangat mentari mulai terasa. Subhanallah, benar-benar indah sunrise dari lereng Mahameru ini. Sebenarnya ingin hati melihat momen ini tepat di puncak, tetapi sepertinya memang belum waktunya. Matahari yang mulai menerangi memberi semangat untuk terus melangkah.

Puncak Mahameru tinggal beberapa meter lagi. tetapi tingkat kemiringan yang semakin curam membuat kami menjadi cepat lelah dan lebih banyak istirahat. Seperti tak mungkin lagi kaki ini melangkah. Tetapi, tekad dan keinginan yang besar ampuh membuat kaki saya terus melaju dan perlahan saya berjalan sendiri meninggalkan Rendra dan Doni yang sedang beristirahat.

Pasir mulai memadat dan terdapat cerukan yang berada di sisi kanan dan kiri saya. Saya mendongakkan kepala dan melihat beberapa orang sedang duduk bersantai. Langkah demi langkah terasa semakin cepat, tanjakan pasir berubah menjadi hamparan luas yang membuat diri menjadi lepas dan ingin berteriak. Saya sudah sampai di Mahameru! Gejolak di dada tak tertahankan lagi, ingin rasanya meluapkan segala usaha yang akhirnya tak sia-sia. Teman-teman mulai menyusul, berdatangan ke puncak. Rizky adalah orang pertama dari tim kami yang berhasil tiba di puncak.

Pemandangan indah terhampar dari tempat kami berdiri. Mulai dari gugusan hutan dan bukit pegunungan Tengger, hingga garis pantai utara dan garis pantai selatan Jawa Timur terlihat. Sungguh sebuah sensasi tersendiri berada di tanah tertinggi di Pulau Jawa. Hamparan luas dengan bendera merah putih yang tertancap merupakan gambaran yang tak mungkin terlupakan dari kenangan.

Dengan membawa plakat bertuliskan “Mahameru 3676 mdpl”, saya berfoto dan mengabadikan momen yang merupakan hasil perjuangan tersebut. Selain bendera dan plakat Mahameru, kawah jonggring saloka yang sesekali berdentum juga merupakan momen langka. Setiap asap beracun dari kawah tersebut keluar, para pendaki segera berfoto dengan latar belakang asap yang membumbung.

Sebagian anggota yang sudah tiba di puncak terlebih dahulu (Foto oleh: Fandy Alfizar)

Setelah puas berfoto, kami segera bersiap turun menuju Kalimati. Baru beberapa langkah meninggalkan Mahameru, saya bertemu Tanti dan Gunawan yang masih terlihat kelelahan dan belum menggapai puncak. Sehingga, Rizky memutuskan untuk menemani mereka, sementara saya dan yang lain kembali ke kalimati.

Sesampainya di tenda, saya bertemu dengan Anggrek dan Mas Rifqy yang ternyata turun duluan sebelum mencapai puncak. Rupanya Anggrek mengalami kelelahan sehingga memilih turun. Sambil menunggu yang lain, saya melepas sepatu yang dipenuhi pasir yang masuk dan mengganti baju yang penuh dengan debu.

 Foto bersama sebelum meninggalkan Kalimati
 
Ketika tepat jelang tengah hari anggota tim pendakian sudah lengkap, kami segera berkemas. Sekitar Pukul 14.00, setelah kami mulai meninggalkan Kalimati untuk turun menuju Ranu Kumbolo. Kami akan menginap semalam lagi di sana. Walau masih terasa ngantuk dan lelah, kami tidak ingin terlalu sore tiba di Ranu Kumbolo. Supaya ada waktu lebih untuk bersantai dan beristirahat memulihkan tenaga. Juga agar kami lebih menikmati suasana Ranu Kumbolo.

(Bersambung)
,

Setelah cukup berhasil menggelar pendakian bersama ke Gunung Semeru pada tahun 2013, kami kembali menyelenggarakannya pada tahun 2014. Tepatnya, tanggal 29-31 Mei 2014. Tak seperti pendakian tahun 2013, yang diikuti sebanyak 29 orang, kali ini peserta dibatasi maksimal 15 orang. Konfigurasi peserta terdiri dari 13 laki-laki dan sisanya perempuan. Saya bersama Rizky, Caca, dan Jeanni pergi ke Ranu Pani untuk memastikan sekaligus memesan kuota pendakian. Sayang, dua nama terakhir tersebut tidak ikut dalam pendakian.

Adapun peserta pendakian ke Gunung Semeru kali ini adalah sebagai berikut:

Rizky Maulana (Jombang)
Jauhar Syauqi (Kudus)
Rifqy Faiza Rahman (Pacitan)
Romadhoni Hidayatullah (Sidoarjo)
Ahmad Subhan (Mojokerto)
Gunawan (Mojokerto)
Dicky Pratama (Medan)
Fandy Alfizar (Surabaya)
Steven Rendra (Sidoarjo)
Ade (Lampung)
Anggraeni Ayu Saputri (Mojokerto)
Kustanti (Lamongan)
Latif Munawar (Solo)
Muhammad Isnain (Solo)
Nugroho (Solo)

Menuju Tumpang
Setelah rombongan asal Solo (Latif, Isnain, dan Nugroho) tiba di meeting point gazebo Universitas Brawijaya, pukul 23.00 kami berangkat ke Tumpang dengan sepeda motor.

Perjalanan santai, tidak terburu-buru. Karenanya kami sempat berteduh di sebuah masjid di Pakis ketika hujan sempat mengguyur. Yang unik, ketika memasuki Tumpang malah kering kerontang. Seolah-olah hujan jarang mampir di sana.

Saya yang berada di posisi paling depan, memandu tim ke arah Pasar Tumpang. Tepatnya ke tempat penitipan sepeda motor milik warga setempat. Atas instruksi Mbak Nur (pemilik basecamp pendaki Semeru di Pasar Tumpang), kami diarahkan untuk menitipkan motor di sana.

Sayang, saat itu Mbak Nur tidak berada di rumahnya. Sehingga, kami memilih untuk tidur di emperan kios Pasar Tumpang. Selain menghemat biaya menginap, toh yang penting kami bisa tidur memulihkan energi. Saya kadang-kadang terbangun ketika mendengar suara derap kaki pendaki yang baru pulang dari Semeru atau baru datang ke Tumpang. Bulan Mei ini memang lagi ramai pendakian. Maklum, baru dibuka sejak 5 Mei 2014.

Menuju Ranu Pani

Berdasarkan informasi dari Mbak Nur dan beberapa sopir angkot, saat itu truk, pikap maupun jip tidak diperkenankan berangkat dari Pasar Tumpang. Mereka wajib antri di rest area Gubug Klakah yang dijadikan sebagai terminal. Sehingga, dari Pasar Tumpang para pendaki wajib sewa angkot hijau trayek Pasar Tumpang-Gubug Klakah terlebih dahulu. Kecuali, bagi yang membawa kendaraan pribadi masih diperbolehkan langsung ke Ranu Pani.

Persis sebelum azan Subuh berkumandang, kami memutuskan menyewa dua angkot untuk mengantarkan kami ke Gubug Klakah. Setibanya di sana, sudah tersedia truk yang menunggu pendaki untuk diangkut ke Ranu Pani. Beruntung, kami berjumlah 15 orang. Pas sekali dengan kuota minimum dalam satu truk Sehingga, dalam satu truk berisi tim kami sendiri. Setelah salat Subuh di musala, kami segera naik truk dan berangkat ke Ranu Pani.

Sepanjang perjalanan, kami dibuat terkesima dengan hamparan pemandangan yang tersaji. Utamanya ketika mulai memasuki kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Hutan tropis dan ladang warga Tengger di lereng bukit memanjakan mata. Memasuki Ngadas, tampak Gunung Semeru menjulang gagah. Kami semakin antusias, tak sabar ingin segera mendaki.

Kami semakin tak bisa berkata-kata ketika melewati Jemplang. Persimpangan utama menuju Gunung Bromo dan Ranu Pani. Panorama bukit teletubbies dan lautan kabut melayang rendah membuat mata kami tak bisa berpaling. Sebelum akhirnya menghilang ketika kami mendekati gapura desa Ranu Pani, Senduro, Lumajang.

Setelah hampir 2 jam perjalanan, kami tiba di Ranu Pani. Karena truk tidak boleh naik hingga pos perizinan, kami berjalan kaki ke sana.

Karena kami datang awal, pos perizinan pun masih tutup. Kami mengisi waktu dengan sarapan terlebih dahulu di sebuah warung. Persis keluar dari warung, saya melihat Pak Ningot (petugas), hendak berjalan menuju loket. Saya segera menghampiri dan mengkonfirmasi pemesanan kuota atas nama saya. Diberikannya dua lembar Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi (SIMAKSI) untuk diisi lengkap sebelum diserahkan ke loket.

Tahapan administrasi dimulai dari menyerahkan formulir checklist perlengkapan pendakian dan akan diperiksa oleh volunteer dari Gimbal Alas. Setelah mendapatkan stempel tanda perlengkapan memenuhi persyaratan, kami kembali ke loket untuk antri pembayaran. Beruntung kami datang awal, sehingga antrian tidak terlalu panjang.

Tancap Gas Menuju Kalimati
Beres mengurus administrasi yang agak ruwet, kami pun memulai pendakian sekitar pukul 09.30. Karena program pendakian kami 3 hari 2 malam, maka target hari ini adalah langsung berjalan sampai Kalimati. Terasa jauh, memang. Namun harus dilakukan demi bersantai ria di Ranu Kumbolo sewaktu pulang.

Dengan semangat, kami berjalan meniti jalan setapak jalur Watu Rejeng.  Rizky dan sebagian pendaki laki-laki berjalan cukup jauh di depan. Sedangkan saya tetap setia sebagai sweeper. Memastikan kelengkapan rombongan tidak ada yang tercecer di belakang. Pos demi pos dilewati. Kadang-kadang kami berhenti seperlunya. Tepat 4 jam berjalan dari Ranu Pani, kami sudah sampai di Ranu Kumbolo.

Setelah istirahat secukupnya, kami melanjutkan perjalanan. Menapak Tanjakan Cinta yang cukup menguras tenaga. Ditambah matahari bersinar terik di atas ubun-ubun. Panas terik berlanjut kala melalui sabana Oro-oro Ombo hingga pintu hutan Cemoro Kandang.

Sabana Oro-oro Ombo (Foto: Rifqy Faiza Rahman)


Selepas pintu hutan, sebagian besar anggota tim laki-laki sepakat untuk berjalan lebih cepat. Tujuannya, agar tidak terlalu malam mengambil air di Sumber Mani. Mereka dipimpin oleh Rizky. Sementara saya, tetap sebagai sweeper. Berjalan bersama Gunawan, Anggrek, Kustanti, dan Dicky. Sesekali langkah kami disalip oleh rombongan pendaki yang dikawal oleh Pak Ningot. Laju sekali langkah mereka.

Napas lega menyelimuti ketika tanjakan Cemoro Kandang berakhir di Jambangan. Sebuah tempat di ketinggian 2.600 mdpl. Dari sini, Gunung Semeru jelas terlihat. Pohon-pohon berbunga edelweiss juga mulai terlihat meskipun jarang. Saya, Kustanti, Anggrek, Gunawan dan Dicky adalah yang terakhir tiba di Jambangan. Karena waktu sudah menunjukkan pukul 16.30, kami segera menunaikan salat Asar. Setengah jam kemudian, kami melanjutkan perjalanan ke Kalimati.

Mendekati shelter Kalimati yang berketinggian 2.700 mdpl, langit mulai gelap. Beruntung, kami cepat menemukan rombongan kami yang sudah datang duluan. Ternyata, Rizky dan Rendra yang bertugas mengambil air belum kembali. Rupanya terjadi antrian panjang di Sumber Mani.

Menyadari bahwa pasokan air kami terbatas dan banyak botol kosong yang tak sempat dibawa Rizky dan Rendra, kami memutuskan membeli 5 botol air besar ke porter. Sebuah keputusan masuk akal mengingat efisiensi waktu daripada kembali lagi ke Sumber Mani.

Waktu berlalu begitu cepat. Saya menginstruksikan teman-teman yang lain untuk istirahat terlebih dahulu. Nanti akan dibangunkan saat makan malam tiba. Beberapa teman membantu menyiapkan masakan, seperti Rizky, Kustanti, Anggrek. Rasa kantuk berulang kali menyergap.

(Bersambung)

Saturday, 21 February 2015

,

Selain program sosial, program Heritage juga menjadi prioritas Gamananta di tahun 2015. Karena heritage memiliki makna yang sangat luas, Gamananta mempersempit fokus agar bisa dijalankan. Fokus heritage yang akan dikerjakan adalah mengenai kuliner khas dan bangunan bersejarah (cagar budaya) Malang.
,

Program sosial merupakan salah satu program prioritas komunitas Gamananta pada tahun 2015 ini. Yang menjadi fokus adalah bidang pendidikan. Belajar dari pengalaman pada pertengahan 2014 lalu, Gamananta sepakat untuk melanjutkan aksi di bidang pendidikan. Sasarannya masih tetap, yaitu para siswa-siswi Madrasah Ibtidaiyah (MI) Al Ihsaan, Lawang, Kabupaten Malang.

Setelah tahun lalu pernah berkesempatan menggelar kelas motivasi dalam satu hari, dan menjadi bagian kepanitiaan dalam Hari Lahir (Harlah) Yayasan Al Ihsaan, Gamananta akan menambah beberapa kegiatan. Antara lain sebagai berikut:
  1. Pelatihan vertikultur sederhana, dengan penanggung jawab saudara Fahriansyah N. Affandi. Gamananta ingin mengajarkan para siswa-siswi MI Al Ihsaan tentang cara berkebun sederhana, salah satu teknik yang cukup mudah yaitu vertikultur.
  2. Peringatan hari-hari nasional. Dalam sebagian perayaan hari nasional, Gamananta ingin memperingatinya bersama para siswa-siswi MI Al Ihsaan.
  3. Darmawisata Sejarah, dengan penanggung jawab saudari Anita Wijayanti. Gamananta berniat mengajak beberapa perwakilan dari para siswa-siswi MI Al Ihsaan untuk berdarmawisata sejarah. Tujuannya antara lain Candi Singhasari agar mereka dapat belajar sejarah kejayaan Malang di masa lampau.
  4. Menggalakkan kembali ekstrakulikuler, antara lain seperti tari maupun pramuka. Salah satu ekstrakulikuler akan digawangi oleh Ahmad Fakhruddin Busthomy.
  5. Kelas profesi dan konseling, dengan penanggung jawab Citra C. Aprilia. Dalam kegiatan kelas profesi, akan diadakan pelatihan singkat bagi para anggota sebelum menjadi pengajar siswa-siswi MI Al Ihsaan. Sedangkan kegiatan konseling ditujukan kepada para siswa-siswi kelas 6 agar mereka diharapkan untuk tetap semangat belajar menghadapi Ujian Nasional (Unas) dan melanjutkan ke jenjang sekolah menengah.
Untuk keberlangsungan program sosial di bidang pendidikan ini, Gamananta tentu juga mengharapkan uluran angan dan tangan, hingga moral dan materi agar bisa berjalan lancar. Baik bagi anggota maupun non anggota yang memiliki kepedulian di dunia pendidikan anak, maka silakan segera menghubungi pengurus dan tim melalui komentar di bawah ini, atau kontak di media sosial yang dimiliki Gamananta (Facebook Group, Facebook Fan Page, Twitter). Kami tunggu kontribusinya! #AyoBudal!

Follow Us @soratemplates